September 1, 2009 | Posted in:Motivasi

Kajian mengenai “mengapa orang bekerja” atau “motivasi kerja”, telah
banyak dilakukan oleh para pakar berbagai disiplin ilmu, terutama
psikologi. Frederick Taylor bicara soal carrot and stick (wortel dan
cambuk). David McClelland dan John W. Atkinson bicara soal need for
achievement-power-affiliation. Douglas McGregor bicara soal teori X
dan Y. Abraham Maslow bicara soal hierarchi of needs. Frederick
Herzberg bicara soal hygiene-motivational factors. Dan sebagainya.
Argumen-argumen mereka menarik karena didasarkan pada penelitian yang
dapat dipertanggung jawabkan secara akademis-ilmiah. Satu-satunya
soal yang mengganjal adalah fakta
bahwa studi-studi tersebut umumnya dilakukan sebelum “dunia yang
dilipat” (internet) hadir seperti kita lihat hari-hari ini. Jadi
manusia-manusia yang diteliti itu bukan Cohort 80-an yang
nampak “aneh” bagi sebagian kita yang lahir lebih dulu. Apakah akan
ada bedanya motivasi kerja generasi baru ini dengan yang sebelumnya?

Pada sisi lain ada keraguan besar tentang seberapa jauh psikologi
dapat menjelaskan motivasi terdalam yang mendorong manusia bekerja.
Sebab di luar bingkai psikologi masih ada bingkai ekonomi yang
terkesan dominan. Lalu ada juga persepsi sosiologi dan teologi yang
makin sulit diabaikan bila kita menyimak karya-karya terbaik manusia
sepanjang sejarah dunia. Mengapa sebagian orang begitu mementingkan
mutu atau kualitas, sementara yang lainnya tak peduli mutu? Mengapa
ada yang toleran terhadap berbagai cacat (defect), sementara yang
lain terkesan perfectionist? Mengapa ada yang
begitu mempersoalkan imbalan yang diperoleh dari karyanya, sementara
yang lain mengatakan bahwa karyanya tak ternilai, tak terbeli, dan
hanya bisa dihadiahkan gratis kepada orang yang ‘mengerti’?

Saya kira semua itu menunjukkan bahwa dalam soal kerja kita harus
mengaitkannya paling sedikit dengan empat nilai, yakni: nilai
ekonomis, nilai personal, nilai sosial, dan nilai moral-spiritual.
Orang bekerja untuk mencari nafkah hidupnya sehari-hari. Disini ia
mengedepankan nilai ekonomis dari kerja. Ia bekerja untuk dapat
bertahan hidup. Itu baik. Namun bila hanya untuk itu, maka apa
bedanya dengan, maaf, binatang? Bila bekerja hanya untuk survive,
bukankah ayam pun demikian?

Nilai personal dari kerja adalah karena dengan aktivitas yang
direncanakan itu manusia dimungkinkan untuk mengalami pertumbuhannya
ke arah kedewasaan dan kemandirian (otonom). Dengan bekerja kita
mengembangkan talenta dan bakat-bakat yang dititipkan Tuhan kepada
kita untuk dikembangkan. Dengan
bekerja kita meningkatkan keterampilan kita dan menambah pengetahuan
kita untuk berpikir dan bertindak rasional. Bagaimanapun kita adalah
rational being, mahluk yang “berpikir’ agar “meng-ada”, Cogito ergo
sum (Latin) atau Je pense, donc je suis (Perancis). Dengan menyadari
hal ini maka setidaknya kita melihat diri kita sebagai physical being
yang bekerja untuk hidup, dan
sekaligus rational being yang mampu berpikir untuk tidak asal kerja,
tidak kerja asal-asalan, tapi bekerja secara rasional. Mereka yang
rasional inilah yang dewasa dan mandiri, tidak harus dipaksa-paksa
dan diancam untuk mengerjakan seuatu yang merupakjan tanggung jawab
pribadinya, entah sebagai karyawan, wirausaha, atau lainnya.

Nilai sosial dari kerja menambahkan kepada pengertian di atas bahwa
dengan bekerja kita memberikan makna atas kehadiran kita dalam suatu
komunitas tertentu. Disini kita mengembangkan jatidiri kemanusiaan
kita sebagai social-emotional being. Kita adalah mahluk sosial yang
hanya mungkin mengembangkan potensi kemanusiaan kita jika kita
melihat diri kita dalam suatu hubungan saling bergantung dengan orang
lain. Bukan berarti kita bergantung sepenuhnya (dependence), sebab
dengan begitu kita tak ubah
seperti parasit dan kanker dalam kehidupan masyarakat. Kita saling
bergantung (inter-dependence), dimana ada hubungan saling memberi dan
saling menerima. Tak boleh hanya menerima saja, tak juiga hanya
memberi saja. Harus timbal balik. Itu berlaku bagi orang yang sudah
sama-sama dewasa dan mandiri. Bagi mereka yang belum dewasa, belum
mandiri, maka menjadi tanggung jawab sosial kita untuk membantunya,
untuk lebih banyak memberi, sampai mereka menjadi dewasa dan mandiri.

