March 3, 2010 | Posted in:Motivasi

Carl orang yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dia selalu menyapa orang
dengan senyum lebar dan jabat tangan yang kuat. Meskipun telah tinggal di
daerah kami selama lebih dari 50 tahun, tak seorang pun yang kenal baik
dengannya.

Sebelum pensiun, dia pergi kerja dengan naik bus tiap pagi. Pandangannya
yang kesepian saat menyusuri jalan seringkali membuat kami kuatir. Dia
agak pincang karena luka bekas peluru yang dialaminya saat Perang Dunia II.

Melihat dirinya, kami kuatir bahwa sekalipun dia selamat dari PD II,
mungkin dia tidak bisa selamat dari perubahan di daerah kami yang
menunjukkan makin meningkattnya kekerasan, kegiatan geng dan narkoba.

Ketika dia melihat selebaran dari gereja setempat yang mencari sukarelawan
untuk memelihara kebun di belakang rumah pendeta, dia merespon dengan cara
yang tak terduga. Tanpa banyak bicara, dia langsung mendaftar. Dia masih
sehat untuk usianya yang sudah 87 tahun, ketika akhirnya hal yang selalu
kami kuatirkan itu terjadi.

Saat itu dia baru selesai menyiram kebun, ketika tiga orang anggota geng
menghampirinya. Tanpa mempedulikan usaha mereka untuk mengancamnya, dengan
tenang dia bertanya, “Kalian mau minum dari selang ?”

Yang paling tinggi dan bertampang paling garang dari antara ketiganya
berkata ,”Ya, tentu saja”, dengan senyum licik. Saat Carl memberikan
selangnya kepadanya, dua orang lainnya menangkap lengan Carl dan
mendorongnya hingga jatuh. Sementara selang itu terjatuh ke tanah,
mencipratkan air ke sana sini, sementara pengganggu-penggangu Carl
mengambil jam tangan pensiunan dan dompetnya, kemudian melarikan diri. Carl
berusaha untuk bangun, tetapi dia terjatuh pada kakinya yang pincang.

Dia terbaring di sana, berusaha untuk bangkit, ketika sang pendeta datang
berlari untuk menolongnya. Sekalipun sang pendeta telah melihat serangan
itu dari jendela, dia tidak cukup cepat untuk sampai ke sana dan
menghentikannya. “Carl, kamu baik-baik saja? Apakah kamu luka?” sang
pendeta bertanya padanya sambil membantu Carl berdiri. Carl hanya mengusap
dahinya sambil menghela napas dan menggelengkan kepala.

“Hanya beberapa anak yang terabaikan. Saya harap suatu saat mereka akan
menjadi lebih bijak.” Bajunya yang basah menempel pada tubuhnya yang kurus
saat dia membungkuk untuk mengambil selang. Dia menyalakan kran lagi dan
mulai menyiram.

Dengan bingung dan sedikit perhatian, sang pendeta bertanya, “Carl, apa
yang kamu lakukan ?”
“Saya harus menyelesaikan menyiram. Belakangan ini udara sangat kering”,
jawabnya tenang. Lega melihat bahwa Carl benar-benar tidak apa-apa, sang
pendeta hanya dapat terheran-heran. Carl adalah orang dari waktu dan tempat
yang berbeda.

Beberapa minggu kemudian ketiga orang itu kembali. Sama seperti sebelumnya,
ancaman mereka tidak mendapat perlawanan. Carl kembali menawarkan mereka
minum dari selangnya. Kali ini mereka tidak merampoknya. Mereka merampas
selang itu dari tangannya dan membasahi tubuhnya dari kepala sampai kaki
dengan air dingin.

Setelah selesai menyiksanya, mereka pergi ke jalanan, sambil mengumpat dan
memaki-maki, tertawa satu sama lain tentang betapa lucunya apa yang baru
saja mereka lakukan. Carl hanya menatap mereka, kemudian ia berpaling pada
matahari yang memberikan kehangatan, memungut selangnya dan melanjutkan
menyirami kebun.

Musim panas dengan cepat berganti menjadi musim gugur. Carl sedang
melakukan pekerjaannya di kebun ketika dia dikejutkan oleh seseorang yang
datang tiba-tiba di belakangnya. Dia jatuh dan menimpa batang-batang
evergreen. Saat dia berusaha berdiri kembali, dia menoleh dan dilihatnya
pemimpin berbadan tinggi dari berandalan yang menyiksanya musim panas lalu,
mengulurkan tangan kepadanya. Dia menutupi dirinya untuk berjaga-jaga
terhadap serangan yang mungkin datang. “Jangan kuatir pak tua, saya tidak
akan melukai anda kali ini.” Kata pemuda itu dengan lembut, sambil tetap
mengulurkan tangannya yang bertato dan penuh goresan kepada Carl.

