May 28, 2010 | Posted in:Motivasi

Dulu pernah ada nama besar yang mengunjungi
Indonesia. Yang seorang dari kalangan bisnis, satunya lagi dari dunia
politik. Chief Executive Officer General Electric Jeffrey R. Immelt
datang untuk keperluan perusahaannya, sementara Corazon Aquino,
mantan presiden Filipina yang terkenal karena perjuangannya
menghadapi diktator Ferdinand Marcos, memberikan kuliah umum di
sebuah perguruan tinggi.

Aquino, sekarang sebagai orang biasa, tetap sama. Dia selalu apa
adanya. Namun, kebersahajaan presiden Filipina periode 1986-1992
itulah yang menjadi kekuatannya sebagai pemimpin politik. Sikap
Aquino yang tanpa pretensi membuatnya tetap disegani saat dia bukan
orang penting lagi di negaranya.

Perjalanan hidupnya tidak biasa-melompat dari seorang ibu rumah
tangga, memimpin gerakan politik melawan presiden yang sangat
berkuasa, dan kemudian menjadi presiden-sehingga rasanya pantas jika
orang menyimak apa yang dikemukakannya tentang kepemimpinan dan
kehidupan.

Sedangkan Jeffrey R. Immelt mencapai posisi puncak di GE lima tahun
lalu melalui jalan yang panjang. Dia harus konsisten menjaga
kinerjanya sebelum ditunjuk memimpin sebuah konglomerasi berusia
lebih dari satu abad, dengan ratusan perusahaan yang tersebar di
seluruh dunia, dan ratusan ribu karyawan.

Immelt menarik perhatian karena dia menggantikan Jack Welch, CEO yang
legendaris. Orang bertanya-tanya, mampukah Immelt lepas dari bayang-
bayang kebesaran Welch dan muncul dengan originalitas dirinya
sendiri? Hanya dalam waktu singkat, Immelt mampu menjawab keraguan
orang. Dia kini menjadi salah satu CEO yang disegani.

Ketika berada di Jakarta pekan lalu, Immelt banyak bicara tentang
China dan India. Dia menilai pemimpin di kedua negara itu dengan
sadar menyesuaikan kebijakan mereka dengan perkembangan global.
Birokrasi dipangkas, korupsi diberantas, demi terciptanya iklim
bisnis yang sehat. Pada level sumber daya insani (human capital),
misalnya, mereka menyediakan tenaga kerja trampil yang dibutuhkan
oleh dunia usaha.

China, misalnya, memusatkan program pendidikannya pada politeknik
yang tersebar di seluruh negeri. Akibatnya, setiap tahun tersedia
lulusan tenaga teknik dalam jumlah besar. Ini program pendidikan yang
sangat pragmatis, menghasilkan tenaga kerja yang langsung diserap
oleh begitu banyak pabrik yang tumbuh, karena derasnya investasi
asing. Kebijakan pemerintah India pun demikian.

Sedangkan Aquino, ketika menyampaikan kuliah umum berjudul The right
attitude, di Universitas Pelita Harapan, menyebutkan empat poin sikap
yang baik untuk pemimpin yang efektif, yakni kepercayaan diri,
pandangan jangka panjang, tidak pernah berhenti belajar, dan berbuat
sesuatu yang dapat mengubah kehidupan orang di sekitarnya. Pemimpin
bangsa, katanya, harus melayani rakyat dengan mengesampingkan
kepentingan pribadi, keluarga maupun kelompok.

Poin penting sebagai sari dari pernyataan Aquino dan Immelt adalah
bangsa yang mau maju membutuhkan pemimpin yang percaya diri, mampu
mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingannya sendiri, dan
tanggap terhadap perkembangan global.

Bukan sesuatu yang mudah memadukan ketiga hal itu dalam praktik
sehari-hari. Namun, jika Indonesia ingin maju dan unggul dalam
percaturan global, bangsa ini membutuhkan pemimpin-di level korporat
dan pemerintahan-yang memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

Sumber: Bisnis Indoensia

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>