June 2, 2011 | Posted in:Inspirasi

Nia Dj. Pulungan benar-benar beruntung. Suaminya hebat. “Pemahaman
dia akan karir, membuat saya melangkah lebih ringan untuk mengejar
karir,” kata Managing Partner PT. Ajwa Insan Prakerti, perusahaan
yang bergerak di bidang manajemen training ini.

Rhenald Kasali juga beruntung. Istrinya berkualitas. “Saya tak bisa
membayangkan kalau istri saya tak punya kecerdasan emosional. Ia
mungkin akan sering marah-marah. Bisa-bisa energi saya hanya terkuras
untuk masalah di rumah,” katanya.

Maaf, mereka tak sedang mempromosikan pasangan masing-masing.

Penelitian yang diprakarsai Institute for Social and Economic
Research, salah satu badan di University of Essex, menunjukkan karir
Anda adalah seperti apa kualitas pasangan hidup Anda. Para peneliti
itu Essex memfokuskan penelitian hanya pada pasangan yang sama-sama
berkarir, tapi menurut Rhenald juga berlaku pada pasangan yang hanya
salah satu saja berkarier.

Jadi, sejak sekarang, jangan keburu angkat topi pada bos Anda.
Rahasia sukses mereka tak jarang berada di tangan istrinya. Seperti
juga sebaliknya.

Menurut para peneliti itu, wanita karir yang memiliki motivasi kerja
tinggi menjadi teladan dalam keluarga. Bagi suaminya, mereka seperti
mesin tambahan untuk meningkatkan produktivitas kerja. Para pria ini
kemudian mendapatkan penghasilan rata-rata 10 persen lebih banyak
dibanding kelompok pria lain.

Jelaslah, pada dasarnya proses mencari pasangan sangat berpengaruh
pada potensi sukses karir seseorang. “Menurut kami, bursa pasangan
hidup dan pasar tenaga kerja ternyata memiliki hubungan yang lebih
besar dari yang kita pikirkan,” Malcolm Brynin, sosiolog yang menjadi
salah satu tim peneliti itu.

“Ketika sepasang suami-istri ditanya apa yang menarik dari pasangan
mereka dari segi faktor material, kadang-kadang jawabannya agak
mengecewakan. Tapi pada dasarnya setiap orang memang mengukur potensi
calon pasangan mereka berdasarkan tingkat pendidikan dan potensi
pendapatan mereka di masa datang,” kata Brynin.

“Inilah yang kelihatannya sangat menarik untuk pasar tenaga kerja.
Kualitas yang sama akan membuat mereka menarik sebagai pasangan
hidup,” kata Brynin. Sosiolog itu, bersama sejawatnya, ekonom Marco
Francesconi, menganalisis data dari British Household Panel Survey
yang mencakup 10.000 individu dari 5.500 keluarga antara tahun 1991
sampai 1999.

Mereka menemukan, para pria yang menikah dengan wanita yang relatif
punya karir yang bagus atau pendidikan yang lebih tinggi, memiliki
pendapatan per jam 12 persen lebih tinggi dibanding rekan mereka yang
menikahi wanita yang memiliki latar belakang pendidikan yang setara.

Tapi apakah hasil penelitian ini bisa diterapkan di semua
kondisi. “Nanti dulu, kita mesti kita mesti berhati-hati saat membaca
hasil penelitian. Apalagi penelitian sosial selalu terkait dengan
masalah konteks masyarakatnya. Tidak bisa melakukan generalisasi
begitu saja,” kata Rhenald, pria yang sering dijuluki sebagai begawan
dunia iklan di Indonesia.

Kata Rhenald, jika penelitian tersebut dilakukan di Inggris maka,
sangat mungkin hasilnya menyebutkan bahwa suami sukses pasti memiliki
istri yang cerdas atau sukses juga. “Karena umumnya wanita di sana
sebelum menikah akan memasuki labor market dulu. Sehingga ia punya
banyak pengalaman misalnya dari belajar atau saat ia bekerja,” kata
Rhenald. Sementara hal yang sama tak selalu terjadi di Indonesia.

“Kita punya nilai yang berbeda, budaya yang berbeda. Ada wanita-
wanita yang memasuki dunia pernikahan tanpa sempat banyak belajar
atau berkarir,” kata Rhenald. “Satu lagi untuk ukuran kecerdasan juga
perlu diuraikan lebih lanjut. Untuk pria Indonesia misalnya apakah
yang sukses dalam karir adalah pasti mereka yang cerdas. Saya tidak
yakin juga tuh.”

“Kecerdasan sebaiknya tidak selalu diukur dengan ukuran kecerdasan
intelijen atau akademis. Saya sendiri misalnya. Istri saya secara
akademis tidak tinggi-tinggi sekali. Tapi secara emosional, dia luar
biasa cerdas. Dia memberikan segala yang saya butuhkan. Dia
memeberikan energi positif sehingga saya dapat terus bekerja untuk
meraih sukses. Dia adalah teman diskusi dalam segala hal dan sangat
memperhatikan penampilan saya,” kata Rhenald.

“Saya tak bisa membayangkan kalau istri saya tak punya kecerdasan
emosional seperti itu. Ia mungkin akan sering marah-marah. Bisa-bisa
energi saya hanya terkuras untuk masalah di rumah,” kata Rhenald. Ia
memberi contoh lain. “Saya punya banyak teman yang memiliki istri
yang sangat cerdas dalam bidang akademis, tapi mereka ternyata
cheating. Ini bukti mereka tak punya kecerdasan emosional. Akhirnya
mereka bercerai juga tuh,” kata Rhenald.

Mengerikan, mungkin saja. Tapi para pria, jangan dulu kecewa. Karena
sesungguhnya punya pasangan hidup yang lebih cerdas juga
menguntungkan untuk wanita. Para wanita juga cenderung lebih sukses
jika mereka bersuamikan pria yang berpendidikan tinggi.

Nia misalnya. Managing Partner di PT. Ajwa Insan Prakerti, perusahaan
yang bergerak di bidang manajemen training ini juga merasakan hal
yang sama. “Bukan saya merasa bahwa suami dan saya sebegitu jago-nya
seperti yang disebut dalam penelitian itu. Tapi saya merasa karena
kami sama-sama punya karir, maka kami justru jadi bisa saling
mengerti dan akhirnya bisa saling mendukung,” kata Nia, yang pernah
menjabat sebagai General Manager Customer Care di salah satu
perusahaan telekomunikasi terkemuka.

Nia mengaku saat baru menikah, memang sempat merasakan ada persaingan
karir dengan suaminya, seorang sarjana hukum yang kini bekerja di
Departemen Dalam Negeri. “Tapi kami bisa mengarahkan persaingan itu
dalam bentuk yang positif, saling belajar dari pengalaman pasangan
dan akhirnya saling mendukung,” katanya.

Jika dikatakan bahwa suami yang cerdas akan mendukung karir suami Nia
juga merasakan hal tersebut. “Saya merasa cukup diuntungkan karena
suami saya tipe pria yang memberi keleluasaan untuk berkarir. Jadi
karena dia juga tahu dunia kerja itu seperti apa, dia tak pernah
membebani saya saat misalnya saya mesti dinas keluar kota. Pemahaman
dia akan karir, membuat saya melangkah lebih ringan untuk mengejar
karir,” kata Nia. Nah! utami widowati

Sumber: Koran Tempo

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>