May 23, 2010 | Posted in:Motivasi

Masa muda Masatoshi cukup tragis, semua nilai mata pelajaran
eksaktanya jeblok dan lulus sekolah dengan nilai terendah. Surat
rekomendasi untuk meneruskan kuliah dari gurunya berbunyi, His
results are not good, but he’s not that stupid.

Selama beberapa tahun terakhir, tempat kediaman Profesor Masatoshi
Koshiba di Tokyo, Jepang, selalu diserbu oleh para wartawan yang
ingin bersama-sama menunggu kabar dari Stockholm, Swedia, yang
memberitahukan bahwa profesor kebanggaan bangsa Jepang itu telah
memenangkan Nobel Fisika. Selama beberapa tahun pula berita
kemenangan yang mereka tunggu-tunggu itu tidak kunjung datang.

Hari itu, 8 Oktober 2002, sekitar 20 wartawan tetap menunggu dengan
sabar di kediaman Koshiba seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan berita
yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Nobel Fisika tahun 2002
dihadiahkan kepada Masatoshi Koshiba dan Raymond Davis, Jr (atas
penemuannya di bidang astrofisika berkaitan dengan pendeteksian
neutrino kosmis), dan Riccardo Giacconi (juga di bidang astrofisika,
berkaitan dengan penemuan sumber-sumber sinar-X kosmis).

Khasiat celaan

Masatoshi Koshiba lahir di Kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19
September 1926. Ia mengenyam pendidikannya di sebuah sekolah menengah
atas di Yokosuka, yang juga merupakan tempat Perdana Menteri
Junichiro Koizumi bersekolah. Koshiba remaja bercita-cita untuk
bergabung dengan sekolah militer (mengikuti jejak ayahnya), atau
menjadi seorang musisi (ia senang mendengarkan musik klasik dan
membaca novel-novel bersejarah). Tetapi, satu bulan sebelum mengikuti
ujian masuk sekolah militer, Koshiba terserang penyakit polio yang
memaksanya untuk banyak berbaring dan beristirahat. Masa-masa
pemulihannya dilalui dengan membaca buku tentang ide-ide besar
fisikawan terkenal, Albert Einstein, yang diberikan oleh gurunya.
Tetapi, keputusannya untuk mendalami fisika justru dipicu oleh kata-
kata guru lain yang tidak sengaja didengarnya. Menurut guru itu,
Koshiba tidak mungkin bisa mempelajari dan memahami fisika karena
nilai-nilainya di mata pelajaran eksakta itu sangat buruk. Komentar
inilah yang membuat Koshiba memilih jurusan fisika di Tokyo
University. Celaan sang guru ternyata berkhasiat membangkitkan
semangat Koshiba.

Saat pertama kali mendaftar di Tokyo University, Koshiba mendapatkan
penolakan yang membuatnya mencoba kembali untuk kedua kalinya.
Usahanya yang pantang menyerah itu pun membuahkan hasil. Koshiba
mulai mempelajari fisika di Tokyo University sambil melakukan
pekerjaan sampingan untuk membantu membiayai kehidupan keluarganya.
Kesibukannya mencari nafkah itu hampir saja menggagalkan
usahanya dalam menuntut
ilmu di perguruan tinggi. Saat itu ia tidak memiliki banyak waktu
untuk hadir di setiap kuliah, bahkan dalam satu minggu ia hanya
mempunyai waktu untuk mengikuti satu kuliah saja. Dengan kondisi
seperti itu tidak ada yang menyangka bahwa Koshiba akan berhasil
lulus (1951). Berbeda dengan riwayat para pemenang Nobel lainnya,
yang biasanya mencatatkan prestasi akademis yang menakjubkan, Koshiba
justru lulus dengan nilai terendah. Namun, hal ini tidak membuatnya
putus asa dalam mencoba mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Setengah tak direkomendasi

Koshiba kemudian mendaftarkan diri ke University of Rochester,
Amerika Serikat, dengan berbekal surat rekomendasi dari dosennya di
Tokyo University yang secara jujur menyatakan: His results are not
good, but he’s not that stupid. Ia diterima di University of
Rochester dan mendapatkan gelar Ph D di sana pada tahun 1955. Pada
tahun 1958 Koshiba kembali ke Tokyo University untuk bekerja di sana
sampai 31 Maret 1987, sebelum pindah ke Tokai University sampai ia
pensiun di tahun 1997. Koshiba yang sewaktu lulus dari Tokyo
University mendapatkan nilai terendah akhirnya menjadi profesor
fisika di tempat yang sama. Satu bulan sebelum ia mengakhiri masa
kerjanya di Tokyo University (23 Februari 1987), Koshiba berhasil
membuktikan keberadaan partikel elementer yang disebut neutrino, yang
jejaknya dideteksi menggunakan detektor Kamiokande (untuk
menghasilkan ledakan supernova) yang dirancang dan dibuatnya sendiri.
Penemuannya ini melahirkan bidang penelitian baru yang sangat penting
dalam astrofisika, yaitu astronomi neutrino.

Selain hadiah Nobel Fisika, penemuannya ini juga telah
menganugerahinya berbagai penghargaan lain di dunia internasional,
seperti Der grosse Verdienstkreutz dari Presiden Jerman Barat, Order
of Cultural Merit dari Kaisar Jepang, dan Wolf Prize dari Presiden
Israel. The Not Good but Not That Stupid Man ini juga terdaftar
sebagai anggota American Physical Society, Physical Society of Japan,
dan Japanese Astronomical Society.

YOHANES SURYA Ph D Presiden Olimpiade Fisika Asia dan dosen
Universitas Pelita Harapan

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>