February 14, 2010 | Posted in:Motivasi

Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan
saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami
mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif
yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan
mind challenging.

Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi
seorang pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami
harus melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai
informasi dan konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami
yakini sebagai hal yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu
berpesan, “You have to challenge everything, including your own
belief system or assumptions. That’s the key to quantum leap in
personal growth and consciousness expansion”.

Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa
berpikir positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik
ini menjadi materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami
sendiri telah mengalami efek negatip dari “berpikir” positif.

Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip
dari “berpikir” positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya
menempatkan kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?

Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa
kita harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau
trainer berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan
adalah bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan
holistik.

Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun
bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir
positif.

Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya
target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Pikiran sadar kita “percaya”, lebih tepatnya dipaksa untuk percaya,
bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap
hari, menempel kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan
visualisasi. Apa yang terjadi?

Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena
kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin
bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini.
Namun kita tetap “percaya” dan “positive thinking” bahwa kita dapat
mencapai apapun asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di
hampir semua buku positif dan berbagai seminar motivasi?

Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, “Kegagalan adalah sukses yang
tertunda”, “Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah
kita bangkit setiap kali kita jatuh”, “Tidak ada namanya kegagalan,
yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan”, dan masih banyak
lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So….? Keep
trying….. pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.

Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum
berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi
kita tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah
yang kita baca di buku-buku positif.

Lalu, mengapa “berpikir” positif justru akan sangat berbahaya bagi
diri kita? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita,
secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita
sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ?
Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target.
Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun
pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita
gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu
pelajaran negatip, “Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal
ini”. Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi
(ingat prinsip pemrograman pikiran). Dan kita, secara bawah sadar,
semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.

Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan
perasaan anda saat saya berkata, “Set Goal”. Bagaimana perasaan anda
saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif
atau negatip?

Dari pengalaman saya, kata “goal setting” ternyata mempunyai konotasi
negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan
kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, “Sekarang kalau
saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada
perasaan nggak enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti
ini”.

Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak
berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara
bawah sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan
perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata “goal setting”
maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal
(berkali-kali) dalam mencapai goal kita.

Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatip
ia jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat
holographic sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced.
Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling
terkait. Saat kita berusaha positif maka pada saat yang sama pula
kita mengaktifkan memori negatip, di bawah sadar. Semakin kita
berusaha positif maka semakin kuat efek negatip. Hal ini jarang
disadari dan dimengerti orang.

Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah
menerapkan konsep keselarasan pikiran positif (sadar dan bawah sadar)
mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan
sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk
mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.

Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang
yang selalu berusaha berpikir positif, telah membaca sangat banyak
buku positif, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar
negeri. Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di
bidang motivasi dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan
finansial yang sangat terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal
untuk bisa menghadiri seminar-seminar ini. Apalagi seminarnya
dilakukan di Singapore.

Namun apa yang terjadi? Semakin ia berusaha positif maka semakin
dalam ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya
ini protes keras saat pertama kali mendengar tentang “Bahaya Berpikir
Positif”. Baginya statement ini nggak masuk akal. Namun setelah
berdiskusi cukup panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud
saya.

Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu
tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi
landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi,
untuk benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran
positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil
kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat
dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.

Anda pasti bertanya, “Ok, kalau begitu bagaimana caranya?” Ada banyak
cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk
bisa membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy
(ada sangat banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming
dengan bantuan guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan
frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Akan sangat panjang dan teknis
bila saya jelaskan dalam artikel ini.

Sumber: Bahaya “Berpikir” Positif oleh Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication.

  1. nico
    January 12, 2012

    cuma dengan musik atau instrumen2 tertentu???….apakah gak bisa dgn pikiran sadar kita sendiri untuk ngajak pikiran bawah sadar kita buat mufakat n kerjasama???…banyak orng jaman dahulu pinter mengelola pikiran sadar n bawah sadar tanpa instrumen…..kalo kita sering berpikir negatif pikiran bawah sadar kita pasti akan menginstal program tsb…..apa gak sebaliknya klo mikir positif dgn bnr2 ada kemauan yang tinggi bs terinstal jg pikiran positif di pikiran bawah sadar? emang ada kata2 suara mulut beda dengan suara hati sebenarnya lkalo langsung pake hati n mengolah hati langsung kan bs?

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>