June 11, 2010 | Posted in:Motivasi

Lihat juga yang dilakukan Ina, atau nama lengkapnya Ina Tarsina (19),
mahasiswi semester II Jurusan Teknologi Hasil Perikanan Fakultas
Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB). Mahasiswi yang tinggal di
Gedung A3 Asrama IPB ini bersama teman sekamarnya, Nispi Lailatni (19),
di antara teman-teman seasrama dikenal sebagai penjual gorengan. Kalau
para penghuni asrama putri itu ingin gorengan, kepada merekalah para
mahasiswi itu berpaling, atau juga pada mahasiswi lain yang punya usaha
serupa, yakni Dela dan Sri.

“Inaaa… masih gorengannya?” teriak seorang mahasiswi di sudut asrama.

Ina memperoleh dagangannya dari seorang ibu yang berjualan di pangkalan
angkutan kota (angkot), sekitar dua kilometer dari kampus IPB. Katanya,
ia membeli dagangannya berupa gorengan itu dengan harga Rp 250 sepotong,
dan ia jual lagi pada teman-temannya dengan harga Rp 1.000 untuk tiga
potong. Paling tidak, setiap hari katanya dia bisa menjual 180 gorengan
berbagai jenis.

Karena usahanya itu, di antara teman-temannya dia dikenal dengan sebutan
“Ina Gorengan”. Dara asal Babakan, Cirebon itu tak perlu merasa malu.
Yang penting, dari hasil kerjanya dia bisa sedikit menabung dan kuliah
lancar. Bahkan ia pernah menolak ketika ditawari pekerjaan sebagai
seorang sales di sebuah perusahaan. Ia memilih jualan gorengan.

DALAM skalanya sendiri, usaha-usaha para mahasiswa itu cukup menopang
kehidupan mereka sehari-hari meski tidak semua pelaku usaha ini
digerakkan karena alasan “kekurangan”.

Hendra Sujana yang menjadi pemulung di Yogyakarta tadi, misalnya,
menceritakan dari usahanya paling sedikit sehari mendapatkan uang Rp
15.000. Sementara kalau mujur, ia bisa memperoleh antara Rp 50.000
sampai Rp 100.000. Dengan penghasilan itu, Hendra berani menikahi Nur
Asiah (21), dan menafkahinya Rp 1 juta per bulan kendati ia sekarang
belum lulus kuliah.

Di luar itu, pria yang tampangnya “serius” ini bisa membayar uang kuliah
Rp 240.000 per semester serta menyewa dua tempat kos sekaligus
masing-masing dengan harga sewa Rp 600.000 dan Rp 1,2 juta per tahun.
“Yang satu buat kerja, satunya buat istirahat,” katanya.

Sementara Sulis yang membuka usaha laundry, mengaku dalam sebulan ada
200 nota pembayaran yang keluar dengan nilai kotornya sekitar Rp 1 juta.
Untung bersih sekitar Rp 500.000 per bulan.

Uang hasil laundry sebagian digunakan untuk keperluan keluarga besarnya,
sebagian lagi ia tabung. Untuk bayar kuliah? “Saya, kan, dapat bea siswa
Rp 1,3 juta per tahun. Itu cukup untuk bayar SPP sebesar Rp 650.000 per
semester di UII,” tukasnya.

Bunyamin, si pedagang buku, berjualan dengan cara konsinyasi. Dia harus
menyetor ke penerbit yang bukunya dia jual sekali sebulan. Sekali setor
Rp 3 juta, dengan keuntungan yang diperolehnya sekitar Rp 250.000.

Ada lagi Nana Suryana (21), mahasiswa semester IV Jurusan Komunikasi
Pembangunan Fakultas Peternakan IPB, yang suka mangkal di depan Toko
Gramedia di Jalan Pajajaran, Bogor. Pemuda ini di situ menjajakan
keterampilannya membikin tato temporer-tato yang bisa dihapus atau
hilang dengan sendirinya dalam dua atau tiga minggu. Dari pekerjaan yang
biasa dia lakukan terutama pada hari Sabtu-Minggu itu ia bisa
mendapatkan uang antara Rp 20.000-Rp 25.000 setiap kali dia beroperasi.
Satu bulan, rata-rata dia bisa mendapatkan uang tambahan Rp 200.000.

Budi Basuki, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
yang oleh teman-temannya dipanggil “Budi Sepatu” (karena dia berjualan
sepatu), mengaku bisa mendapatkan penghasilan antara Rp 1 juta sampai Rp
2 juta. Pada awalnya, penghasilannya itu hanya dia jadikan sebagai uang
jajan atau uang nonton bioskop. “Lama-lama usaha ini lumayan hasilnya
buat biaya kuliah,” kata Budi, yang belakangan lebih banyak berada di
Jakarta karena mendapat pekerjaan di Jakarta sebagai wartawan sebuah
majalah hiburan/gaya hidup.

Beberapa mahasiswa itu memang akhirnya bisa mengembangkan usahanya
menjadi cukup besar. Dhanny Iskandar (22), mahasiswa Manajemen
Universitas Trisakti angkatan 1999, kini memiliki usaha sendiri berupa
penyewaan peralatan tata suara buatan luar negeri. “Saya lihat persewaan
tata suara yang ada hanya yang rakitan sendiri. Biasanya tata suara yang
rakitan tidak begitu bagus, maka saya pikir ini peluang,” ujar Dhanny,
yang memulai usahanya sejak tiga tahun lalu.

Hampir semua mahasiswa yang melakukan bisnis di luar waktu kuliahnya
berprestasi cukup bagus di dunia akademis. Indeks prestasi mereka
rata-rata cukup tinggi, di atas 3 atau bahkan 4.

Semua itu terjadi karena mereka mengaku bisa membagi waktu. Atau
jangan-jangan, di tengah kesibukan yang sangat tinggi, orang justru
efektif membagi waktu? Tidak leha-leha, bermalas-malasan? Atau-ini yang
kelihatannya cukup pasti-dunia kerja, dunia keringat, memberi pekerti
tersendiri bagi manusia. (BSW/B10/ARN/XAR)

Sumber: Kompas

2 Comments

  1. Dee Yacko
    November 27, 2010

    Wah mantap sekali gan.

  2. Gary Manalili
    November 28, 2010

    Wah mantap sekali gan.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>