September 14, 2009 | Posted in:Motivasi

Jika cendolku ini habis terjual, akan kubeli seekor induk ayam. Lalu
ayamnya kupelihara. Bertelor banyak sekali. Selanjutnya aku memiliki
banyak anak ayam,” demikian seorang tukang cendol berangan-angan
sambil setengah mengantuk. Sementara cendolnya sejak pagi belum juga
laku barang segelaspun. Dia bersandar pada batang pohon yang rindang
sehingga terlindung dari sengatan matahari. Dia berharap semoga ada
pembeli menghampiri. Anaknya yang belum terjamah wajib sekolah, ikut
menemaninya berjualan. Di balik pohon itu si anak asyik bermain
jangkrik.

“Wah, kalau ayam-ayam ini kupelihara terus pastilah jadi babon semua.
Kujual, lalu kubeli kambing betina sebagai gantinya,” pikir tukang
cendol melanjutkan angannya. Begitu asyiknya ia berkhayal, sampai
setengah mengingau, sehingga memancing perhatian anaknya.

“Kambing lalu besar. Beranak pinak. Lalu menjadi besar. Kujual semua.
Lantas kubeli anak kerbau. Kupelihara baik-baik, jadi besar, wah …
aku ini kaya. Punya banyak kerbau, he … he … he,” tukang cendol benar-
benar hanyut oleh sukacita menikmati khayalnya.

“Nanti kerbaunya boleh saya naiki, ya pak? kata anaknya yang dari
tadi menyaksikan bapaknya mengigau, melakonkan impiannya seolah-olah
telah terjadi.

Kaget oleh interupsi ini sang bapak menghardik, “Tidak boleh.
Nantinya kerbaunya jadi cebol!”

“Boleh dong pak! Masak sih kerbau jadi cebol?” rengek anaknya. Merasa
terganggu, dijitaklah anaknya sampai menangis dan berlari menjauh.

Tukang cendol tak perduli dan melanjutkan khayalnya, “Kerbau-kerbauku
kujual semua lalu kubeli jip: rrrrr … kuinjak gasnya … lari … oh …
asyik …!” sambil mempraktekkan menekan pedal gas jip barunya.

Tapi malang, pedal jip dalam impian yang ditekan itu ternyata gentong
cendol. Gentong berantakan. Cendol tumpah disertai berakhirnya mimpi
di siang bolong. Dengan wajah lesu dipandangnya cendol yang
berserakan di tanah. Ia tak tahu harus berbuat apa. Si anak yang
sudah berhenti menangis dan berdiri agak jauh, terkejut mendengar
bunyi gentong pecah. Ia tak mengerti mengapa bapaknya “ngamuk”.

Sayang memang, padahal impian itu sebetulnya feasible. Namun,
terlepas dari kemalangan yang menimpanya, tukang cendol tersebut
telah mampu membangun dalam pikirannya suatu cara menjadi kaya.
Perkara apakah jalan pikiran itu dapat direalisasikan, itu memang hal
lain.
Tak kurang Johann Wolfgang Van Goethe pernah berkata, “Thinking is
easy, acting is difficult, and to put one’s thought into action is
the most difficult thing in the world”.

Hal yang tersulit ini, tak enaknya, harus mampu dilakukan oleh
manajer. Manajer harus bisa “to get (planned) things done”. Atau
sebaliknya: ukuran kemanajeran seseorang ialah apakah ia mampu
membuat ide menjadi kenyataan: dari cendol menjadi jip!

Semoga Anda para manajer, diberiNya kekuatan dan kebijaksanaan
melakukan hal yang tersulit ini.

Sumber: Kunci Kegagalan oleh Jansen H Sinamo – Jansen Sinamo
WorkEthos Training Center

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>