June 22, 2010 | Posted in:Motivasi

Membesarkan anak dengan baik memang tidak mudah bagi pasangan suami
istri yang bekerja. Dengan sepuluh panduan berikut mudah-mudahan
mereka dapat menjalankan tugas sebagai orang tua dan pasangan karier
secara seimbang.

Lebih dari tiga puluh tahun terakhir, dengan pelbagai alasan
sosioekonomi semakin banyak pasangan suami-istri yang harus bekerja.
Kegiatan masing-masing anggota keluarga di luar juga meningkat,
akibatnya waktu berkumpul antara anak dan orang tua atau saudara-
saudara mereka semakin sedikit. Anak lebih banyak menghabiskan waktu
bersama pengasuh atau malah bermain sendiri di rumah.

Kecenderungan ini, menurut Daniel Amen, M.D., direktur medis The
Center For Effective Living, akan menimbulkan dampak sosial serius
jika orang tua tidak memberikan kepemimpinan yang kuat kepada anak-
anak mereka. Psikiater anak, remaja dan dewasa ini menyodorkan
sepuluh panduan untuk membesarkan anak secara sehat dalam keluarga
dengan kedua orang tua bekerja.

1. Waktu. Hubungan orang tua-anak yang baik memerlukan waktu yang
memungkinkan mereka berkumpul secara fisik. Tidak perlu berjam-jam.
Yang penting, orang tua secara konsisten meluangkan sedikit waktu
bersama anak-anak hampir setiap hari. Ketika bersama mereka, jauhkan
gangguan dan konsentrasikan perhatian kita kepada mereka. Waktu
adalah tonggak penyangga pengasuhan yang baik.

2. Jadilah pendengar yang baik. Bila anak-anak mengetahui bahwa kita
benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan, mereka akan lebih
bersemangat untuk berbagi perasaan dan pikiran. Sebaliknya, kalau
orang tua merendahkan gagasan anaknya atau “rajin” mengkritik kata-
katanya, anak itu akan menarik diri dan memilih lebih dekat pada
teman. Karenanya, jika ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak,
mari menjadi pendengar yang baik. Mereka akan menerima kita bila
kita membantu mereka memecahkan masalah.

3. Tentukan harapan yang jelas. Memberitahukan anak apa yang kita
harapkan darinya akan membentuk perilaku yang baik. Jangan ragu-ragu
melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari dan untuk membantu
menyelesaikan tugas-tugas di lingkungan rumah. Kebanyakan anak pasti
akan mengeluh. Begitupun, kita harus berusaha agar mereka senang
dilibatkan. Pada anak yang berperan serta dalam urusan rumah tangga,
akan tumbuh etika kerja dan umumnya ia lebih merasa menjadi bagian
dari keluarga.

4. Jangan membiarkan rasa bersalah. Banyak orang tua merasa bersalah
karena bekerja seharian di luar rumah. Sebagai kompensasinya, mereka
membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Orang tua yang
baik adalah yang tegas. Merasa bersalah merupakan tindakan
kontraproduktif.

5. Jangan menggantikan kasih sayang atau waktu dengan uang. Memang
penting untuk mengajarkan anak-anak bagaimana mengelola uang, tetapi
jangan gunakan uang sebagai pengganti waktu atau kasih sayang kita.
Pesan materialistis di televisi mudah sekali merasuki anak dan
membangkitkan keinginan mereka untuk membeli ini dan itu. Bagaimana
kita dapat membentengi mereka dari pengaruh buruk ini? Kita buat
mereka untuk selalu berusaha bila ingin memperoleh sesuatu. Sesuatu
yang diperoleh melalui bekerja, akan lebih terasa nilainya.

6. Jangan terlalu sering gonta-ganti pengasuh. Satu dari kebutuhan
psikologi yang penting pada anak adalah bahwa ia terasuh dengan baik
dan penuh kasih secara terus-menerus. Oleh karena itu kita
memerlukan pengasuh. Dengan menggunakan pengasuh kecemasan kita akan
berkurang selama kita bekerja. Namun sebelum menyerahkan anak pada
seorang pengasuh, berikanlah kesempatan untuk terciptanya keakraban
dan kedekatan antara anak dan si calon pengasuh. Sering gonta-ganti
pengasuh dapat membahayakan anak. Untuk mencari orang yang tepat
atau situasi yang baik bagi anak, kalau perlu, pergilah ke tempat
yang jauh!

7. Kuncinya: pengawasan. Sering kali ketika ditinggalkan orang tua,
anak terjerumus dalam masalah. Penelitian menunjukkan bahwa anak-
anak bermasalah sering berasal dari keluarga yang kurang atau tidak
diawasi. Anak-anak tidak begitu saja tahu sejak lahir, mana perilaku
baik, mana yang buruk. Mereka perlu diajari dan kemudian diawasi.
Karenanya, sangatlah penting bagi orang tua untuk mengetahui di mana
anaknya, sedang bersama siapa, dan sedang ngapain. Memang, anak
sering mengeluh kalau ia diawasi ketat, tetapi anak-anak yang tidak
diawasi juga sering merasa bahwa orang tua mereka tidak peduli
dengan mereka!

8. Beri perhatian lebih saat ia baik. Ini bagian paling berat
sebagai orang tua. Kita cenderung lebih memperhatikan anak-anak
ketika mereka menjengkelkan. Sebaliknya, jauh lebih sulit untuk
memperhatikan perilaku baik mereka. Namun, jika ingin anak
berperilaku baik, berilah perhatian pada hal-hal yang kita sukai
dari mereka. Kalau anak merasa diabaikan, secara bawah sadar ia akan
berperilaku salah untuk menarik perhatian kita. Memperhatikan mereka
sewaktu mereka baik, memang memerlukan usaha.

9. Hukuman itu untuk mendidik. Orang tua yang bekerja di luar rumah,
cenderung mengalami kelelahan dan mudah jengkel. Maka mereka lebih
mudah kehilangan kontrol terhadap anak-anak. Ini dapat menimbulkan
masalah. Jangan pernah menghukum anak ketika kita sendiri tidak
dapat mengontrol diri. Gunakan hukuman untuk mendidik, bukan untuk
melampiaskan kemarahan.

10. Berikan teladan dalam relasi. Anak belajar berelasi dari orang
tua mereka. Mereka juga merasa paling aman jika melihat orang tua
saling memperlakukan pasangannya dengan baik. Maka hal terbaik yang
dapat dilakukan bagi anak-anak kita adalah mencintai pasangan kita.
(WWM 20129-AMEN/Bea).

Be the first to comment.

Leave a Reply

*



*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>