December 26, 2009 | Posted in:Motivasi

Akibat barang haram itu, Indonesia kini telah kehilangan salah satu
atlet terbaiknya dari cabang olahraga loncat indah. Sungguh sayang,
kerja keras yang dibangun Temmy Kusuma (25) sejak 20 tahun silam,
harus terkubur akibat jeratan narkoba yang tak mampu dihindarinya.
Yulita Herawati (43), sang ibu, menuturkan panjang lebar tentang
Temmy, sosok pemuda pendiam yang sesungguhnya menjadi kebanggaan
orang tuanya ini.

Bagi Yulita (Ita) mengenang masa-masa indah bersama putra pertamanya
yang lahir di Jakarta, 17 September 1976 itu, seperti
bermimpi. “Kadang-kadang saya masih menganggap ini mimpi. Rasanya
baru kemarin Temmy lahir dan saya rawat. Sampai kemarin saat
berkunjung ke makamnya, saya masih tak bisa menahan keluarnya air
mata ini,”serunya dengan suara tertahan.

Temukan Bakat di Usia 5 1/2 Tahun
Di Senayan ia mulai memperkenalkan Temmy dengan dunia renang. “Selama
3 bulan ia saya masukkan les privat renang. Walaupun masih kecil,
Temmy tergolong anak yang sangat berani. Kala berenang di kolam, kaki
dan tangannya sangat lincah bergerak. Gaya berenang Temmy inilah yang
akhirnya dilirik pelatih loncat indah Siantiningsih dari klub Tunas
Inti. Sepertinya ia ada bakat,”terang Ita menceritakan awal terjun
Temmy di dunia loncat indah.

Tahun 1982 Temmy mulai mengawali latihan. Nampaknya ia menyukai olah
raga yang sebenarnya masih asing di telinganya itu. Selama ini Ita
yang memang selalu menemani berlatih dan mengawasi pada setiap
kejuaraan yang diikuti Temmy. Sang suami, Kusumayadi, yang berdinas
di Pertamanan DKI dan sempat bekerja dua tahun di Jeddah, Arab Saudi,
hanya bisa mendengar prestasi anaknya lewat telepon atau surat.
Nampaknya sang ayah pun sangat bangga, meski hanya mengetahui lewat
foto yang dikirimkan sang istri.

Kerja keras Temmy ternyata berbuah manis. Meskipun ia termasuk
anggota termuda di klub Tunas Inti, namun keinginan besarnya untuk
menjadi juara selalu terpatri dalam hatinya. “Saat ikut kejurnas
beberapa kali, ia selalu meraih medali. Di usia 10 tahun ia sudah
ikut PON. Meski awalnya tidak ditargetkan, tapi toh ia berhasil
meraih Perunggu. Sebagai orang tuanya saya sangat bangga pada
Temmy,”tutur Ita mengenang masa lalu.

Sejalan bertambahnya waktu, Ita semakin jarang menemani Temmy
berlatih. Ia hanya mengawasinya dari jauh. Menginjak bangku SMA,
dilalui Temmy di SMA Ragunan. Temmy sempat kuliah di ASMI selama tiga
semester. Waktu itu tahun 1996 ia memutuskan meminang Lilis, gadis
pilihanya yang terhitung saudara dekatnya. Sebagai orang tua, Ita dan
suami tidak bisa melarang. Mereka akhirnya mengizinkan penikahan itu,
asal Temmy melanjutkan studinya. Namun sayang, Temmy tidak mampu
menyanggupinya.

Sebelum menikah dan terlibat pemakaian obat-obatan, prestasi Temmy
sangat gemilang. Peloncat Indah dengan spesialisasi papan 3 meter dan
1 meter ini, ternyata bermental juara. Tercatat beberapa kemenangan
yang telah diraihnya. Saat ikut SEA Games di Manila, Filipina (1991),
Temmy meraih medali emas untuk papan 3 meter. Tahun 1993 ia mengulang
sukses di kejuaraan dan lompatan yang sama di Singapura. Terakhir
saat SEA Games di Chiang Mai, Thailand (1995), ia menyumbang emas
untuk lompatan papan 1 meter. Pada kejuaran Pekan Olahraga Nasional
(PON) tahun 2000 lalu, Temmy hanya meraih medali perunggu. Ternyata
itulah saat terakhir kejayaannya sebagai seorang atlet senior loncat
indah yang dimiliki Indonesia.

Terjerumus Akibat Pengaruh Teman
Segudang prestasi yang diraih Temmy, telah memberinya banyak peluang
dan kesempatan untuk mendapatkan segalanya. Kesempatan berkeliling
dunia dan menggapai harapan dari hasil jerih payahnya itu sudah
membuat orang tuanya bangga. “Saya senang Temmy bisa meraih apa yang
jadi cita-citanya. Ia bisa punya mobil dan rumah dari bonus-bonus
yang diterimanya. Saya ingat sebelum ia menikah, saya yang selalu
nungguin latihan. Dia pun selalu pamitan dan minta doa restu sebelum
bertanding,”kenang Ita getir.

