March 20, 2011 | Posted in:Inspirasi, Motivasi

Akhirnya, Fina jadi pilihanku. Dan aku akan menikahinya lima hari lagi. Tapi aku tak bahagia. Aku gusar bukan kepalang. Entah kenapa. Menurutku, ini memang bukan main-main. Pernikahan sungguh sakral. Sekali seumur hidup dan tak kusangka, ternyata menikah melibatkan banyak orang, riuh dan ramai. Seramai pasar malam.

Rencananya, aku akan ijab qabul di pagi hari dan dilanjutkan resepsi setelahnya. Tentu ini akan sangat gaduh dan riuh. Undangan yang berdatangan, penyanyi elektone, pramusaji, dan tentu saja suasana dapur yang heboh.

Karena semua pesta perkawinan diadakan di rumah Fina, maka tentu saja aku lebih was-was dan deg-degan. Soalnya, aku pasti akan melewati malam pertamaku di rumah Fina. Haduuhh.. ini yang membuatku amat gelisah. Amat dan sangat.

**

Aku harus segera mengambil tindakan. Kalau tidak, mending aku tidak menikah saja dan pacaran terus sampai tua. Aku akan datang ke rumah Fina nanti malam. Aku tidak peduli apakah Fina sudah dipingit atau sedang mandi luluran. Pokoknya aku akan datang ke rumah Fina. Titik.

“Ngapain kamu datang kemari? Is there something important? Nelpon atau sms kan bisa sayang..? Aku sedang dipingit nich.. gak boleh keluar dan gak boleh didatengin..” tanya Fina terkejut ketika aku muncul di ruang tamunya. Ayah Fina juga keheranan. Begitu juga ibunya. Semuanya mendatangiku dan berharap ada kabar yang serius dariku.

“Mm.. mm.. b..bb..begini Fin.. Mm.. bolehkah aku melihat calon kamar pengantin kita nanti??” aku deg-degan ketika mengutarakan maksudku ini.

“Apa?? Kamar pengantin??” Fina juga keheranan, tapi lekas paham.

“Oke.. gapapa..” jawab Fina sejurus kemudian.

Kulihat ayah Fina mengelus-elus janggutnya saja, dan mata ibu Fina memicing melihatku. Mereka pikir, sesuai adat Jawa, memang tak pantas aku datang ke rumah mereka pada saat-saat seperti ini.

**

Akhirnya, aku dan Fina masuk ke ruang belakang dan masuk ke kamar Fina. Ayah dan ibunya tetap membuntutiku dari belakang berharap anak gadisnya tidak digasak duluan oleh bromocorah kelamin sepertiku. Padahal, kalau mereka tahu, seharusnya mereka tidak berburuk sangka. Soalnya aku adalah pria baik hati dan penyayang binatang. Kecuali nyamuk.

Aku masuk ke kamar Fina dan mencoba melihat kamar yang sudah berbau wangi itu dengan amat teliti. Persis seperti BPK yang mengaudit dana BOS. Aku melihat dari pojok ujung langit-langit sampai tali korden pun kuteliti. Beberapa saat kemudian, aku juga ngobrol dengan ayah Fina. Soalnya, aku mempunyai sedikit keinginan. Tak apalah calon mertua mengerti keinginan calon mantunya. Tapi ketika aku pulang, raut muka ayah Fina tidak begitu ramah menurutku. Dia sepertinya agak dongkol kepadaku. Entah kenapa.

**

Sesampainya dirumah, aku dicegat papiku di ruang tamu.

“Ngapain kamu ke rumah calon bojomu tadi??” tanya papiku ketus. Rupanya, ayah Fina mungkin sudah menghubungi papiku.

“Yaa.. cuman lihat-lihat aja pi..” jawabku santai tapi agak takut.

“Halah.. bohong kamu. Ini waktu yang tidak boleh digunakan semaumu. Pak Brojo.. Ayah Fina.. calon besanku.. tadi baru saja telepon. Katanya.. kamu sempat mengutarakan keinginanmu agar di kamar Fina ada kamar mandinya ya..? Mana mungkin itu?? Ini kawinan tinggal lima hari lagi. Mana mungkin ayah Fina bisa membangun kamar mandi dalam di kamar Fina dengan waktu sesempit ini??” teriak papiku. Mungkin papiku marah karena melihatku bertingkah yang aneh-aneh.

**

“Kulihat, kamu gelisah sekali menghadapi pernikahan ini. Kenapa sih? Malah kamu bertingkah aneh.. Coba jawab.. Mengapa kamu minta kamar mandi di kamar Fina segala??” selidik papiku.

“Mmm.. anu pi.. soalnya.. nanti aku malu kalau kelihatan keramas pas di rumah Fina.. kan kamar mandinya diluar..” jawabku jujur.

