July 5, 2010 | Posted in:Motivasi

Saya sering menerima e-mail dari para pembaca artikel-artikel saya di kolom ini maupun mereka yang kebetulan browsing di Internet dan menemukan Web site saya. Ada beberapa orang yang mempunyai pertanyaan bagi saya. Ada yang menanyakan, apakah kriteria sukses adalah orang- orang yang telah mencapai tingkat finansial tertentu ataukah berdasarkan kerja keras? Ada pula yang menanyakan kepada saya bagaimana memacu diri untuk mencapai sukses. Terakhir, beberapa jam sebelum saya menulis artikel ini, salah satu rekan saya yang menulis blog tentang feminisme mempunyai komentar akan salah satu blog entry saya yang dia kutip dari rekannya di Inggris bahwa banyak orang Indonesia yang tidak berpikir kritis ketika berbicara. Jelas, hal ini sangat sering saya jumpai, termasuk di antara rekan-rekan asal Indonesia di tanah rantau. Artikel ini menggunakan premis bahwa bangsa yang besar dimulai dari pribadi-pribadi dignified. Bangsa Indonesia sebagaimana bangsa-bangsa lain di dunia merasa diri sebagai bangsa yang besar. Ini adalah mindset yang tepat, namun sesungguhnya, apa sih kriteria “bangsa yang besar” itu? Pertama, dignity (harga diri). Tidaklah perlu mengambil bagian yang bukan “milik” kita. Sejak kecil, ini saya terapkan pada diri saya sendiri dengan dimulai dari hal-hal kecil. Caranya mudah saja, kalau tidak diundang dan kebetulan kita mampir ke pesta makan-makan, datanglah untuk memberi salam saja, jangan ikut-ikutan makan “gratis.” Budaya “tidak mau karena bukan milik kita” ini kalau dijalankan dengan sungguh-sungguh dapat dengan mudah memberantas korupsi dan intellectual property piracy asal Indonesia yang nota bene sangat “dipandang sebelah mata” oleh dunia internasional. Kedua, hidup adalah marathon, tidak ada quick fix. Janganlah mengharapkan “kaya mendadak” atau “dapat bantuan dana besar dari luar negeri yang akan diputihkan dalam beberapa tahun” alias “uang gratis,” karena pada dasarnya hampir mustahil ada rezeki yang datang tanpa usaha. Kita bisa mulai dari diri sendiri dengan awareness penuh bahwa hidup adalah marathon, bukan sprint. Semua mesti dimulai dengan usaha-usaha kecil, yang bisa dimulai secara strategis dari “atas,” namun tetaplah humble bahwa semua usaha kecil ini akan menjadi besar secara natural, bukan dengan cara karbitan. Ketiga, berpikir dulu sebelum berbicara. Memang cukup sulit untuk berpikir dulu sebelum berbicara, terutama apabila kita sendiri kekurangan informasi akan apa yang sebenarnya terjadi dalam proporsi yang tepat. Saya teringat seorang rekan yang pernah menulis posting di salah satu mailing list bahwa “Avian flu saja kok ditakuti, wong Cuma 30-an orang yang mati di Indonesia.” Jelas ia berbicara tanpa berpikir sama sekali karena ia tidak mengenai dasar historis tentang flu yang mematikan (seperti Spanish Flu 1918 yang memakan jutaan korban) dan betapa virus flu yang telah bermutasi akan sangat mudah menular di antara sesama manusia (bayangkan dengan hanya menghirup udara di mana seorang penderita hirup, maka kita semua akan tertulari). Sekali lagi, mari kita berpikir dulu sebelum berbicara dan “do your homework” kenali sejarah dan latar belakang apa yang hendak kita bicarakan dulu sebelum membuka mulut. Keempat, empati terhadap orang lain, baik kawan maupun lawan. Siapapun lawan bicara Anda, cobalah “act gracefully,” tidak hanya menggunakan tata krama dan kesopanan yang kita kenal sehari-hari. Cobalah mengerti sudut pandang lawan atau kawan bicara Anda dan mulailah dari sana. Dengan tulus, tentunya. Ketulusan hati akan membuka banyak pintu di masa depan, yakinlah. Kelima, hati penuh syukur yang dibagi kepada orang lain. Be grateful always for what you have and don’t. Bersyukurlah akan apa yang kita miliki dan tidak miliki. Memang ini sangatlah sulit untuk dijalankan, namun dengan awareness penuh akan garis tipis yang melintasi “being grateful” dan “being ungrateful,” mestinya Anda bisa mengenali kapan Anda bertindak ungrateful. Dengan bertindak “ungrateful” seperti tidak mengerti kapan harus mengucapkan kata “terima kasih,” banyak pintu akan tertutup. Keenam, be aware of what others think of you based on what you do (the good, the bad and the ugly). Saya berusaha aware akan pikiran orang lain terhadap perbuatan saya. Ini juga membuat saya sangat memperhatikan kapan “menerima” sesuatu. Jelas bagi saya memberi adalah hal yang biasa dan tidak perlu terlalu diperhatikan, namun dengan “menerima” sesuatu, apalagi yang tidak semestinya diterima, maka dignity akan ternoda. Bukankah dignity (harga diri sebagai pribadi dan bangsa) lebih tinggi daripada “barang-barang gratis” yang bisa saya beli sendiri? Ini prinsip saya yang membuat saya sangat aware akan pemberian orang lain. Kalau pun saya terima, maka saya pasti balas dengan satu dan lain hal (reciprocity). Jika saya memperkirakan effortnya akan terlalu besar untuk saya melakukan “pembalasan budi” tersebut, maka biasanya pemberian apapun saya tolak dengan hormat. Ketujuh, kenali diri dalam “bargaining positioning” yang tepat dalam proporsinya dan kejar terus posisi tertinggi. Misalnya saja, sebagai seorang peminjam uang dari bank, jelas kita mesti memposisikan diri sepantasnya. Juga, sebagai bawahan, kita mesti “rela” diperintah- perintah (sebatas wajar dan dalam job description). Ini dilakukan dengan hati penuh kerelaan tanpa ngedumel, karena ini adalah konsekuensi. Kenali konsekuensi peran-peran yang Anda lakukan. Kedelapan, yang paling penting adalah selalu ingat akan kejadian- kejadian bersejarah, terutama yang mengusik hati nurani, seperti massacre yang dialami di tahun 1960an dan Mei 1998, serta di Aceh, Timor Timur dan Poso. Pelajari dari bangsa-bangsa lain bagaimana supaya massacre tidak terjadi sedemikian sering di tanah yang indah ini. Jangan cepat melupakan kepedihan kemanusiaan, ingatlah namun memaafkan yang masa lalu dan memastikan masa depan supaya tidak terulang lagi. Ingatlah bahwa apa yang kita lakukan sebagai pribadi akan membentuk perbuatan bangsa Indonesia. Jadilah duta besar (ambassador) bangsa Indonesia dengan menjadi pribadi Indonesia yang “tidak memalukan” di tingkat internasional. Hormatilah bangsa lain dengan menjadi bangsa yang patut dihormati. Salam sukses! Sumber: Bangsa yang Besar Dimulai dari Pribadi-Pribadi Dignified oleh Jennie S. Bev. Jennie S. Bev adalah penulis dan entrepreneur perantauan berbasis di Northern California. Baca perjuangan hidup dan prestasinya di JennieSBev.com

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>