December 6, 2009 | Posted in:Motivasi

Sosok Ina (nama bukan sebenarnya),
sekilas tak tampak berbeda dengan gadis 26 tahun
lainnya. Ina tampak tenang dengan kerudungnya, tak ada
sorot mata sedih yang tampak dari matanya. Padahal,
cobaan hidup yang menimpanya mungkin tak pernah
terbayangkan oleh orang lain.

Bahkan, jika diajak bicara tentang problem yang
dihadapinya Ina tampak enggan. Terkesan Ina tak mau
luka hatinya terkoyak kembali. Namun ketika dijelaskan
bahwa penuturan kisah hidupnya bisa menjadi sumber
inspirasi bagi orang lain, akhirnya Ina mau membuka
suara hatinya.

Wajar adanya jika kita mengacungi jempol atas
ketabahan Ina menghadapi cobaan hidupnya yang datang
bersamaan, yaitu penyakit yang dideritanya sehingga
mengharuskan dia kehilangan rahim, kesulitannya
merawat ayah tercinta yang harus cuci darah secara
regular karena diabetes serta ujiannya harus merawat
ibunda yang lumpuh karena stroke.

Rahim Diangkat Pada Usia 25 Tahun
Berawal dari menstruasi yang tidak normal, Ina mulai
merasa ada ketidakberesan pada alat reproduksinya.
Darah yang keluar pada saat menstruasi begitu melimpah
sehingga dalam sehari Ina harus berkali-kali ganti
pembalut.

Namun, karena usia Ina saat itu masih sangat muda
yaitu 23 tahun, ia tidak terlalu mengkhawatirkan hal
itu. Ia menganggap hal itu terjadi karena perubahan
hormon atau kelelahan. Saat itu tidak terlintas di
kepalanya bahwa pendarahan itu merupakan indikasi awal
tumbuhan jaringan abnormal dalam rahimnya.

Usia 23 tahun merupakan usia yang mengasyikkan bagi
Ina, ia menikmati masa-masa kuliah di sebuah
universitas negeri di Bandung. Mendalami ilmu politik
dan bersosialisasi dengan teman-teman kuliah mengisi
hari-harinya. Keluhan menstruasi yang timbul setiap
bulannya seakan terlupakan.

Pada semester V, Ina harus mengikuti Kuliah Kerja
Nyata di kampusnya. Sepulang KKN Ina mulai merasakan
sesuatu yang aneh pada perut bagian bawahnya. Perutnya
terasa membesar, bahkan ketika ia membandingkannya
dengan salah satu kakak iparnya yang tengah hamil 3
bulan, Ina merasa perutnya hampir sama besar.

“Tapi saat itu aku cuma berpikir mungkin ini karena
aku makan banyak pada saat KKN, bagian tubuhku yang
lain juga kelihatan gemuk,” ujar Ina.

Keganjilan pada perutnya semakin mengganggu, tapi Ina
belum merasa perlu memeriksakan ke dokter. Ketakutan
jika divonis menderita penyakit yang aneh-aneh
bercampur dengan harapannya bahwa ia cuma sedang gemuk
saja.

Tapi situasi berubah begitu cepat. Secara kebetulan
keanehan perut Ina diketahui oleh teman-temannya.
“Saat itu aku nginep sama beberapa temen cewekku, kami
sama-sama tiduran dan salah seorang teman duduk di
kasur. Secara tak sengaja ia lihat perut bawahku
menonjol, lain sekali jika dibandingkan dengan perut
teman-teman yang lain,” kata Ina.

Apalagi ketika Ina mencoba meraba-raba perutnya, tidak
seperti teman yang gemuk lainnya, perut Ina yang
membesar terasa lebih keras. Akhirnya Ina memberanikan
diri pergi ke dokter. Semula dokter menganggap ia
hamil, tapi lewat pemeriksaan USG diketahui ia
menderita myoma uterus.

