December 7, 2009 | Posted in:Motivasi

Yuli ingin membuat baju baru. Selama ini dia jarang mengenakan celana
panjang dan blazer. Ada sih. Tapi bisa dihitung dengan satu tangan
karena hanya dua buah. Busana lainnya berupa rok bawahan dan baju
atasan dengan blazer. Selama ini dia memang lebih suka mengenakan rok
bawahan daripada celana panjang. Tapi hari itu dia ingin membuat
setelan celana panjang.
Yuli tidak tahu berapa meter kain yang dibutuhkan untuk membuat
setelan celana panjang. Karena itu, Yuli berniat menanyakan hal ini
kepada anak buahnya. Saat istirahat, Yuli masuk ke ruang marketing.
Di sana terdapat beberapa karyawan wanita yang selalu mengenakan
setelan celana panjang. Supaya cepat, Yuli menanyakan kepada Anita,
salah seorang karyawati yang duduknya paling dekat pintu masuk.

“Kalau mau bikin setelan celana panjang dan blazer biasanya berapa
meter ya?” Anita menjawab :”Sekitar tiga meter Bu. Dua tiga perempat
meter juga cukup.” Yuli berkata :”Terima kasih”. lalu keluar dari
ruang marketing untuk kembali ke pekerjaannya. Kejadian tadi hanyalah
kejadian kecil di kantor yang dianggap biasa oleh Yuli. Bahkan
siangnya dia sudah melupakan peristiwa tadi pagi.

Tapi tanpa disangka-sangka, ternyata dampak peristiwa itu cukup
besar. Yuli diberi laporan oleh salah seorang karyawati mengenai
kejadian pagi itu. Setelah Yuli keluar dari ruang marketing,
karyawati lain, Asti, memberi komentar :”Yang dipercaya cuma Anita
ya? Kita, yang lain tidak pernah ditanya apa-apa.” Yang lainnya
menyahut :”Iya, kita tidak dipercaya.” Anita sendiri heran mendengar
komentar teman-temannya. Tapi dia diam saja.

Yang paling heran Yuli. Pada saat tadi dia bertanya kepada Anita, dia
tidak memiliki pikiran jelek apa pun. Dia merasa wajar bertanya
kepada Anita karena meja Anita paling dekat dengan pintu masuk ke
ruangan. Bukannya dia hanya percaya pada Anita. Dia hanya bertindak
wajar saja. Tapi ternyata pandangan anak buahnya yang lain sangat
berbeda dengan kenyataan. Mereka merasa Yuli lebih memperhatikan
Anita dan kurang memperhatikan yang lainnya. Aduuhhh! Yuli sampai
geleng-geleng kepala. Dalam hatinya dia berkata :”Saya tidak akan mau
tanya apa-apa lagi selain urusan pekerjaan. Kapok.”

Yuli kemudian ingat hal semacam itu telah beberapa kali terjadi. Anak
buahnya mudah sekali merasa iri. Ketika Yuli membawa makanan dari
luar kota untuk mereka semua, Yuli menyerahkan beberapa bungkus
makanan ke semua anak buahnya. Supaya lebih praktis, Yuli menaruh
semuanya di meja terdekat, yaitu meja Anita.

Kurang enak didengar

Ternyata yang lain merasa iri dan Anita terpaksa mendengar beberapa
kata-kata yang kurang enak didengar. Intinya mereka mengatakan semua
oleh-oleh itu sebenarnya untuk Anita saja. Padahal jelas-jelas Yuli
mengatakan agar oleh-oleh itu dibagi sama-sama. Yuli berniat baik,
tapi akibatnya malah kurang menyenangkan.

Kalau mau mengikuti perasaannya, Yuli tidak mau lagi membawa oleh-
oleh atau bertanya sesuatu pada siapa pun. Tapi Yuli kemudian
merenungkan mengapa mereka bersikap demikian. Apakah ada yang salah
dari sikap Yuli? Apakah mereka memang merasa diperlakukan lain
olehnya? Ataukah hanya sekedar iri hati?

Yuli ingin tahu. Tapi kalau dipikir-pikir, tidak ada gunanya dia tahu
hal itu. Yang penting kalau ini semua memang salahnya, dia ingin
memperbaiki sikapnya.

Kalau dulu dia jarang masuk ke ruang marketing, maka sekarang dia
ingin lebih sering mengunjungi ruang marketing. Dulu dia setiap pagi
mengajak mereka rapat di ruang rapat. Kini Yuli ingin mengajak mereka
rapat di ruang marketing saja. Selain supaya suasana lebih santai,
mereka lebih mudah mengambil data atau laporan yang diperlukan dalam
rapat. Mereka juga bisa mengangkat telepon yang masuk sehingga
pekerjaan lebih efektif dan efisien. Ternyata hubungan mereka lebih
dekat. Suara-suara sumbang yang selama ini sering terucap, kini
berkurang jauh.

Malah, kadang-kadang Yuli duduk dekat meja mereka. Kebetulan memang
ada satu meja yang tidak ditempati. Yuli sering duduk di situ. Kadang-
kadang dia bekerja di sana. Kadang-kadang Yuli makan siang di meja
itu juga bersama mereka. Memang di kantor mereka tidak disediakan
ruangan makan. Suasana berubah lebih menyenangkan.

Kemudian Yuli mengusulkan agar tempat duduk mereka dipindah-pindah.
Setiap tiga bulan semua orang bergeser ke meja di sebelah kanannya.
Ketika Yuli mengajukan usul ini, ternyata mereka sangat antusias.
Mereka menyukai usul itu. Malah kini, meja mereka lebih rapi karena
tiap tiga bulan harus bergeser ke meja lain. Barang-barang yang tidak
berguna kini disingkirkan. Tidak ada lagi sandal di bawah meja. Tidak
ada lagi tas plastik bercampur dokumen yang berserakan di laci. Kini
semua lebih rapi dan lebih menyenangkan.

Yuli hanya bersyukur. Seandainya dulu dia marah dan kesal mendengar
komentar anak buahnya, tentu tidak akan terpikir olehnya untuk
melakukan berbagai perubahan ini. Tapi kini semua orang merasa lebih
bersemangat dalam bekerja. Think positive! Act positive!

Sumber: Ptensi Diri – Iri? oleh Lisa Nuryanti, Director Expands
Consulting & Training Specialist

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>