June 1, 2011 | Posted in:Kisah Nyata

Sebuah surat masih sempat dituliskannya menjelang ajalnya,….

Jalanan Steamboat Mountain seperti pembunuh, dan sopir truk yang menyusuri jalan raya Alaska memperlakukannya dengan hormat, terutama di musim dingin.


Tikungan dan belokan jalan di gunung itu dan tebingnya yang curam menukik
tajam dari jalanan berlapis es. Tak terhitung truk dan sopir truk yang
tersesat di situ dan masih banyak lagi yang diyakini akan mengikuti jejak
terakhir mereka.

Dalam suatu perjalanan di jalan raya itu, aku bertemu
dengan Royal Canadian Mounted Police (polisi Kanada) dan beberapa mobil
Derek menarik sisa sebuah mobil menaiki tebing terjal. Aku memarkir trukku
dan menghampiri sekelompok sopir truk yang diam mengawasi mobil hancur yang mulai muncul dari jurang. Salah seorang polisi menghampiri kami dan berkata perlahan, “Saya minta maaf,” katanya, “Sopirnya sudah meninggal saat kami menemukannya. Ia pasti melampaui jalan ini dua hari yang lalu waktu ada badai salju yang buruk. Tak terlihat banyak jejak. Untung kami melihat sinar matahari memantulkan logamnya.” Ia menggelengkan kepalanya perlahan dan merogoh saku mantelnya. “Ini.. mungkin kalian sebaiknya membaca ini.
Rupanya dia masih hidup beberapa jam sebelum mati kedinginan.”

Aku belum pernah melihat polisi berlinangan air mata. Aku selalu menyangka
mereka sudah sering melihat kematian dan kesusahan sehingga mereka sudah
kebal, tapi ia menghapus air mata saat ia menyerahkan surat itu kepadaku.
Selagi aku membacanya, aku mulai menangis. Semua supir terdiam membaca kata2 itu, lalu berjalan kembali ke truknya masing2. Kata-kata itu terpatri dalam ingatanku, dan sekarang, bertahun2 kemudian, surat itu masih terlihat jelas seakan aku memegangnya di hadapanku. Aku ingin berbagi yang diceritakan surat itu dengan Anda dan keluarga Anda.

Desember, 1974

Istriku yang tercinta,

Tak ada orang yang ingin menulis surat seperti ini, tapi aku cukup beruntung
memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang sering lupa kukatakan. Aku
mencintaimu, Sayang. Kamu sering berkelakar bahwa aku lebih mencintai truk daripada kamu karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Aku memang mencintai mesin ini – ia baik padaku. Ia menemaniku dalam masa sulit dan tempat yang sulit. Aku selalu dapat mengandalkannya dalam perjalanan panjang dan ia dapat melaju cepat. Ia tak pernah mengecewakanku. Tapi, tahu tidak? Aku mencintaimu karena alasan yang sama.Kamu juga selalu menemaniku dalam waktu yang sulit dan tempat yang sulit.

Ingat truk kita yang pertama? Truk rongsokan yang selalu membuat kita
bangkrut, tapi yang selalu mengumpulkan cukup uang untuk kita makan? Kamu harus mencari pekerjaan supaya kita dapat membayar sewa rumah dan bon tagihan. Setiap sen yang kuhasilkan dipakai untuk truk, sementara uangmu memberi kita makanan dan atap untuk bernaung. Aku ingat aku pernah mengeluhkan truk itu, tapi aku tak pernah mendengarmu mengeluh waktu pulang kerja dengan lelah dan aku meminta uang darimu untuk pergi lagi. Seandainya
pun kamu mengeluh, mungkin aku tak mendengarnya. Aku terlalu terlena oleh
masalahku sendiri sehingga tak pernah memikirkan masalahmu. Aku
memikirkannya sekarang, semua yang kau korbankan untukku. Pakaian, liburan,pesta, teman. Kamu tak pernah mengeluh dan entah bagaimana aku tak pernah ingat untuk berterima kasih padamu untuk menjadi dirimu. Saat aku duduk minum kopi bersama teman2, aku selalu membicarakan trukku,kendaraanku, pembayaranku.

