June 10, 2010 | Posted in:Motivasi

HENDRA Sujana (25), mahasiswa semester VIII Jurusan Bahasa Inggris
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY-dulu bernama
IKIP Yogyakarta), pagi itu pukul 09.00 baru saja pulang ke tempat kos
usai kuliah pagi. Ia segera ganti pakaian “kerja”: pakaian lusuh dan
topi butut. Ia siapkan sepeda ontelnya, dan dengan itu segera
“bermetamorfosa”-lah Hendra si mahasiswa menjadi Hendra sebagai si pemulung.

INILAH kisah sejumlah mahasiswa yang barangkali “kalah heroik” dibanding
kisah para mahasiswa yang biasa mengepalkan jari dan berteriak lantang.
Para mahasiswa ini-seperti Hendra Sujana tadi-adalah mahasiswa yang
menjalani hidup dalam little tradition (bukan great tradition seperti
memikirkan negara, berorasi, berdemonstrasi). Mereka mengisi waktunya
sehari-hari di luar perkuliahan dengan mencari nafkah untuk membantu
mencukupi kehidupan sehari-hari. Tidak “heroik” memang, tetapi
barangkali bisa memberi udara yang lain bagi kita, kalau kita sudah muak
dengan tradisi politik kita yang penuh kemunafikan.

Hendra, yang kos di kawasan Karangmalang, dengan sepeda ontelnya,
sehari-hari menyusuri jalan-jalan di Yogyakarta untuk mengais
barang-barang bekas, barang-barang rongsokan. “Biar butut, sepeda ini
bisa mengangkut barang hingga dua kuintal,” ucap Hendra mengenai
sepedanya, yang katanya dulu ia beli dengan harga Rp 25.000.

Dengan itulah ia melakukan pekerjaannya. Setiap pagi, sejak pukul 05.00,
dia menyusuri Jalan Solo, Jalan Kaliurang, dan Terminal Jombor untuk
mencari-cari barang bekas. Pada jam-jam itulah katanya para pemilik toko
membuang sampah seperti kardus, botol, dan plastik. “Saya sering nunggu
mereka buang barang. Kalau enggak begitu, nanti diserobot pemulung
lain,” katanya sambil tertawa.

Tak jarang saat melakukan pekerjaannya ia ketemu teman-teman kuliahnya.
Tidak malu? “Cuek saja,” tukasnya. Ia tak segan menyapa terlebih dahulu
teman kuliahnya. Hasilnya, katanya, teman-teman yang tadinya mencibir,
mulai menerimanya sebagaimana adanya. Teman-teman kos pun tidak
memprotes tempat sewa digunakan untuk menumpuk barang-barang bekas.
Hendra kadang juga datang ke kampus dengan sepeda ontel, kendaraan
operasionalnya sebagai pemulung. Katanya, “Buat saya yang penting
bagaimana menempatkan diri. Saat bekerja saya harus memakai baju lusuh
agar diterima pemulung lain. Sewaktu kuliah saya pakai baju rapi.”

HENDRA bukan satu-satunya mahasiswa yang mengisi kesehariannya dengan
kesibukan seperti itu. Ari Sulistyo Pratiwi (20), panggilannya Sulis,
mahasiswi semester VI Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia
(UII), pastilah tidak sempat bermalam-Mingguan di kafe-kafe, atau
bercengkerama di teras rumah dengan pacar yang “apel”. “Kalau
Sabtu-Minggu, cucian malah numpuk,” katanya.

Sulis memang membuka usaha cucian alias laundry. Pelanggannya kebanyakan
sesama mahasiswa yang kos di sekitar daerah Babarsari, dekat Jalan Solo,
Yogyakarta.

Tadinya, usaha cucian itu milik ibunya, tapi karena tidak tertangani,
Sulis mengajukan diri untuk mengambil alih usaha tersebut. “Sejak saat
itu saya mengelola secara penuh mulai dari belanja sabun dan pewangi,
mencuci pakaian pelanggan, menyeterika,” ceritanya mengenai usaha yang
dia mulai sejak tahun 2001 ini.

Dia menggunakan mesin cuci, tapi toh tetap mengucek-ucek pakaian agar
tambah bersih. Pendeknya, ia seperti tokoh Bawang Putih yang ditampilkan
dalam iklan sabun colek di televisi. Tidak takut kulit tangan menjadi
kasar? “Ha-ha-ha, makin banyak sabun, tangan saya makin halus tuh,”
ujarnya kenes.

Setelah pakaian kering, dia menyeterikanya sendiri, kemudian mengepaknya
ke dalam plastik. Tak hanya itu, ia juga mengantar hasil cucian itu ke
para pelanggannya. Katanya, “Wah, capeknya minta ampun, saya cuma tahan
satu bulan kerja sendirian. Akhirnya saya mempekerjakan dua karyawan
untuk bantu-bantu, yang satu adik saya sendiri, ha-ha-ha….”

Dengan itu, bebannya agak berkurang. Tugas utamanya dalam bisnis cucian
ini kemudian adalah mengemas pakaian yang sudah rapi diseterika dan
mengantarkannya ke pelanggan. Hanya saja, kalau order tengah menumpuk,
ia tetap akan turun tangan mencuci. Itu semua dia lakukan di tengah
kesibukan kuliah, termasuk menjadi asisten dosen untuk praktikum mahasiswa.

Dia juga bercerita, sewaktu mengawali usahanya, ada kekhawatiran
teman-temannya bakal mencibir: idih, mahasiswi UII kok jadi tukang cuci.
Maklum, katanya teman-temannya kebanyakan dari kalangan berada.
Nyatanya, kemudian teman-temannya malah memuji-muji dan jadi pelanggan.
Sebagian lagi bahkan ada yang mengikuti jejaknya, katanya ingin belajar
berwiraswasta.

Usaha Sulis sendiri kini boleh dikatakan berkembang. Ia tengah berpikir
untuk membuka cabang di tempat lain yan glebih strategis. “Saya lagi
ngincer tempat baru nih,” ucapnya.

DI Yogyakarta ada Hendra, Sulis, juga M Bunyamin (22), mahasiswa
semester VI Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni UNY, yang
sehari-hari menggelar dagangan berupa buku di emper-emper toko atau di
tempat-tempat seminar.

Jualan buku keliling ini dijalaninya sejak tahun 2000 dan sempat
terhenti tahun 2001 karena kesibukan kuliah. Pada saat jualan dia sering
ketemu teman-teman kuliah atau dosennya. Teman-teman itu sering
meledeknya sebagai “kapitalis” karena lebih sering jualan daripada
nongkrong di kampus. “Makanya kalau malam saya sempet-sempetin nongkrong
di angkringan bersama teman-teman,” katanya. Buku yang dijualnya
bermacam-macam, dari buku politik, ekonomi, sosial, agama, dari berbagai
penerbit seperti LP3Y, Indonesia Tera, Jendela, dan lain-lain.

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>