Ina yang tak mengetahui apapun tentang myoma uterus
semula tak begitu khawatir. Ia menganggap myoma uterus
adalah kelainan pada rahim yang biasa, tidak
memerlukan tindakan operasi apapun.

Tapi ternyata vonis dokter sangat lain, ia
diperintahkan segera dioperasi karena tumor jinak yang
dideritanya telah mencapai sebesar kepala bayi.

Operasi yang dilakukan juga harus mengangkat rahimnya,
organ yang paling bermakna buat seorang wanita untuk
melangsungkan keturunannya.

Ina mengaku tak tahu mesti berbuat apa. Yang jelas Ina
tak mau begitu saja kehilangan rahimnya, ia tetap
ingin melahirkan seorang bayi lewat rahimnya. Ina
mencoba berontak dan menanamkan keyakinan bahwa
penyakitnya dapat disembuhkan tanpa harus diangkat di
meja operasi.

Tiba-Tiba Bapak Tercinta Sakit Keras
Di tengah penderitaan batinnya yang sangat hebat,
ternyata Tuhan masih ingin mencoba Ina. Tak berapa
lama kemudian Bapak tercinta yang memang sudah sering
sakit-sakitan tiba-tiba divonis dokter menderita
diabetes sehingga harus cuci darah secara teratur.
Selain menguras biaya, diabetes juga telah menimbulkan
efek samping yang hebat, tidak saja bagi penderitanya
namun juga bagi keluarganya.

Tiba-tiba saja sosok Bapak menjadi sangat sensitive
dan manja. Untunglah ibunda saat itu masih sehat
sehingga Ina yang bungsu dari lima bersaudara tak
kerepotan sendiri. Karena cuma tinggal Ina dan ibunya
yang ada di rumah karena kakak-kakak yang lain telah
berkeluarga dan keluar dari rumah, maka Ina dan Ibunda
yang harus merawat bapak dengan susah payah.

Ina hampir tak pernah bisa tidur lelap, sepanjang
malam Ina mesti memijati kaki Bapak karena
pegal-pegal. Belum lagi keluhan-keluhan lain yang
mesti dilayani dengan baik oleh Ina dan Ibunda karena
jika tidak Bapak pasti ngambek.

“Tapi Tuhan seakan memberi kekuatan lain, di tengah
masalah yang aku hadapi dan juga sakitnya Bapak aku
ternyata bisa melewati semua itu. Tekadku untuk sembuh
tanpa mesti dioperasi begitu kuat, akhirnya aku
mencoba pengobatan alternatif,” ujar Ina.

Ina berganti-ganti mendatangi tempat pengobatan
alternatif. Lebih dari tiga tabib dan shinshe ia
datangi. Dari tempat tinggalnya di kawasan Bandung
Timur, untuk pertama kalinya Ina mencoba pengobatan
alternatif dari seorang tabib di Jakarta. Merasa tak
ada hasil, Ina pindah ke shinse yang lain, begitu
seterusnya, sementara tonjolan di perut bawahnya
semakin membesar.

“Dari perjalanan berobat kesana kemari aku baru tahu
bahwa penyakit tumor ini merupakan bawaan dari Ibuku
yang juga menderita kanker dan rahimnya harus
diangkat, bedanya saat itu Ibu sudah punya lima anak,”
ujar Ina dengan wajah tabah.

Di tengah kegamangan atas penyakitnya yang tak kunjung
membaik, Ina kembali diuji, Bapak tercinta akhirnya
menutup mata. Walaupun merasa kehilangan Ina mengaku
ikhlas melepas Bapak karena penderitaan Bapak
akibatnya didera penyakit membuat Bapak terlihat
begitu menderita.

Kendati berbagai cobaan hidup yang begitu berat datang
seakan tanpa henti, Ina berhasil menyelesaikan
kuliahnya tepat waktu. Masa menyelesaikan skripsi yang
oleh sebagian mahasiswa lain tampak menyulitkan,
berhasil dilewati Ina dengan lancar.

