John Wick: Chapter 3 – Parabellum (Review bagian 2)

Bagian 2 : Sejarahnya

Oleh Hafiiz Yusuf

Masyaf Castle, salah satu kastil Assassins. Photo: Nabih Farkouh – CC BY-SA 3.0

Film John Wick Chapter 3 menampilkan dunia “Assassin” yang lebih luas. Menyelam makin dalam ke dunia para assassin (pembunuh). Dunia bawah tanah yang penuh dengan misteri, mitos, kode etik dan rahasia gelap. Dalam adegan di Casablanca, John Wick memohon pertolongan kepada Berrada, petinggi assassin yang mengelola produksi koin/medali.
Berrada berkata “ dari mana assassin berasal? Banyak pendapat, penghisap hasish, opium, pengikut Al Hassan.. atau yang lain. Assassiyun. Orang yang patuh peraturan.” Ungkap Berrada.

John Wick mengikuti petunjuk Berrada, menyusuri padang pasir untuk menemui petinggi High Table demi memohon ampunan. Adegan John Wick di gurun pasir saat malam hari sungguh indah. Dengan pemandangan langit malam penuh bintang, seorang pria berjas hitam berjalan tersuruk di tengah gurun pasir.

Menurut kamus Oxford, assassin dalam bahasa Inggris berasal dari Al-Hasysyasyin, nama sebuah sekte di Alamut Selatan, Persia, pada abad pertengahan. Kelompok sekte pembunuh dengan wilayah operasi Timur Tengah. Yang tanpa takut membunuh siapapun yang menjadi musuh mereka.
Ada juga sumber yang menyebut mereka sebagai kaum penghisap hashish, (sejenis opium). Konon dengan menghisap hasish, para pembunuh ini jadi kehilangan rasa takut ketika melaksanakan misinya. Tapi sumber ini tidak bisa diverifikasi kebenarannya karena sekte Hasysyasyin dikenal sebagai sekte taat aturan Islam yang melarang konsumsi candu.

Bagi sang pendiri sekte, Hassan Al Shabbah, Al-Hasysyasyin berarti Assassiyun. Artinya kurang lebih kaum yang taat asas. Taat asas maksudnya setia, patuh, dan tunduk pada asas Islam. Atas nama kepatuhan inilah, para pengikutnya sanggup membunuh siapapun tanpa takut.
Musuh yang dibunuh termasuk para pejabat, orang penting, bangsawan, pejabat, pangeran, sultan termasuk orang biasa. Dengan membunuh tokoh politik atau pejabat penting, kelompok ini menimbulkan ketakutan dan keresahan bagi lawannya.

Nizam al-Mulk, seorang Perdana Menteri Kesultanan Turki Seljuk , menjadi korban pembunuhan assassin. Seorang assassin yang menyamar menjadi sufi membunuhnya pada 1902.
Al-Hasysyasyin juga beroperasi saat Perang Salib berkecamuk. Marquis Conrad of Montferrat, raja Jerusalem, dibunuh pada 28 April 1192. Dalam misi itu, assassin menyamar menjadi biarawan Kristen. Karena waktu yang lama hingga menjadi kepercayaan raja sehingga bisa dekat bersama sang raja. Ketika saat yang ditunggu tiba, para assassin menusuk raja hingga tewas.

Lukisan abad ke-14 menggambarkan pembunuhan Nizam Al-Mulk

Sekte kaum pembunuh ini  harus mengakhiri sepak terjangnya ketika berhadapan dengan orang-orang Mongol. Tentara Mongol menyerbu semua benteng pertahanan Al-Hasysyasyin. Kemudian Mongol mengeksekusi pimpinan assassin beserta pengikutnya. Menyudahi kisah para assassin untuk selamanya.

Asssassin sebagai sebuah organanisasi fisik memang telah dihancurkan pada abad ke 13 oleh orang-orang Mongol. Tapi assassin sebagai idelogi tidak bisa dihapus begitu saja. Hingga saat ini masih ada orang-orang yang sanggup membunuh orang lain atas dasar taat asas. Menyebarkan ketakutan, kepanikan pada orang banyak.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ERROR: si-captcha.php plugin: GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them to enable GD image support for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin: imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them to enable imagepng for PHP.

Archives
Categories