June 9, 2010 | Posted in:Motivasi

Seperti yang sudah saya duga. Sekeping gopekan keluar lagi dari
jendela mobil. Penasaran saya makin betambah. Ini bukan yang pertama kali.
Sering. Teramat sering malah. Tapi apa alasannya? Sulit bagi saya untuk
mengerti. Mereka bukan tak bisa. Hanya kurang berusaha saja. Memberi uang
sama artinya dengan memberikan persetujuan dan pembenaran. Sedangkan kita
sudah selayaknya memberikan pelajaran. Kenapa dia harus selalu memberi?
Tanpa pernah memilih lagi.

Dulu. Pertama kali saya menjadi anak buahnya. Seorang penjual pengharum
ruangan masuk ke kantor. Meskipun di pintu depan sudah tertulis besar-besar
“PARA PEDAGANG DAN PEMINTA SUMBANGAN DILARANG MASUK”. Tetap saja tiada hari
tanpa pedagang keliling dan peminta sumbangan di kantor ini. Entah mereka
sudah bebal atau kebal, saya juga tidak tahu.

Penjual pengharum itu berkeliling ke meja-meja pegawai, menawarkan
dagangannya. Sebagian cuek, sebagian lagi menolak dengan halus. Ada pula
yang menawar, tapi akhirnya tidak jadi membeli. Ketika para pedagang itu
sampai di meja si bapak, tanpa banyak kata, si bapak mengambil beberapa buah
barang dagangannya dan membayar tanpa menawar.

Beberapa kali kejadian semacam berulang. Si Bapak hampir selalu membeli
barang dagangan setiap pedagang yang masuk ke ruangan kami. Pernah suatu
saat saya bertanya kenapa beliau suka membeli barang dari para pedagang yang
ke kantor. “Siapa lagi yang akan membeli kalau bukan kita? Sudah terlalu
banyak yang berbelanja di mall. Biarlah saya berbelanja pada mereka”, begitu
jawab beliau.

Namun ternyata bukan hanya itu. Kalau membeli barang dagangan, sebagaimana
alasannya di atas, saya bisa menerima dan mengerti. Tapi ternyata dia juga
selalu memberi kepada para peminta sumbangan yang bergantian datang ke
kantor kami.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa tak semua peminta sumbangan itu
benar-benar peminta sumbangan untuk masjid, anak yatim piatu atau
sejenisnya. Banyak dari mereka yang menggunakan metode peminta sumbangan
untuk menghidupi diri. Dan saya pernah mengingatkan bapak ini tentang hal
itu. Tapi ia tak berkomentar.

Beberapa hari terakhir, beliau hampir selalu memberikan koran harian pada
saya. Beliau tahu saya suka membaca.

“Saya tak butuh koran itu,” kata beliau.
“Lantas mengapa membeli?” tanya saya.
“Karena saya tahu tak banyak orang yang membeli koran dari tukang koran
seperti dia,”. Itu jawabnya.

Dan kini? Ini sudah kesekian kali, ketika saya satu mobil dengan beliau
karena ada tugas keluar kantor. Peristiwa yang sama terjadi kembali. Beliau
memberi uang kepada setiap peminta-minta di jalanan, baik yang memang
terang-terangan meminta-minta, mengamen, polisi cepek maupun yang setengah
memalak dengan ‘berorasi’.

Kali ini saya tak lagi bisa diam. Menurut saya apa yang beliau lakukan tidak
mendidik, membuat mereka makin malas, tak mau bekerja keras dan mengharapkan
uluran tangan seperti ini. Setidaknya, kalau mau memberi, hendaknya kita
pilih-pilih, mana yang tampak betul-betul membutuhkan. Atau, kalau mau
berinfak kenapa tidak melalui lembaga yang benar-benar dapat dipercaya akan
menyampaikan amanah kepada yang benar-benar berhak? Saya memberondongnya
dengan sebuah argumentasi panjang.

“Saya tak yakin dengan tidak memberi akan mendidik mereka. Semestinya ada
orang-orang yang aware dengan program penyadaran itu. Tugas merekalah yang
menyadarkan. Sedang saya, hanya ini yang bisa saya lakukan. Mungkin mereka
memang tak sungguh-sunguh miskin, bisa jadi mereka hanya malas. Tapi saya
yakin, jika mereka bisa semudah kita mencari rizki, mereka tak akan
melakukan itu semua. Jika karena tak ada yang mau memberi mereka kelaparan,
lantas kepada siapa mereka meminta. Kemana mereka mencari? Sedang kita?
Kalaupun harta kita habis karena mereka, setidaknya masih lebih mudah bagi
kita untuk mencari lagi dengan bekal kemampuan yang diberikan Allah pada
kita.”

Uraian panjang lebarnya membuat saya tertegun. Masih lebih mudah bagi kita.
Ya, masih lebi h mudah bagi kita mendapat rezeki dibanding para tukang
koran. Masih lebih mudah bagi kita mencari penghidupan dibanding para
pedagang asongan. Masih lebih mudah bagi kita mencari makan dibanding para
pengamen jalanan. Masih lebih mudah bagi kita meminta bantuan teman,
dibanding mereka, gelandangan tak berkawan. Masih lebih mudah bagi kita.
(azimah rahayu, azi_75@yahoo.com)

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>