Saat membantu Carl berdiri, pemuda itu mengeluarkan sebuah tas kumal dari
sakunya dan memberikannya kepada Carl.
“Apa ini?” tanya Carl.
Itu barangmu”, jelas pemuda itu. “Semua barangmu kukembalikan, juga uang
yang ada di dompetmu.”
“Aku tidak mengerti, ” kata Carl. “Mengapa kamu menolongku sekarang?”
Pemuda itu menggeser kakinya, tampak malu dan sakit. “Aku telah belajar
sesuatu dari engkau”, katanya. “Aku bergabung dengan gang itu dan melukai
orang-orang seperti engkau. Kami memilihmu karena engkau sudah tua dan kami
tahu kami bisa melakukannya. Tetapi setiap kali kami datang dan melakukan
sesuatu terhadap engkau, bukannya engkau berteriak atau melawan, tetapi
bahkan menawarkan kami minum. Engkau tidak membenci kami meskipun kami
membencimu. Engkau tetap menunjukkan kasih terhadap kebencian kami.” Dia
berhenti sejenak. “Aku tidak bisa tidur setelah kami mencuri barangmu, jadi
ini kukembalikan.” Dia berhenti lagi beberapa saat, tidak tahu apa lagi
yang harus dikatakannya. “Kupikir tas itu adalah caraku mengucapkan terima
kasih karena telah menguatkan aku.” Dan sambil berkata demikian, pemuda itu
melangkah keluar ke jalanan.

Carl melihat kantong di tangannya dan dibukanya dengan perlahan.
Diambilnya jam pensiunannya dan dipasangnya di pergelangan tangannya. Saat
membuka dompetnya, diperiksanya foto pernikahannya. Dia memandang sejenak
kepada mempelai wanita yang masih tersenyum balik kepadanya sejak
bertahun-tahun yang lalu.

Carl meninggal pada suatu hari yang dingin setelah hari Natal di musim
dingin itu. Banyak orang menghadiri pemakamannya meskipun cuaca buruk.
Secara khusus sang pendeta memperhatikan seorang pemuda bertubuh tinggi
yang tidak dikenalnya sedang duduk dengan tenang di pojok gereja. Sang
pendeta berbicara tentang kebun Carl sebagai suatu pelajaran dalam hidup.

Dengan suara yang tersendat dan air mata yang ditahan, dia berkata,
“Lakukan yang terbaik dan buatlah kebun anda seindah mungkin. Kita tak akan
pernah melupakan Carl dan kebunnya.”

Musim semi berikutnya selebaran lain muncul lagi. Isinya : “Dicari orang
untuk memelihara kebun Carl.” Selebaran itu terabaikan oleh para jemaat
yang sibuk sampai suatu hari sebuah ketukan terdengar di kantor sang
pendeta. Saat membuka pintu, sang pendeta melihat sepasang tangan yang
penuh goresan dan tato memegang selebaran itu. “Saya yakin ini pekerjaan
saya, jika anda mau memakai saya,” kata pemuda itu.

Sang pendeta mengenali pemuda itu sebagai orang yang sama yang
mengembalikan jam dan dompet Carl yang dicuri. Dia tahu bahwa kebaikan hati
Carl telah membalikkan hidup pemuda ini. Sang pendeta menyerahkan
kunci-kunci kebun kepadanya, sambil berkata, “Ya, peliharalah kebun Carl
dan hargailah dia.”

Pemuda itu pergi bekerja dan selama beberapa tahun kemudian, dia tetap
memelihara bunga-bunga dan sayuran sama seperti yang dikerjakan Carl. Dalam
masa itu, ia pergi kuliah, menikah dan menjadi anggota masyarakat yang
terpandang. Tetapi dia tak pernah melupakan janjinya pada Carl dan menjaga
kebun itu seindah mungkin seperti yang akan dilakukan Carl.

Suatu hari dia mendatangi pendeta yang baru dan berkata padanya bahwa ia
tidak dapat lagi memelihara kebun itu. Dia menjelaskan dengan senyum
tersipu dan bahagia, “Istri saya baru saja melahirkan seorang anak
laki-laki tadi malam, dan dia akan membawanya pulang hari Sabtu.”

“Baiklah, selamat !” kata sang pendeta, saat dia menyerahkan kembali
kunci-kunci kebun. “Itu hebat sekali! Siapa nama bayinya ?”
“Carl”, jawabnya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>