Ditawar atau dibayar? kamu harus tahu ini

“Kang, mau nanya” Saya mengawali pembicaraan.
“Saya beli kopi di warung. Niat saya tentu membeli dagangan kopinya. Tapi misalnya saya tambahin niat gini :selain membeli, saya juga berniat memberi sebagian rejeki yg saya dapat kepada dia dengan jalan membeli kopi dagangannya.”
“Itu kira2 gimana? Apakah dapat pahala sedekah? karena toh yg dibayar ya seharga kopinya Rp.2.500. Tidak dilebihkan”

Kang Jepi diem sebentar, nyeruput kopi. Sepertinya sedang menyusun kata-kata.
“Konsep sederhana sedekah dalam jual beli. Ketika Saudara membeli barang dari seorang penjual, Saudara tidak melakukan penawaran sama sekali, maka itulah shadaqahnya. Tetapi ketika Saudara melakukan penawaran dan terjadilah kesepakatan harga sesuai penawaran Saudara, maka sebenarnya kita sedang menerima shadaqah dari penjual tersebut. Konsep ini menyenangkan, karena sejatinya dalam muamalah tidak boleh ada unsur paksaan.” Kang Jepi mulai menjawab.

Kanjeng Rasulullah bersabda:
“Wahai para pedagang, sesungguhnya setan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kalian dengan sedekah.”
[HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”

Dari konsep diatas bisa dikatakan bahwa dlm akad jual beli/mualamah ada tawar menawar jadi saat Saudara beli sesuatu dan tidak menawar harga dagangannya sehingga anda dianggap sedekah ke penjual. Jadi pahalanya menjadi milik si pembeli” Kang Jepi mengakhiri jawabannya.

“Alhamdulillah.. terimakasih Kang Jep.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Archives
Categories