Rupanya aku lupa bahwa kamu adalah mitraku meskipun kamu tak berada bersamaku. Pengorbanan dan keteguhan hati dari pihakku dan dari pihakmu jugalah yang akhirnya membelikan kita truk baru. Aku begitu bangga dengan truk itu hingga rasanya seperti ingin meledak. Aku bangga akan dirimu juga, tapi aku tak pernah mengatakannya. Aku menganggap kamu pasti sudah tahu, tapi andai aku melewatkan waktu untuk akan mengatakannya. Bertahun-tahun selama aku mendera aspal, aku selalu tahu doamu mengiringiku. Tapi kali ini doa ini tidak cukup. Aku cedera parah.

Ini perjalananku yang terakhir dan aku ingin mengatakan semua yang
seharusnya kukatakan sebelumnya. Hal yang terlupakan karena aku terlalu sibuk dengan truk dan pekerjaan. Aku memikirkan ulang tahunmu dan ulang tahun pernikahan kita yang terlupakan.

Drama sekolah dan pertandingan hoki yang kauhadiri sendirian karena aku sedang di jalanan. Aku memikirkan malam2 sepi yang kau lewatkan seorang diri, bertanya-tanya di mana aku berada dan bagaimana keadanku. Aku memikirkan semua saat aku ingin meneleponmu hanya untuk menyapa tapi tak pernah jadi. Aku memikirkan perasaanku yang damai karena tahu kamu berada di rumah bersama anak2 menungguku. Tiap kali ada makan malam keluarga, kau selalu harus menghabiskan seluruh waktumu untuk menjelaskan kepada orang tuamu mengapa aku tak dapat hadir. Aku sibuk mengganti oli; aku sibuk mencari onderdil; aku sedang tidur karena harus berangkat pagi2 esoknya. Selalu ada alasan, tapi rasanya sekarang alasan itu tak Begitu penting.

Waktu kita menikah, kamu tak tahu cara mengganti lampu. Tapi, setelah beberapa tahun, kamu mampu memperbaiki perapian selagi badai, sementara aku menunggu muatan di Florida. Kamu menjadi montir yang cukup baik, membantuku memperbaiki, dan aku bangga sekali akan dirimu waktu kamu melompat ke dalam truk dan mundur melindas semak mawar. Aku bangga akan dirimu saat aku masuk ke halaman dan melihatmu tidur di mobil menungguku.

Apakah itu jam dua subuh atau jam dua siang, kamu selalu kelihatan seperti seorang bintang film bagiku. Kamu cantik sekali. Mungkin aku tak mengatakannya akhir2 ini, tapi kamu memang cantik.

Aku banyak berbuat kesalahan dalam hidupku, tapi seandainya aku pernah mengambil satu keputusan bagus, itu adalah saat aku melamarmu. Kamu tak akan pernah bisa mengerti apa yang membuatku terus mengemudikan truk. Aku juga tak mengerti, tapi itulah cara hidupku. Masa susah, masa senang, kamu selalu ada. Aku mencintaimu, Sayang, dan aku mencintai anak-anak. Tubuhku sakit, tapi hatiku jauh lebih sakit. Kamu tak akan hadir saat aku mengakhiri
perjalanan ini. Untuk pertama kalinya sejak kita bersama, aku benar2
sendirian dan aku takut. Aku sangat membutuhkanmu, dan aku tahu sudah terlambat. Lucu juga ya, tapi yang kumiliki sekarang adalah truk ini. Truk terkutuk ini yang mengatur hidup kita begitu lama. Baja rongsok tempatku hidup selama bertahun-tahun. Tapi truk ini tak dapat membalas cintaku. Hanya kamu yang bisa. Kamu beribu mil jauhnya, tapi aku merasakan dirimu bersamaku di sini. Aku dapat melihat wajahmu dan merasakan cintamu dan aku takut melakukan perjalanan terakhir ini sendirian. Katakanlah pada anak-anak bahwa aku sangat mencintai mereka dan jangan ijinkan mereka bekerja sebagai supir truk. Mungkin cuma itu, Manis. Ya Tuhan, aku betul-betul mencintaimu.
Jagalah dirimu dan ingatlah selalu bahwa aku mencintaimu melebihi segala yang ada dalam hidup ini. Aku cuma lupa mengatakannya.

Aku mencintaimu,
Bill

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>