October 16, 2009 | Posted in:Motivasi

Masih tengah bulan dan uang gajian sudah menipis seperti kulit ari. Seorang ibu muda khawatir tak bisa memasak dan memberi makan suami dan anak-anaknya. Ia melamun di depan rumah samabil berdiri memegangi sapu. Di depan rumahnya melintas sebuah sedan 2000 cc yang tengah menghindari kemacetan dengan memasuki jalan kampung; dan lelaki paruh baya yang duduk di jok belakang terus mengerutkan keningnya sejak berangkat dari rumah. Ia khawatir akan kurs Rupiah yang terus merosot, bisa-bisa ia tak sanggup lagi mengimpor bahan-bahan untuk ketiga pabriknya. Sesampai di kantor, ia disambut senyum terpaksa sekretarisnya. Gadis cantik yang bulan depan hendak berpesta nikah itu sudah seminggu ini sulit berkonsentrasi. Hatinya dipenuhi ketakutan kalau-kalau para tamunya nanti tahu kalau ia sudah mengandung.

Rasa khawatir bagaikan borok yang tak kunjung sembuh karena setiap kali luka itu mulai mengering, pinggirannya yang berwarna kecoklatan itu, malah Anda kupas, padahal masih lengket dengan mata yang menancap ke dalam luka. Ya, kecemasan bukan hanya tidak memberi nilai tambah ke dalam hidup kita, tetapi juga memusnahkan banyak hal dari hidup yang awalnya indah.

Apa saja yang disapu bersih oleh rasa khawatir?
Pertama-tama, tentu saja, kesehatan fisik dan psikis Anda. Khawatir, cemas dan takut membuat hidup kita tegang. Detak jantung lebih cepat, tekanan darah meninggi. Anda merasa cepat lelah, gampang terkejut, dan mudah marah. Makan rasanya tidak enak. Badan cepat pegal dan kepala selalu pusing. Penyakit-penyakit lain, pun dengan gampang menyerang. Penyakit ‘sepele’ seperti batuk pun cenderung menjadi kronis atau gampang kambuh.

Rasa khawatir juga menguras habis tabungan waktu kita. Pernahkah Anda menghitung dan menjumlah berapa banyak waktu yang Anda habiskan untuk menumbuh-kembangkan rasa khawatir itu? Hanya satu-dua menit? Jangan salah, kecemasan itu tumbuh lebih cepat daripada jamur di musim hujan. Tak terasa, pekerjaan yang seharusnya tuntas seminggu lalu, ternyata sampai hari ini tak juga beres karena rasa khawatir sudah menghabiskan waktu kita. Begitulah, kecemasan dengan cepat menggerogoti waktu yang seharusnya kita gunakan untuk mengerjakan hal-hal lain.

Produktivitas kita menurun tajam disikat rasa khawatir. Ini tentu saja, terkait erat dengan waktu yang kita habiskan hanya untuk berkhawatir. Anda tentu bisa membuat daftar panjang apa efek negatif dari penurunan produktivitas ini: mulai dari sekadar diperingatkan bagian personalia, dimarahi boss, menerima sederet panjang keluhan dari konsumen, sampai kebangkrutan.

Bangkrut? Itu tidak seberapa dibandingkan kerugian terberat yang dipicu oleh rasa cemas: runtuhnya keimanan! Tidak percaya? Itu adalah dua hal yang berlawanan. Anda tidak bisa beriman dan sekaligus memiliki kekhawatiran yang begitu tebal. Keduanya tidak bisa terjadi bersamaan. Keduanya bukanlah kawan seiring.

Jadi? Satu-satunya jalan untuk memberi nilai tambah ke dalam hidup kita adalah dengan berhenti khawatir dan mulai percaya!

Dengan hilangnya rasa khawatir, hidup Anda bukan hanya akan lebih sehat, tetapi juga penuh semangat sehingga Anda merasa bisa mengerjakan lebih banyak hal. Pada akhirnya, produktivitas meningkat dan Anda merasa lebih puas dengan hidup Anda – tak peduli seberapa besar pencapaian materi/finansial Anda. Dan yang paling penting, Anda merasa lebih dekat dengan Sang Pemilik Segala Solusi Hidup.

Dono Baswardono, AISEC, MA, Ph.D

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>