“Hah?? Apa?? Malu keramas?? Malu sama siapa?? Sama mertuamu? Atau adik-adik Fina itu? He ingat. Pak Brojo dan Bu Brojo itu juga pernah muda. Jadi mereka pasti maklum. Udah pasti tidak akan memperhatikan atau memelototin kamu lagi. Apalagi iseng nanyain kamu keramas apa tidak. Gimana sich?”

“Ttt.. tt.. tapi.. kalau ada kamar mandi di dalam kamarnya Fina kan enak, pi? Keramas atau tidak kan tidak kelihatan..?”

Papiku melengos.

**

“Heh.. dengerin ya..”

“Iya pi..”

“Kalau kamu dan Fina itu nanti setelah kemantenan trus paginya kelihatan keramas.. maka mertuamu itu malah seneng bukan main. Berarti, anak mantunya bener-bener mengemban kewajiban sebagai suami.. seorang laki-laki yang jantan.. gituch..”

“Mm..”

“Apa lagi??”

“Mm.. mm.. iya dech pi..”

“Ya begitu harusnya..”

**

“Dan satu lagi.. ini tadi Pak Brojo juga bilang sama papi..”

“Ada apa lagi, pi?”

“Tadi Pak Brojo bilang kalau kamu persis seperti KPK. Lihat-lihat korden, lihat-lihat plafon, lihat-lihat jendela, pintu.. ngapain kamu seperti itu??”

“Mm.. mm.. aku takut kalau ada lubang dikit aja pi.. kan bisa buat ngintip aku dan Fina??”

“Haduhh.. Rumahnya Pak Brojo itu rumah yang hebat. Ada pagarnya yang tinggi lagi. Siapa yang akan mengintipmu??”

“Yaa.. aku kan hanya bertindak preventif pi.. sapa tau ada yang ngintip trus make kamera.. trus diupload di internet?? di share di kompasiana??”

“Halah!! Terlalu mengigau kamu!!”

**

Singkat kata, aku memang harus melalui acara sakralku itu. Menikahi Fina dan menyongsong malam pertama. Kami sangat bahagia. Ucapan selamat dari para tamu pada saat resepsi sungguh membuat kami berbunga-bunga. Dan akupun tak bisa menahan lagi untuk segera masuk kamar dan menikmati manisnya permen jagoan neon.

Menjelang maghrib, semua tamu undangan sudah pulang. Begitu pula katering dan rekan tenda terop serta semua famili. Semua sudah pulang.

Dan selepas maghrib, aku mulai mendapati hal aneh. Tiba-tiba ada mobil APV besar yang parkir di depan rumah Fina. Tidak berapa lama kemudian, aku melihat tas-tas besar dinaikkan ke dalam mobil itu. Dan anehnya lagi, aku juga melihat Pak Brojo, Bu Brojo dan adik-adik Fina keluar dari rumah dan menuju mobil itu.

**

Fina tidak kaget dan malah mengajakku menemui mereka. Pak Brojo memandangiku.

“Begini nak Joe.. bapak dan ibu mau menginap selama seminggu di rumah nenek. Bersama-sama dengan adik-adik Fina juga. Jadi, rumah ini kosong. Hanya ada kamu dan Fina ajah..” kata Pak Brojo serius dan.. kalimat-kalimatnya kudengar sangaaaaattt menyejukkan. Rasanya persis duduk terpaku gak pake baju di depan kulkas yang terbuka. Sejuuukk banget.

“Mm.. lhoh.. kok.. mengapa begitu, bapak? Apa salah saya? Jadi nggak enak nich..” jawabku pura-pura enggan dengan kepergian mereka. Padahal, dalam hati aku teriak.. Sono!.. yang lebih jauh sono!.. ke kutub utara getuch!! atau ke Libya sekalian!!

“Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi. Aku ingin kamu berdua bahagia di rumah ini. Ini adalah satu-satunya hadiah terbaikku untuk kamu berdua..” jawab Pak Brojo kemudian. “Aku tahu. Kamu pasti sangat senang menerima hadiah ini.. iya kan??”

Pak Brojo melirik ke Fina dan aku bergantian.

“Inggih Pak. Inggih. Kami hanya manut saja kok Pak..” jawabku enteng, spontan dan riang gembira.

**

Dan otakku mulai ngeres. Malam ini, pasti di kamar. Besok pagi, di ruang tamu, tepatnya di sofa. Hihi.. Sorenya, di dapur mungkin lebih asyik. Malamnya, coba diteras dech.. Paginya lagi.. bisa di taman belakang. Ahhhhh…!!!

Perlukah aku menelepon Dirut PT. Unilever untuk mengantarkan satu truk shampoo kesini??

Wakakakkkakakakakaka.. [ ]

Catatan : Salam sayang buat kompasianer2 cewek yang udah add aku jadi teman.. wkwkwkwk.. cowok juga sich.. wkwkwkw..

sumber :

hxxp://muda.kompasiana.com/2011/02/28/lima-hari-lagi-aku-mau-nikah/

TAGS:

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>