November 14, 2009 | Posted in:Motivasi

Anda dan saya mungkin sudah sering bertemu dengan orang Madura
pedagang sate keliling. Juga melihat dari dekat bagaimana mereka
mengelilingi jalan-jalan di sekitar perumahan menjajakan
dagangannya. Tetapi tetap saja saya belum bisa membayangkan betapa
uletnya Pak Madraji. Selama 20 tahun Pak Madraji berjalan kaki,
setiap sore hingga larut malam dari rumahnya di Kawasan Sentiong
Jakarta ke Sawah Besar tempat dia menjajakan sate Madura dalam
gerobaknya. Di Kawasan Sawah Besar itu, ia juga masih akan
berkeliling lagi. Panas, hujan, jalanan berdebu, becek dan deru
knalpot berasap tebal di tengah bersiliwerannya kendaraan, ia lalui
terus karena ia harus tetap jualan.

Bagi Anda yang tidak akrab dengan Jakarta, bolehlah membayangkan
Sentiong dan Sawah Besar itu merupakan dua kawasan yang dipisahkan
jarak sekitar tiga kilometer. Jalan yang dilalui adalah jalan besar.
Kalau ditempatkan dalam konteks sekarang, jalan yang menghubungkan
kedua kawasan itu boleh lah disebut wild wild west-nya Jakarta.
Semua jenis kebengalan orang ada di situ. Juga semua tingkatan
keganasan orang berkendaraan lengkap ditemukan di jalanannya.

Dan, Pak Madraji melaluinya selama 20 tahun. Setiap malam, kecuali
kalau dia sakit. Apa yang mendorongnya?

Saya lalu menemuinya di Warung Anda, warung sate miliknya yang laris-
manis di kawasan Atrium Senen, Jakarta. Saya sudah sering makan di
warung sate itu, tetapi karena ingin menulis tentang bisnis orang
Maduralah saya mau berlama-lama menunggunya. Pak Madraji ternyata
sosok yang ramah. Walau kalau kita memesan sate di sana ia terkesan
cuek, menanyakan seperlunya apa yang kita pesan, ia rupanya orang
yang kocak dan easy going bercerita.

Pak Madraji dilahirkan dari orang tua beretnis Madura, tinggal di
Cirebon. Setelah dia dewasa, 20 tahun lalu ia memberanikan diri
berangkat ke Jakarta, mengadu nasib. Tidak ada ijazah. Ia tidak
tamat Sekolah Dasar. Yang ia tahu, ia ingin mengikuti tradisi orang
Madura, berbisnis besi tua. Ia pun mencoba peruntungannya di bisnis
ini, dengan menggandeng mitra yang sudah lebih dulu menerjuni bisnis
ini.

Ternyata bisnisnya tidak jalan dan tidak semulus yang ia bayangkan.
Ia mengaku sering tertipu. Tidak bisa berbuat apa-apa. Modalnya
ludes.

Pendek cerita ia banting setir, kembali kepada keahlian yang
dibekalkan kedua orang tuanya dan juga masih tetap mereka tekuni,
yakni berdagang sate. Ia berdagang sate keliling. Mula-mula dengan
satu gerobak. Ia tekuni pekerjaan ini seperti kedua orangtuanya
mencintai pekerjaan ini. Ia membeli sendiri kambing yang akan ia
jadikan sate. Ia memotongnya sendiri. Ia membuat bumbunya sendiri
dan ia menjajakannya sendiri.

Saya agak tertegun ketika dia menceritakan ini. Saya masih tetap
mencari, apa motivasinya. Apa faktor paling penting yang mendorong
dia berbuat begitu. Apakah, misalnya, tidak sebaiknya dia pulang ke
Cirebon dan meneruskan usaha sate ayah dan ibunya?

Oh tidak, kata dia. Tidak ada kata ‘pulang’ dalam kamus dia. Dia
bertekad harus bisa mencari uang sendiri. Apalagi ia merasa malu
kepada calon istri kalau harus minta-minta uang dari kampung
halaman. Jadilah Madraji berdagang sate. Selama 20 tahun, ia
mendorong gerobak satenya dari Kawasan Sentiong yang padat ke
Kawasan Sawah Besar yang ramai.

Setelah 20 tahun, tujuh tahun lalu sebuah lompatan besar ia lakukan.
Ia membuka warung sate di kawasan Senen. Dia tidak lagi berdagang
keliling. Masakan satenya yang sudah punya pelanggan, ditambah
lokasi yang ia pilih menyediakan banyak pembeli, membuat warungnya
berkembang maju. Itu mendorong dia membuka satu warung lagi, persis
bersebelahan dengan pintu masuk Mal Atrium. Warung ini bahkan lebih
laris lagi. Dinamainya warung itu dengan nama Warung Anda. Nama itu
memang kedengaran ramah, sama sekali tidak memancarkan keangkuhan
yang selama ini kerap disematkan kepada orang Madura.

