April 22, 2010 | Posted in:Motivasi

“Maisyah ….. perlahan Nak, perlahan … ayo Nak lafalkan… Ikuti Ibu Nak… Ayo Nak…. Laa Illa Ha Illallah ….. Ayo Nak….. Laa Illa Ha Illallah ….. … Laa Illa Ha Illallah ….. lekas Nak…” Namun saat itu Maisyah tak sanggup lagi untuk melafalkan kalimat itu, mulut Maisyah seolah seperti terbelenggu oleh semua hal yang pernah Ia lakukan selama hidupnya. Maisyah pun mendapatkan Azalnya dipangkuan Ibu tercinta, saat detik terakhir dipenghujung hidupnya Maisyah hanya sanggup melafalkan “La Illaaaa…. “ (tiada Tuhan….)

Maisyah Rahma seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta, wajahnya pucat, tubuhnya amat kurus lantaran Ia adalah pecandu narkotika. Semenjak Ia lulus kuliah, Maisyah (bukan Nama Aslinya) tinggal dan menetap di sebuah kost Wanita didekat Kampus tempat Ia kuliah. Orang Tua Maisyah adalah petani kaya disebuah desa yang cukup jauh dari tempat Maisyah menuntut ilmu.

Maisyah merupakan salah satu korban dari lika-liku kehidupan remaja muda di kota besar. Awalnya Maisyah berkeinginan menekuni pendidikan Pariwisata dan bercita-cita memiliki usaha perhotelan sendiri, dengan maksud itu Orang Tua Maisyah yang terbilang mampu menyekolahkan Maisyah pada perguruan tinggi tervaforit di Jakarta.

Baru beberapa bulan Maisyah tinggal di rumah kost Jakarta, Maisyah yang memiliki wajah cantik dan tubuh yang terbilang seksi itu mulai mencoba berpacaran dengan seniornya di kampus. Ternyata pertemuan Maisyah dengan laki-laki bernama Ridwan itulah yang akan menjadi petaka bagi diri Maisyah.

Maisyah, yang datang dari daerah itu, di Jakarta Ia menjalani hidup yang sangat hedonist, tak disangka ternyata gadis berparas cantik itu mulai terkena penyakit Shock Culture. Uang kiriman Orang Tua Maisyah dan segenap uang jajan Ridwan mencukupi untuk melakukan hal-hal yang sangat dilarang oleh Agama. Maisyah kerap kali melakukan hubungan seks bebas dan menikmati narkotika bersama Ridwan. Hal tersebut mereka lakukan tanpa pernah berfikir untuk meninggalkannya. Ibadah yang biasa Orang Tua Maisyah Ajarkan mulai ditinggalkan, bahkan kitab suci Al-Quran yang dititipkan Orang Tua Maisyah pun tidak lagi disentuhnya seperti dulu lagi.

Maisyah menjalani hidup yang sangat kelam, keluar masuk club malam, menghabiskan waktu di discothique, café dan tak jarang Maisyah memilih untuk bermalam dihotel bersama Ridwan…. Masya Allah !!!

Akhirnya malam itu pun datang, setelah beberapa tahun Maisyah menjalankan hidup yang laknat itu, Maisyah mendapati tubuhnya sudah tidak berdaya lagi. Wajahnya pucat, tubuhnya yang semakin kurus basah berkeringat, tak sanggup lagi menahan rasa kecanduannya terhadap Obat neraka itu. Saat itu Ridwan sudah tidak lagi bersamanya, baru beberapa bulan lalu lelaki biadap itu memutuskan hubungan cinta mereka. Maisyah hanya bisa menangis sendirian di kamar kostnya, Ridwan yang bagi Maisyah merupakan satu-satunya pemasok obat tersebut sekarang tidak akan pernah ada lagi untuknya….. Masiyah jatuh terkapar didepan kamar kostnya.

Keesokan harinya, Andian teman satu kost Maisyah menemui Maisyah dalam keadaan tidak sadar, sepontan Andian memanggil teman lainnya dan membawa Maisyah ke Rumah sakit terdekat. Orang tua Maisyah kaget mendengar berita tentang anaknya yang sedang sakau berat itu.

Orang Tua Maisyah pun terbang ke Jakarta untuk menemui anaknya yang sedang terkapar dirumah sakit, Ibu Maisyah tidak henti-hentinya menangis di hadapan Maisyah yang saat itu tidak sadarkan diri. Mereka tidak pernah percaya bahwa anak tercintanya yang sejak dahulu mereka didik dengan ajaran agama, saat ini mereka dapati dalam kondisi yang jauh berbeda.

Keesokan harinya beberapa sanak saudara pun berdatangan, termasuk Kakak Kandung Maisyah, Arya. Arya telah bekerja di Batam, saat ini Ia pun menyempatkan diri datang untuk menemui adik tercinta satu-satunya tersebut. Arya tidak percaya ketika menemui sosok adiknya yang telah kurus dan pucat. Ia pun berkali-kali menanyakan duduk perkaranya kepada kawan-kawan di Kost Maisyah.

Arya yang sangat bertanggung jawab terhadap nasib adiknya itu, dengan emosi mencoba mencari Ridwan untuk meminta pertanggung jawaban. Namun hingga sore hari Ridwan tidak berhasil ditemukannya. Arya yang terus kalang kabut bertemu dengan Cicilia, Ia adalah sahabat Maisyah saat di Kampus. Dari cerita Cicilia lah Arya dapat mengetahui segala prilaku adiknya saat menjalani kuliah di Jakarta. Arya yang tidak sampai hati untuk berterus terang terhadap kedua Orang tuanya pun akhirnya terpaksa menceritakan kejadian semuanya, saat itu kondisi Maisyah sudah semakin keritis.

Angin di hari kamis itu seperti berhembus dingin, wajah seluruh keluarga mulai semakin berduka, sudah 4 hari Maisyah berada diruang ICU. Ibu Maisyah tidak juga berhenti menangis meratapi nasib dan prilaku yang dijalani anaknya. Ayah Maisyah yang terbilang tabah itupun terus menerus membacakan surat Yassin bersama Arya dihadapan Masiyah. Detik-detik terakhir di kehidupan Maisyah, Ibu Maisyah mulai mencoba mengiklashkan anaknya yang semakin tersiksa itu, mata Maisyah terbelalak keatas dan mulutnya mengangga seperti merasakan kehausan yang amat dalam.

Maisyah pun meninggal dunia, tanpa pernah mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertobat kepada Sang Pencipta. Maisyah meninggal dalam keadaan yang tidak baik, ketika oleh Ibunya dibimbingkan lafal “Laa Illa Ha Illallah” diakhir nafasnya, dengan teramat sulit Maisyah hanya mampu melafalkan “Laa Ilaaaaaa….” (tidak ada Tuhan)

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>