October 10, 2009 | Posted in:Motivasi

Jessica Chandra adalah anggota baru di sanggar tari. Wanita mungil itu
selalu terlihat lincah dan riang. Gayanya luwes. Senyumnya ramah. Tidak banyakyang mengetahui usianya sudah berkepala tiga. Sepintas gayanya lebih
mirip mahasiswi daripada seorang Ibu beranak satu.

Minggu lalu Jessica terlambat. Dia t ida k ingin kejadian itu terulang lagi.
Setelah sepeda motor bututnya diparkirkan, dengan langkah tergesa-gesa
Jessica langsung menuju meja resepsionis. Masih seperti biasa,
senyum lebar selalu menyungging di bibirnya. Lalu dia menyodorkan kartu
keanggotaan untuk diabsensi.

Jessica baru menyadari air botol minum di kantong samping ranselnya kosong.
Ternyata dia lupa mengisi ulang botol minumnya karena tergesa-gesa.
Jessica mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Mencari air
dispenser. Dalam benaknya, disanggar tari sebesar itu pasti ada air dispenser
yang disediakan untuk para member.

Dengan rasa sungkan dan ragu, Jessica bertanya kepada resepsionis apakah
ia boleh meminta botol air minumnya d iis i kembali.
“Oh, boleh” jawab resepsionis.
Dipanggillah seorang pelayan dapur

“Maaf, mbak. Saya lupa mengisi air minum, boleh tolong d iis ikan ?” tanya Jessica

Jessica lalu memberikan botol minum berukuran 500 cc itu kepada pelayan
dapur. Pelayan dapur agak ragu menerima botol minum tersebut.
Dengan gelisah ia masih berdiri di sana , seakan-akan menunggu persetujuan
dari seseorang. Jessica sedikit heran. Keengganan itu terlihat begitu jelas.

Kemudian datanglah seorang wanita paruh baya. Entah siapa dia, tapi Jessica
sering melihatnya di kafe lantai bawah. Mungkin pemilik sanggar tebaknya.
Jessica merasa t ida k enak dengan tatapan tajam dari mata wanita itu.
Pelayan dapur agak gugup menjelaskan maksudku kepada wanita tersebut.

“Mbak ini minta air minum,” kata pelayan kepada wanita tua.
Wanita tua dengan sorot t ida k bersahabat berkata :
“Kenapa t ida k beli saja air mineral, dek ? Kami ada menjualnya di sini.”

Jessica menangkap pesan penolakan. Dia tau wanita itu enggan mengisikan air minumnya.

“Oh, gak boleh ya. Kalo gitu gak papa kok.”

Senyum Jessica sedikit agak dipaksa. Dia mengambil kembali botol minumnya
dari tangan pelayan dapur dan segera bergegas melangkah ke lantai dua.
Meski sedikit kecewa, Jessica menghibur diri bahwa dia t ida k akan mati dehidrasi saat latihan.

Sementara di lantai bawah, masih terdengar debat kecil antara wanita tua
itu dengan resepsionis. Jessica t ida k lagi memperdulikan. Dia hanya ingin
latihan hari itu segera usai.

***
Hari berikutnya, Jessica masih rutin mengikuti latihan seperti biasanya.
Meski ada rasa t ida k enak, Jessica tetap santun menundukkan kepalanya
sambil tersenyum kepada wanita tua itu ketika menyapanya. Jessica sama
sekali t ida k pernah menceritakan kejadian itu pada siapapun. Yang pasti sejak
itu, Jessica sangat memperhatikan botol air minumnya.

***
Suatu sore, Jessica t ida k mengendarai sepeda motor bututnya.
Suaminya berjanji akan menjemputnya. Hujan mengguyur deras sekali.
Usai latihan, Jessica segera turun. Dia melihat h ida ngan mie goreng dan nasi
goreng di meja. Malam itu adalah perayaan tahun pertama berdirinya sanggar
tari. Wanita tua itu terlihat sibuk mela yani para member lainnya.
Mengajak mereka makan. Banyak yang menolak halus, mungkin takut gemuk,
mungkin juga ingin segera pulang. Jessica pun menolak halus ketika
ditawarkan. Makan terburu-buru bukan kebiasaannya. Lagipula, dia tidak ingin
suaminya menunggu lama.

Jessica mengecek HPnya. Ternyata sms dari suaminya mengabari terlambat
menjemput.. Jessica masih berdiri di luar dan menunggu di sana .
Tiba-tiba wanita tua itu telah di sampingnya.

“Kamu lagi menunggu seseorang ?”
“Iya. Suamiku”
“Suami ? Saya pikir kamu masih mahasiswi.”
Jessica tertawa. “Aku sudah 35 tahun.”
“Menikah muda ya ?”
“28”.

Jessica t ida k tau pasti apakah umur segitu termasuk menikah muda.

“Bukankah kamu yang biasanya mengendarai sepeda motor ?” tanya lagi
wanita itu

Tentu saja mudah dikenali. Karena Jessica satu-satunya wanita yang
mengendarai sepeda motor ke sanggar. Kebanyakan member yang lain
mengendarai mobil, sebagian lagi didrop oleh supir.

“Iya. Hari ini dijemput suami, jadi aku gak bawa motor.”

“Oh, itu dia jemputanku” Jessica menunjuk pada sebuah mobil Mercedes
hitam mengkilap seri terbaru yang berhenti pas di tempatnya menunggu.

“Bukankah Itu mobil Bapak Ardiansyah ?” tanya wanita tua penuh rasa
penasaran.
“Yah, Ardiansyah adalah suamiku.”

Wanita itu terkejut. Tatapannya masih t ida k percaya ketika melihat
Jessica melambaikan tangan dan menembus hujan masuk ke dalam mobil.

Mobil itu telah lama berlalu, tapi wanita tua masih berdiri sana ,
melongo.
Ketika memori membawanya kembali pada kejadian air minum itu,
rasa malu menghantam keras hatinya. Tiba-tiba dunia terasa gelap.

Ardiansyah !
Dia adalah sponsor utama yang selalu mendukung kegiatan sanggar tarinya.
“Oh, t ida k …”

***
Sahabat, Kita sering menganggap diri kita adalah orang baik. Tapi ketika
kita dihadapkan pada bungkus luar dari apa yang mereka pakai,
dari kendaraan yang digunakan, begitu gampangnya sikap hati kita berubah.

Bila ‘bungkus luar’ itu bagus, kita cenderung ‘mengangkat tinggi-tinggi’
orang tersebut. Sebaliknya bila ‘bungkus luar’ jelek, kita lalu menjengkalnya,
menyepelekan mereka. Senyum kita jadi palsu. Kebaikan hati kita jadi basa-basi.

Hendaknya di dalam pelayanan, kita juga tida k memandang ‘bungkus luar’
dari tiap-tiap orang.

best regard,

tien indra navarone

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>