Nilai moral-spiritual dari kerja adalah bahwa dengan bekerja kita
dimungkinkan untuk mengakui Tuhan sebagai Tuhan, memanusiawikan
manusia (diri sendiri dan sesama), dan alam diberikan Tuhan untuk
dikelola guna kemaslahatan manusia yang sebesar-besarnya. Inilah
dimensi “teologis” dari kerja, dimana kerja dipahami sebagai bagian
dari ibadah, sebab kita ini juga moral-spiritual being.

Dalam ajaran Islam ada tertulis, “Apabila telah ditunaikan shalat,
maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah…”
(Q.s., al-Jumu’ah/62:10). Hal ini mempermudah pemahaman atas
pernyataan Seyyed Hossein Nasr, profesor studi Islam asal Iran yang
mengajar di Universitas Temple, Philadelphia, Amerika Serikat,
bahwa, “Kerja merupakan salah satu bentuk jihad yang tak terpisahkan
dari signifikansi religius-spiritual”.
Juga ada ayat yang berbunyi, “Belumkah ia (manusia) diberitahu
tentang apa yang ada dalam lembaran-lembaran suci (nabi) Musa? Dan
(nabi) Ibrahim yang setia? Yaitu, bahwa seseorang yang berdosa tidak
akan menanggung dosa orang lain. Dan bahwa tidaklah bagi manusia itu,
melainkan apa yang ia usahakan.
Dan bahwa usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian ia
akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Dan bahwa kepada
Tuhanmulah tujuan penghabisan (Q.s., al-Najm/52:36-42). Ayat inilah
yang menurut Nurcholish Madjid menunjukan bahwa dalam ajaran Islam
kerja adalah bentuk eksistensi manusia, dalam arti harga manusia –
apa yang dimilikinya– tidak lain adalah amal perbuatan atau kerjanya
itu.

Dalam ajaran Kristiani makna kerja sebagai bentuk eksistensi manusia
juga ditegaskan dengan mengingat bahwa manusia diciptakan Homo Imago
Dei, sebagai peta dan teladan Allah, untuk mencitrakan Allah
(Kejadian 1:26-27). Dan Allah yang seharusnya dicitrakan oleh manusia
itu adalah Allah yang bekerja (Yohanes 5:17, Roma 8:28). Dengan
bekerja manusia menyatakan iman dan kasihnya kepada Tuhan dan kepada
sesama manusia secara bersamaan (Matius 22:37-40). Jadi, dalam
perspektif Kristiani, kerja itu melekat pada eksistensi manusia.
Tanpa kerja manusia tidak pantas untuk makan, tidak pantas dihormati,
bahkan tidak pantas untuk hidup (2 Tesalonika 3:10; 1 Tesalonika
5:12; Filipi 1:22).

Pemahaman teologis mengenai makna kerja itu setidaknya mengandung dua
konsekuensi, yakni: pertama, nilai moral-spiritual dari kerja
seharusnya menjadi fondasi dimana tiga nilai lainnya ditegakkan
(sosial, personal, ekonomis); dan kedua, nilai moral-spiritual
atau “spiritualitas kerja” ini menampakkan wujud konkritnya dalam
etika dan etos kerja dalam suatu masyarakat. Disini kita diingatkan
bahwa kemajuan Singapura dan Taiwan
diakui secara terbuka oleh para pemimpin bangsa itu sebagai buah dari
etika konfusianisme, yang menempatkan kerja (dan belajar) sebagai
cara menjadi “orang terhormat”. Kapitalisme, setidaknya menurut Max
Weber, adalah buah dari etika kerja protestan. Sementara etos kerja
Bushido (Shintoisme?) tak mungkin dilepaskan dari keberhasilan Jepang
membangun negerinya itu pasca Perang Dunia II.

Jadi, bila kita mengharapkan perbaikan dalam bidang etika dan etos
kerja dalam masyarakat kita, maka kita seharusnya kembali kepada
ajaran-ajaran luhur agama-agama yang hadir di Indonesia. Artinya kita
harus membangkitkan kembali (revitalisasi) nilai-nilai moral-
spiritual yang untuk masa sebelumnya banyak “disimpan”,
bahkan “dilecehkan” oleh kita semua yang terjebak menyembah “roh
materalisme” Orde Baru.

Sumber : Andrias Harefa, bekerja sebagai knowledge entrepreneur, learning partner, motivasional speaker, dan penulis buku-buku best-seller
terbitan Gramedia dan Penebit KOMPAS, beralamat di www.pembelajar.com

1 Comment

  1. knockoff gucci handbags
    August 5, 2010

    Sweet! Very nice”” Jose

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>