Setelah menikah, Temmy tinggal bersama istrinya di Bendungan Hilir.
Setahun kemudian dari pernikahan itu, lahirlah Rere, putra
pertamanya. Sejak saat itu Temmy tidak lagi dekat dengan sang ibu.
Ternyata bersamaan dengan kelahiran putranya, Temmy mulai terjerat
penyalahgunaan psikotropika jenis shabu-shabu. Menurut pengakuannya
sebelum meninggal, Temmy mendapatkan bubuk haram itu secara cuma-cuma
dari seorang atlet yang ditemuinya saat pelatnas di sebuah hotel di
bilangan Jakarta Selatan. Belakangan, dialah yang mencari sendiri
barang terlarang itu, dan bertambah parah setelah kenal jarum suntik.

Pada awalnya sang istri yang mengetahui suaminya kecanduan narkotika
tidak bisa berbuat banyak. Ia cenderung menutupi perilaku buruk
suaminya. Tapi sebagai seorang ibu, Ita pun merasakan gelagat buruk
putranya yang mulai menjual sedikit demi sedikit barang yang mereka
punya. “Waktu itu saya enggak ngeh saat Temmy mau menjual mobilnya.
Ia bilang untuk modal usaha. Tapi setelah tahu ia menjual mobil dan
rumahnya, saya mulai curiga. Pokoknya prosesnya cepat sekali. Barang-
barangnya lama-lama habis, “ujarnya dengan muka kecewa. Karena tak
kuat lagi dengan perilaku Temmy, sang istri akhirnya mengadukannya
kepada Ita dan suaminya.

Sempat Terpikir Pasung Temmy
Selama masa-masa sulit mengurus Temmy, Ita dan keluarganya berusaha
memberi nasihat dan kepercayaan penuh pada Temmy. Pada awalnya Ita
percaya pada ketulusan Temmy yang ingin sembuh. Namun setelah barang-
barang yang dimilikinya satu persatu hilang kembali, ia mulai curiga
kalau anaknya belum sembuh benar.

Karena tak tahu lagi cara menghentikan Temmy dari ketergantungan
obat, Ita dan suaminya berpikir untuk memasungnya. “Tapi pikiran itu
buru-buru dihalaunya. Saya kasihan dan takut ia menyakiti dirinya
sendiri,” pikir Ita waktu itu. Berbagai upaya pengobatan, baik
alternatif maupun medis telah dijalani Temmy. Meski bersamaan dengan
itu sang suami harus masuk rumah sakit selama 2 bulan karena
terserang stroke. Sebelum meninggal Temmy pernah berobat ke
Parmadisiwi, Pesantren di Bogor, dan di Inabah dengan pengawasan Abah
Anom. “Di Inabah selama 6 bulan kelihatannya ia sudah sembuh. Tapi
itu hanya bertahan satu bulan dan make lagi setelah bertemu dengan
teman-temannya,”tutur Ita, anak keenam dari 12 bersaudara yang
terlihat amat letih ini.

Narkoba telah merenggut harta dan akhirnya miliknya yang paling
berharga, yakni sang putra. Setelah semua barang yang dimilikinya
ludes -barang yang sempat terselamatkan dititipkannya pada tetangga
dan saudara-Temmy mulai sakit. Ternyata ia sudah mengalami komplikasi
pada jantung, paru-paru, dan levernya. “Empat bulan yang lalu setelah
tak ada lagi barang yang bisa dijual, Temmy mulai sakit. Ia kepayahan
untuk bernafas. Saya bawa dia ke RS Tangerang. Setelah dua hari
pindah ke RS Pamulang, terakhir ke RS Bintaro
Internasional, “ceritanya sedih. .

Karena kesulitan biaya akhirnya Temmy berobat jalan di rumah. Selama
perawatan di rumah, Temmy tak henti-hentinya mengucap takbir,
berzikir, dan istigfar. “Baiknya di hari-hari terakhirnya Temmy masih
bisa berdoa walau dengan suara tertahan karena sakit. Tiga hari
sebelum kematiannya, Temmy minta dipertemukan dengan sang nenek.
Sambil ngesot ia meraih gagang telepon dan mengontak neneknya. Tapi
takdir menentukan lain. Sang nenek hadir di hari setelah
kepergiannya”ungkap Ita sedih.

Sebelum pergi Temmy juga sempat meminta ayahnya untuk mengeloninya
tidur. “Dari pukul 12 hingga 2 dini hari, ia minta dikeloni sama
Bapaknya. Setelah itu ia pergi menghadap Sang Khalik,”ujar Ita tabah.
Meskipun tindakan Temmy sempat membuatnya kesal dan marah, namun
sebagai ibu ia sudah memaafkan tindakan putra pertamanya itu. “Kami
sudah ikhlas melepasnya pergi. Saya sudah memaafkan dan mendoakan
Temmy agar Allah mengampuni segala dosanya,”katanya dengan suara
parau tersekat.

Hari-hari yang penuh penderitaan telah dilalui Ita dan
keluarga. “Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kami dan masyarakat
banyak. Saya mengimbau agar jangan sekali-kali memakai Narkoba.

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>