“Aku akhirnya lulus, Alhamdullilah, tapi tak lama
kemudian aku ternyata harus menyerah di meja operasi,”
ujar Ina.

Akhirnya Rahimku Diangkat Juga
Setelah dua tahun berjuang menyembuhkan penyakitnya
melalui pengobatan alternatif yang tak membuahkan
hasil yang berarti, akhirnya Ina tak kuasa
menghentikan takdir Tuhan. Ina merasa perutnya tak
kunjung mengecil, bahkan dari waktu ke waktu terasa
makin membesar.

Akhirnya Ina menghentikan pengobatan alternatifnya dan
kembali mendatangi dokter, ternyata vonis kembali
jatuh. Ina harus segera dioperasi karena tumor di
perutnya telah mencapai 4 kg. Jika tidak segera
dioperasi dikhawatirkan nyawanya tidak tertolong
karena tumor telah mengganggu kerja organ tubuh
vitalnya.

Dengan berat hati, Ina akhirnya merelakan rahimnya
yang dihuni tumor berupa jaringan otot yang berwarna
putih sebesar bola volley diangkat. Seusai operasi,
tak terkatakan bagaimana galaunya hati Ina menghadapi
masa depan.

Tapi keyakinan bahwa Tuhan tidak akan mencoba umat-Nya
melebihi kemampuannya, ternyata berlaku buat Ina.
“Ternyata bisa-bisanya aku naksir dokter yang
mengoperasi aku. Dokternya begitu ramah, aku suka
sekali. Sedih sekali ketika akau memeriksakan perutku
pada waktu kontrol terakhir karena berarti aku juga
harus berpisah dengan Pak Dokter,” kata Ina sembari
tersenyum.

Rupanya Tuhan memberi ketabahan yang luar biasa pada
diri Ina. Ina tidak terkungkung dalam perasaan
sedihnya.

“Aku bisa go on dengan hidupku lagi, kendati dengan
Pak Dokter itu akhirnya aku berpisah dan tidak bertemu
kembali,” ujar Ina sembari tersenyum.

Ibunda Terkena Stroke dan Lumpuh
Tapi Tuhan rupanya masih berkehendak mencoba ketabahan
Ina. Ina kembali dicoba dengan musibah yang menimpa
Ibu tercinta. Ibunda yang biasanya terlihat bugar,
tiba-tiba terkena stroke dan akhirnya lumpuh.

Untuk kedua kalinya bakti Ina kepada orang tua harus
dibuktikan. Ina merawat Ibunya dengan penuh cinta
kasih. Mulai dari memandikan, membimbing Ibu bergerak,
mengatur porsi makan, meminumkan obat sampai memimpin
bacaan shalat Ina lakukan dengan ikhlas.

“Oleh sebab itu aku nggak sempat cari kerja. Bekerja
mungkin belum waktunya buat aku, walaupun sebenarnya
ingin juga bekerja seperti teman-teman lain. Tapi aku
ingin puas mengurus Ibunda tercinta,” ujar Ina sambil
tersenyum.

Ikhlas dan Optimis, Kunci Menikmati Hidup
Ditengah kondisinya sekarang, Ina tetap optimis
menghadapi hidup. Ia yakin setiap manusia telah
ditakdirkan memiliki pasangannya masing-masing,
termasuk dirinya.

Ina yakin pasti ada laki-laki yang mau menerima
kondisinya seperti sekarang. “Biarlah kesendirian aku
sekarang diisi dengan kegiatan yang bermanfaat,
mengurus ibuku dan merintis usaha menjahit kerudung.
Pasti Allah masih menyayangi aku dan aku bisa
berbahagia suatu saat nanti,” ujar Ina.

Agaknya ketabahan Ina patut kita teladani, tak setiap
orang bisa sekuat Ina ketika diberi cobaan yang begitu
berat dalam waktu yang hampir bersamaan. Terlebih
lagi, kata Ina, di usia 26 tahun ia seperti wanita
yang telah menopouse karena haidnya juga telah
terhenti sejak ia dioperasi.

