September 15, 2010 | Posted in:Motivasi

Orang sering mencampuradukkan hakikat diri dengan banyaknya uang yang dihasilkannya. Lazimlah anggapan orang kaya punya peluang lebih besar daripada orang miskin. Padahal apakah dia berpenghasilan US$1 juta setahun atau hanya US$15.000 setahun, setiap orang masih berkemampuan meraih tingkat keberlimpahan tertentu dalam hidupnya.

Bisa dicontohkan saat Nazi menguasai Jerman, banyak sekali warga masyarakat yang kaya raya dirampas-tumpas kehidupannya dalam arti sesungguhnya. Mereka yang hartanya disita ini kemudian dibawa dan dipastikan nasibnya di kamp-kamp konsentrasi. Namun dalam tekanan hampir niscaya berujung maut itu bisa dijumpai sosok-sosok inspirator istimewa.

Sebut Viktor E. Frankle atau Anne Frank yang meskipun berada dalam situasi kemiskinan terburuk karena tak ada sesuatu pun yang tertinggal, kini mereka dianggap punya kehidupan berkelimpahan. Dalam Man’s Search for Meaning, Frankle mengatakan bahwa satu-satunya milik pribadi yang tak akan pernah dapat diambil adalah sikap.

“Kami yang hidup di kamp-kamp konsentrasi bisa mengingat sejumlah penghuni kamp saat berjalan menuju ruang eksekusi berusaha membantu orang lain, memberikan potongan terakhir rotinya. Mungkin potongan itu tak berarti, tapi mereka mereka memberi cukup bukti bahwa apapun bisa dirampas dari seorang manusia, kecuali satu: `kemerdekaan terakhirnya’ untuk memilih satu sikap dalam situasi penuh keterbatasan, memilihcaranya sendiri.

Frankle yang seorang psikolog, mengadopsi satu sikap kreatif yang membantunya bertahan dalam neraka dan mimpi buruk kehidupan di satu kamp konsentrasi. Dia bisa mewujudkan keberlimpahan internal dirinya dengan menjalankan haknya melakukan itu. Sikap sama memandunya meniti setapak untuk mencapai dan hidup dalam keberlimpahan begitu keluar kamp konsentrasi.

Kita Saluran Keberlimpahan
Saat berpikir tentang kesejahteraan (prosperity), pengertian bahwa sumber dayalah yang mengalir menuju diri seseorang akan sangat membantu pemahaman. Kita hanya semacam saluran bagi keberlimpahan.
Begitu hal ini disadari, selanjutnya kita meulai mengidentifikasi fakta dan kenyataan bahwa kita juga yang menentukan bagaimana mengalirkan sumber daya ini.

Frankle menegaskan adanya pembedaan ini saat dia dikurung di sejumlah kamp konsentrasi, saat satu per satu barang miliknya dilolosi dari tubuh, termasuk sepatunya. Satu-satunya yang tertinggal dalam dirinya adalah kemampuan untuk meyakini dan memegang teguh gagasan dia masih orang yang baik, meskipun semua telah dirampas.

Inilah pembedaan penting yang harus dibuat karena dengan begitu kini punya atau tidak punya uang tidak lagi merupakan bagian dari pertanyaan tentang harga diri (self-worth). Uang tidak menentukan siapa Anda karena hanya satu merupakan satu sumber daya. Yang sungguh penting adalah punya satu rasa diri (inner sense of self). Uang hanya satu unsur eksternal.

Begitu seseorang berhenti menyamakan harga dirinya dengan uang, pintu- pintu kemungkinan pun berayun membuka baginya karena mereka mau mencoba lebih banyak hal. Sejak mereka punya perasaan yang lebih baik tentang dirinya, mereka menjadi lebih berani dan membuka pikiran dan wawasannya untuk mencoba sesuatu dengan cara yang sama sekali beda.

Jadi, dalam istilah para pakar Neuro Linguistic Programming (NLP), penentu sukses tidaknya usaha yang dilakukan hanya soal berkata pada diri sendiri, “Inilah hasil yang kuinginkan dan ada sejumlah cara tersedia yang bisa dilakukan untuk mencapai. Sejumlah kemungkinan.
Jika cara yang satu gagal, kemudian aku akan mencoba cara yang lain.”

Dan bila hasil masih belum sesuai yang diharapkan, itu hanya merupakan umpan balik bahwa Anda perlu mencoba cara yang lain lagi.
Hal ini tak berarti Anda gagal atau pribadi yang menyedihkan. Itu hanya berarti ada satu atau lebih cara di luar sana yang akhirnya akan berfungsi dan itu berada di luar diri Anda. Anda masih orang yang sama di dalam diri.

Yang Terpenting: Sikap
Mengukur harga diri dari seberapa banyak duit yang dimiliki seseorang bisa sangat merusak. Bisa dicontohkan dari cerita seorang wanita yang punya kekayaan senilai US$17 juta yang dirancang baginya dalam satu rekening dana perwalian oleh orangtuanya. Rekening itu akan menghasilkan bunga sedikitnya US$800.000 per tahun selama dia masih hidup.

Wanita ini menemukan identitas dan harga dirinya dalam gaya hidup
(lifestyle) yang dijalani sehari-hari dan seberapa banyak yang dimilikinya. Dalam satu kesempatan jalan-jalan cuci mata di satu department store di kotanya, dia membelanjakan US$18.000 di bagian pakaian dalam.

Hampir semua yang dilakukannya—khususnya saat membelanjakan uang berjumlah besar—merupakan hasil membandingkan diri dengan kakaknya.
Saudarinya ini juga dalam situasi sama: punya rekening perwalian yang memberi hasil banyak dari bunganya saja. Namun sang kakak ini tak pernah menilai uang sebagai salah satu aspek yang menentukan identitasnya.

Sang kakak tak pernah menjadikan seberapa banyak kekayaan sebagai penentu harga dirinya. Baginya semua yang dinikmati sekarang akan berkurang dan bahkan hilang bila ada masalah. Dia menikah dan memulai sejumlah bisnis bersama suaminya. Mereka akhirnya menjadi sangat sukses dengan usaha sendiri dan setelah bertahun-tahun penghasilan dari dana perwalian relatif kecil dibandingkan penghasilan dari bisnisnya.

Dalam kurun waktu sama, wanita yang mendasarkan identitas dan harga dirinya pada apa yang dimilikinya menariknya terus membelanjakan uang dalam jumlah besar untuk bisa mengimbangi kakaknya. Wanita itu akhirnya bangkrut karena hanya mengandalkan dari satu sumber daya.
Inti cerita ekstrim ini menegaskan: sikaplah yang menentukan orang akan terus dalam keberlimpahan atau bangkrut.

Sumber: Keberlimpahan adalah Sikap Hidup oleh Rab A. Broto. Rab A.
Broto adalah penulis dan editor alumni Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Pengembangan Yogyakarta (LP3Y) dengan pengalaman 10 tahun. Kini Rab A. Broto Buletin pemimpin redaksi “Bee Parents” dan anggota dewan redaksi majalah bulanan “Indonesian Tax Review Digest” yang diterbitkan Lembaga Manajemen Formasi

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>