May 1, 2011 | Posted in:Kisah Nyata

Cerita ini bermula dari selembar brosur lusuh yang saya temukan di kamar
mama. Sore itu, saya baru pulang kerja. Seperti biasa, setelah meletakkan
tas kerja dan barang-barang bawaan, saya langsung menuju kamar mandi untuk
mencuci kaki dan tangan, kemudian menuju kamar mama untuk menyapa mama yang
terbaring di ranjang. Sekadar informasi, sudah tiga tahun terakhir ini mama
tidak dapat berjalan. Walaupun tidak dapat berjalan, beliau masih bisa
merangkak di lantai untuk keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga sekadar
untuk menonton TV atau berbaring sejenak di sofa hitam favorit keluarga.
Tapi tiga bulan terakhir kondisinya semakin parah, sehingga mama hanya bisa
berbaring di tempat tidur.

Saya masuk ke kamar mama dan menyapa mama dengan ciuman. Mama membuka
matanya sejenak, kemudian kembali terpejam. Ketika saya menanyakan kabarnya,
beliau hanya bergumam tidak jelas sambil mengeluh capek. Saya pun duduk di
pinggir ranjang mama. Melihat mama yang kelelahan, saya hanya bisa terdiam
tanpa dapat melakukan apapun. Tiba-tiba mama minta dikipasi. Karena tidak
ada kipas, saya menyambar selembar kertas lusuh yang tergeletak di atas
ranjang mama. Saya menggunakan kertas itu untuk mengipasi mama. Tidak lama,
mama tertidur. Tanpa sadar perhatian saya tertuju pada brosur tersebut.

Ternyata brosur berwarna hitam dan memuat beberapa foto orang yang sudah
sangat renta itu berisi puisi dalam bahasa Mandarin di sebelah kiri dan di
sebelah kanannya adalah terjemahan dalam bahasa Indonesia. Puisi itu
berjudul DI SAAT DAKU TUA. Berikut kutipan puisinya:

*DI SAAT DAKU TUA
**Di saat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu,
maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.*

*Di saat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku, di saat daku tidak lagi
mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk
melakukannya.*

*Di saat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang
membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang
telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.*

*Di saat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku. Ingatlah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan
berbagai cara membujukmu untuk mandi?*

*Di saat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku. Renungkan bagaimana daku dengan sabarnya menjawab
setiap “mengapa” yang engkau ajukan di saat itu.*

*Di saat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku. Bagaikan di masa
kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.*

*Di saat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya. Sebenarnya, topik
pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berada di
sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.*

*Di saat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau
mulai belajar tentang kehidupan.*

*Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini, kini temanilah daku
hingga akhir jalan hidupku, berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu, Daku
akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur, di dalam senyumku ini,
tertanam kasihku yang tak terhingga bagimu. Sejenak, saya terpekur menatapi lembar brosur tua tersebut, kemudian saya
membaca kembali sambil mencari nama penulis puisi tersebut. Tapi saya tidak
dapat menemukan nama penulisnya. Yang saya temukan adalah tulisan “tidak
diperjual-belikan”.

Membaca kalimat tidak diperjual-belikan, saya yakin, tujuan penulisan dan
penyebaran brosur itu pasti untuk amal atau sekadar untuk mengingatkan siapa
saja yang membacanya, agar jangan menyia-nyiakan orang tua yang telah
melahirkan, merawat, dan mendidiknya hingga besar dan menjadi individu yang
mandiri.

Jika saja saya menemukan brosur itu di saat yang berbeda, mungkin brosur itu
tidak akan terlalu menyita perhatian saya. Mungkin saya akan merasa sedikit
bersimpati dan merasa bahwa itu adalah sebuah puisi yang bagus. That’s it.
Hanya itu. Tapi karena saya membaca puisi itu di hadapan mama yang
tergeletak tak berdaya di atas tempat tidur, di mana setiap kebutuhan mama
selalu tergantung pada orang yang ada di sampingnya, mulai dari makan,
duduk, membalikkan badan, apalagi membersihkan diri sendiri, semua harus
dibantu oleh orang lain, maka efek puisi itu begitu besar terhadap saya.
Saya sampai menitikkan air mata ketika membaca puisi tersebut. Saya merasa
inilah saatnya bagi saya untuk membalas semua budi baik yang telah mama
lakukan pada saat saya masih kecil. Sanggupkah saya membalas semua budi mama
pada saya?

Yang pasti brosur lusuh itu telah membuka pikiran saya. Saya masih punya
kesempatan yang begitu besar untuk membalas kebaikan yang telah mama
berikan. Walau tidak sanggup membalas semuanya, paling tidak saya mencoba
melakukan semaksimal mungkin yang saya bisa. Jadi, betapa bersyukurnya saya
yang masih tinggal serumah dengan mama, karena itu berarti saya punya
kesempatan yang begitu besar untuk melayaninya, seperti dulu beliau melayani
saya.

Kiriman Mas Rochan Achmad dari Pembelajaran.com

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>