Warung Anda menjual dan menghabiskan tiga kambing setiap hari
(dijadikan 900 tusuk sate ditambah sop kambing), 50 kg ayam
(dijadikan sate ayam) dan kini ia menambah item baru: sate bebek.
Setiap hari dari Warung Anda Madraji mengantongi penjualan Rp3 juta.
Madraji hanya buka siang sampai sore di hari kerja, menyebabkan
penjualannya dari Warung Anda berkisar Rp60 juta per bulan.

Madraji kini punya empat outlet satenya. Tiga warungnya, satu di
Kawasan Senen, satu di depan Mal Atrium, satu di depan Rumah Sakit
Gatot Subroto. Outletnya yang lain adalah salah satu restoran di
Hotel Borobudur. Setiap malam ia memasok 500 tusuk sate ke restoran
tersebut. Pak Madraji tertawa saja ketika ditanyakan berapa ia
mengantongi penjualan setiap hari. “Cukup lah Pak,” kata dia. “Rumah
sudah rumah sendiri. Tidak ngontrak lagi.” Anaknya yang sulung kini
duduk di bangku kuliah. Dua adiknya menikmati pendidikan yang
baik. “Cukup lah saya yang hanya belajar di pesantren dan tidak
tamat SD,” kata dia.

Yang menyenangkan melihat Pak Madraji kerja adalah ketekunannya. Ia
bukan majikan. Ia masih ikut membakarkan sate, menyajikannya kepada
pembeli dan bahkan melobi pelanggan-pelanggan besarnya, yakni mereka
yang akan menyelenggarakan pesta pernikahan atau kenduri lainnya,
dan memesankan sate dari warungnya.

Tidak ada kesan dirinya telah menjadi Orang Kaya Baru (OKB). Para
anak buahnya yang jumlahnya kini belasan, kadang-kadang masih dengan
tanpa malu-malu meminjam motor yang digunakan Pak Madraji bepergian
kemana-mana, termasuk mengecek warung-warungnya.

Mungkin saja saya termasuk orang yang terlalu cepat mengagumi orang.
Tetapi memang, saya benar-benar tidak bisa menghindari untuk kagum
pada Pak Madraji. Apalagi bila melihat semangatnya. Saya menanyakan
kepada orang tua yang umurnya kira-kira 50-an tahun ini, apakah
masih ada keinginannya yang tak terbatas. Saya menanyakan pertanyaan
ini karena membayangkan dia akan menjawab, “Syukur, saya sudah
merasa puas. Tinggal meneruskan bisnis ini saja.” Jawaban seperti
ini sudah kerap saya temukan dari pengusaha kita.

Tetapi tidak. Pak Madraji mempunyai keinginan lain. Tidak muluk-
muluk dan tampaknya bakal dia capai. Ia punya impian dalam dua
sampai lima tahun ke depan ia bisa membuka warungnya di mal atau
dekat dengan mal. “Sebenarnya tahun lalu sudah hampir dapat Pak,”
kata dia. Waktu itu, ia sudah hampir deal dengan seorang pemilik
kios di kawasan Mal Cempaka Mas. Uang muka pun sudah ia setujui,
bahkan siap-siap akan dia bayarkan. Dasar nasib sial, lama sekali ia
baru bisa bertemu langsung dengan sang pemilik kios. Ketika bertemu,
ternyata Pak Madraji sudah keduluan oleh orang lain. “Mungkin bukan
rezeki saya Pak,” seru Pak Madraji.

Tiap kali melewati warungnya itu pada malam hari, ketika warung yang
sudah tutup itu berubah tempat mangkal sejumlah pengangguran yang
setengah preman, saya mengelus dada. Memang kalau kita hanya melihat
pemandangan yang suram itu, kita mungkin akan putus asa. Namun,
ketika pikiran saya arahkan kepada Pak Madraji, saya kembali
bersyukur. Alangkah bangganya kita menjadi orang Indonesia karena
Indonesia masih mempunyai orang seperti Pak Madraji. Jumlahnya saya
kira banyak sekali.[]

Sumber: Pak Madraji 20 Tahun Mendorong Gerobak oleh Eben Ezer
Siadari. Eben Ezer Siadari tinggal dan bekerja sebagai wartawan di
Jakarta. Buku karyanya sebagai penyunting antara lain, Sketsa 50
Eksekutif Indonesia (WartaEkonomi, 1996), The Power of Value in
Uncertain Business World, Refleksi Seorang CEO (Gramedia Pustaka
Utama,2004) dan Gubernur Gorontalo Menjawab Rakyat (2005).

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>