June 15, 2010 | Posted in:Motivasi

Mungkin ada pertanyaan hadir, maksudnya apa?
Atau, kalau bukan sebagai motivator, terus apa? Note ini saya
persembahkan untuk diri saya sendiri. Bila mungkin cocok dan
bermanfaat, saya persembahkan juga Kepada shahabat muda, yang usianya
seperti saya saat ini. Memiliki keinginan sebagai publik speaker,
terutama ingin ”menggelari diri” sebagai Motivator.

Hari ini saya sadari. Ternyata ada kekeliruan pemikiran, pemahaman dan
penyikapan dalam diri saya, terhadap nama, profesi atau panggilan
Motivator. Saya benar-benar telah salah kaprah. (semoga kekeliruan
ini, tidak terulang lagi kepada shahabat muda yang memiliki cita-cita
mulia ini). Oh ya? Betul. Saya telah menyikapi dengan amat keliru.

Dulu pernah seorang Coach bertanya. ”Apa yang mendasarimu menjadi
Motivator?” Disaat itu memang, yang membuat saya ingin menjadi
pembicara yang bisa memotivasi, karena saya merasakan semangat dan
gairah yang luar biasa dalam diri saya, setelah mengikuti training
motivasi. Dalam benak saya ”Pantasan orang-orang dijakarta memiliki
semangat hidup, karena ada kegiatan seminar / pelatihan yang
membangkitkan gairah, semangat dan penuh inspirasi. Sementara selama
saya di Aceh, saya belum pernah mendapatkan hal demikian. Oleh karena
itu, saya mau menjadi Motivator”.

Selain itu, saya dulu juga melihat kehidupan para motivator (guru-guru
dan senior). Menjalani hidup yang menggiurkan dalam hal financial
(anggapan saya sepeti itu dulunya). Dikenal oleh banyak orang.
Jalan-jalan keluar kota, bahkan luar negeri. Itupun membuat saya
semakin mau menjadi motivator.(Keliru#1 kurang jelas misi Sehingga
menjadi bohong kepada diri yaitu; selama ini kalau ditanya mengapa mau
menjadi motivator, Jawaban yang saya berikan terkesan sangat mulia
”Mau membantu orang lain agar mendapatkan hidup yang lebih baik”).

Selanjutnya saya pun mulai melakukan apa yang saya baca dibuku-buku
motivasi, bagaimana mendapatkan apa yang kita mau. Pemberanian diripun
terjadi dengan menuliskan ”Motivator” Sebagai profesi saya. Kebenaran
saat itu, saya memiliki cara pandang instant dalam diri. Itulah
kenyataannya, dengan menganggap cukup menggunakan ilmu ATM, Amati,
Tiru dan Modifikasi. Jadilah Motivator instant. Padahal diindonesia
Cuma 2 hal yang instant; susu instan dan Mie instan
he…he…(Keliru#2. Menggampangkan dan mengaharapkan cara-cara /
proses mudah/instant).

Shahabat Motivator muda, itulah kekeliruan saya. Yaitu MINDSET Terlalu
menggampangkan, menganggap mudah, bahkan hidup tenang serta menjadi
dikenal banyak orang, bila menjadi motivator. Guru saya pernah
mengingatkan ”Ketahuilah, dalam konteks profesi. Kamu sesungguhnya
bukanlah apa yang kau kenalkan (mengenalkan diri), tetapi dirimu
sebenarnya adalah karena dikenalkan (dikenal)”. Ini bukan persoalan
salah ataupun benar. Tetapi lebih kepada cara pandang dan Attitude
yang melekat pada profesi tersebut.

Sementara itu, yang membuat saya sadar siapa diri saya sesungguhnya,
setelah mendapatkan penjelasan dari bapak Rhenal Kasali ”Who is
Motivator?”. Penjelasan beliau sangat menyentil diri saya, sehingga
sekarang saya sadar, belum pantas mengelari diri sebagai Motivator.
Karena menurut beliau seseorang bisa dikatakan motivator bila :

Tempaan sejarah hidup.
Sejarah hidup yang telah dia lalui, memberikan inspirasi dan semangat
bagi orang lain. Proses perjalanan yang dia lalui membuat orang
termotivasi. Yaitu melalui proses cerita dan materi yang disampaikan,
merupakan sejarah real kehidupan nyata yang dia lalui. (Walk to talk)

Bingkai ilmu.
Tapi sangat naif juga, sejarah yang telah dilalui, kemudian cara-cara
itu diaplikasikan juga untuk orang lain. Sementara setiap kita
berbeda. Walaupun esensinya adalah sama. Bingkai ilmu yang dimaksud
adalah knowlegde dan skill, sehingga dengan begitu didapatlah sebuah
roadmap dan desain sesuai (congruen) yang ditiupkan oleh ruh-ruh
pengalaman kepada orang lain.

Dari penjelasan beliau tersebut, saya berkaca diri. Untuk saat ini
belumlah pantas menyebut diri sebagai motivator. Karena masih sedikit
sejarah diri yang bisa disampaikan. Tetapi, belum adanya pengalaman
bukanlah alasan untuk tidak bertindak, karena semua itu bermula dari
proses langkah pertama. Mungkin, perkataan pak Ronny tepat, saat
ketemu beliau di Rilzt Carlton. Beliau menyebut saya sebagai Tsunami
Survivor..

Akhirnya, saya yakin, apapun nama, istilah ataupun sebutan yang saya
gunakan. Itu semua kembali kepada perilaku dan karakter yang melekat
kepada diri
( Oleh : Rahmadsyah,CM.NLP – Trainer & Mind-Therapist )

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>