“Aku nggak merasa jadi orang paling malang sedunia.
Aku yakin banyak orang lain yang mengalami cobaan
lebih berat dari aku. Pokoknya aku mau jalani hidup
ini apa adanya,” ujar Ina menutup pembicaraan dengan
senyum manisnya.

Baiklah Ina, kita doakan kamu bisa bahagia, Amin!

6 Comments

  1. toko jilbab
    November 24, 2010

    wow, hebat, aku bertanya-tanya bagaimana menyelesaikan masalah saya. dan kemudian menemukan situs Anda dengan google, saya belajar banyak, dan sekarang sudah agak jelas. Saya sudah bookmark situs Anda dan juga menambahkan rss. stay updated ya!!

  2. admin
    November 28, 2010

    senang sekali rasanya,artikel ini bisa membantu menyelesaikan kawan.trm kasih atas kunjungannya….

  3. mamat
    September 1, 2011

    mbak sungguh luar biasa sabar dan ikhlas dalam menjalani hidup ini. sangat menginspirasi bagi banyak org yg masih memandang dirinya adalah yg paling malang dan merana di dunia ini, mereka menganggap masalah mereka adalah yang terberat. padahal disekitar mereka masih ada yg jauh lebih besar dan berat masalah yang dihadapi.

    kisah mbak ini hampir sama dengan seseorang yg mengisi hati saya saat ini. tapi bukan karena suatu penyakit.
    walopun dia memiliki kekurangan, tapi saya mencintai dan menyayangi dia sepenuh hati. karena saya tidak melihat hal tersebut sebagai suatu kekurangan. hingga saat inipun saya masih berusaha meyakinkan lho mbak, klo ada org yg bersedia menjadi pendampingnya, dan menerimanya apa adanya.

    yakin kok mbak, suatu saat nanti pasti ada laki-laik yg akan menyayangi dan mencintai mbak apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan dan yang ada.

    trima kasih atas kisahnya

  4. wati
    October 3, 2011

    Ya Allah betapa tabahnya engkau mba, terharu aku membaca kisahmu. Dulu aku menyangka aku termasuk salah seorang yang sangat menderita di dunia ini , ternyata di belahan bumi sana masih ada engkau yang lbh dan lbh deritanya dariku. kini ku sadari mensyukuri ni’mat-Nya lbh baik ketimbang meratapi nasib, berjuang untuk menjadi pemenang untuk meraih surga-Nya. Amin. terimakasih tlah berbagi.

  5. admin
    October 11, 2011

    semoga allah senantiasa memberikan ketabahan atas cobaan yang telah diberikan olehNya..

  6. yuni
    April 30, 2013

    mbak, salut buat mbak. disini bukan hanya mbak yang sudah kehilangan rahim mbak. saya juga mengalami hal yang sama dengan mbak, tapi bedanya saya sudah menikah. Dulu suami saya yang memberi dukungan kepada saya supaya saya kuat dan tabah , siapa sih yang mau mengalami hal semacam ini , tidak ada satu wanita pun yang ingin kehilangan rahimnya bukan ? begitu juga saya. tapi nasip berkata lain saya harus menyerah karena myioma itu sudah merusak indung telur dan rahim saya. awalnya saya juga down, sedih luar biasa sampai berat badan saya turun drastis karena saat itu saya belum punya anak. setelah berjalan beberapa tahun, suami saya mulai berubah, dia minta ijin kepada saya untuk menikah lagi dengan alasan saya tidak bisa punya anak. betapa hancur hati saya… suami yang saya cintai yang dulu membesarka hati saya minta ijin untuk menikah lagi dengan alasan yang seperti itu.
    itulah cerita saya mbak, semoga mbak mendapatkan pendamping yang bisa mengerti mbak..dan menerima mbak apa adanya…

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>