September 29, 2009 | Posted in:Motivasi

Ada seorang pegawai negeri yang saleh pulang kerja lembur pada akhir bulan.
Sementara pulang, dalam keadaan perut lapar sehabis lembur, dia berpikir
alangkah enaknya kalau sampai di rumah nanti makan nasi panas dengan lauknya
yang dibuat isteri tercintanya. Setelah sampai rumah dia disambut isterinya
lalu cuci tangan dan minta disediakan makan. Isterinya menyampaikan bahwa
makanan yang ada tinggal nasi dan hanya sedikit sayur bayam tanpa lauk.
Sebagai orang yang saleh si pegawai negeri bersyukur karena menyadari bahwa
setiap akhir bulan uang pasti sudah habis sehingga bisa makanpun sudah
syukur.

Tiba-tiba dia punya ide alangkah nikmatnya kalau sore itu makan dengan sate
ayam yang ada di dekat rumahnya karena sehabis lembur dia dapat uang
transport yang bisa dipakai jajan sate ayam. Namun dia berpikir alangkah
egoisnya kalau dia makan sate sendirian dan isterinya tidak. Dan besok
mereka harus makan apa kalau uangnya dipakai jajan sate. Makan sate berdua
dengan uang transport yang didapat barusan tidak cukup. Sebagai orang yang
saleh dia memutuskan untuk memberikan uangnya kepada isterinya untuk membeli
lauk pauk untuk besoknya. Tapi sore ini lauknya tiadak ada. Maka pikirnya
mungkin nikmat juga kalau dia makan nasi panas di dekat penjual sate sebab
jika bisa mencium baunya saja rasanya sudah seperti makan sate sungguhan.
Maka berangkatlah dia sambil bawa nasi sendiri ke dekat tukang sate. Tentu
dia cari posisi duduk dimana angin bertiup. Maka makanlah si pegawai negeri
itu dengan lahap sambil tersenyum, rupanya nikmat juga walaupun hanya
mencium bau sate.

Lalu selesailah sudah makannya dan perut sudah kenyang tetapi alangkah
terkejutnya ketika mau pulang dia ditagih penjual sate untuk membayarnya.
Dia berdalih bahwa dia tidak makan satenya. Jawab tukang sate ngotot bahwa
kalau tidak ada bau sate yang dia bikin tentu tidak bisa makan dengan lahap.
Lanjutnya bahwa dia duduk dekat tempat jualan sate memang dengan sengaja
mau mencium aroma sate sebagai lauk makannya. Tukang sate tetap menuntut
bayaran atas aroma sate itu.

Bingunglah si pegawai negeri ini atas tuntutan si penjual sate karena tidak
punya uang sama sekali. Ketika tanya berapa harus bayar maka tukang sate
menjawab kalau nasi sate 5 ribu rupiah maka untuk mencium dengan sengaja
aroma sate cukup seribu saja. Cukup fair juga tukang sate itu.

Sementara berdebat kebetulan datanglah ketua RT setempat, seorang tua yang
dikenal bijaksana, ketempat itu untuk membeli sate. Maka mengadulah mereka
masing-masing dengan argumentasinya kepada orang tua bijaksana ini. Mereka
berjanji apa saja yang diputus kan orang tua ini akan mereka turuti karena
mereka tahu pasti akan ada jalan keluar. Pikir tukang sate pastilah dia akan
dibayar tetapi pikir si pegawai negeri pastilah tidak akan disuruh membayar
karena memang tidak pernah merasakan sate kecuali aromanya saja. Terjadilah
suasana hening menunggu keputusan. Lalu orang tua itu berkata bahwa
sipegawai negeri memang harus membayar karena dengan sengaja telah mencium
aroma sate dengan tujuan sebagai lauknya meskipun hanya dalam bayangannya.
Maka terkejutlah sipegawai negeri dan tersenyumlah si tukang sate atas
keputusan itu. Sipegawai negeri terhenyak berpikir bagaimana dia harus
membayarnya karena tidak punya uang. Mendadak orang tua bijaksana itu
merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang recehan seratusan dan dua ratusan
dari kantong celananya dan mulai menghitung seratus, dua ratus, lima ratus,
cring..,cring…cring… sampai genap seribu rupiah. Semua mata
memperhatikan tangan orang tua ketika menghitung uangnya.

Lalu katanya kepada penjual sate :” Apakah anda melihat uang yang saya
hitung jumlahnya seribu ?”.

Jawab tukang sate : “Benar”.

Orang tua itu juga bertanya : “Apakah anda juga mendengar gemerincing uang
yang saya hitung?”

Jawab tukan sate pula : “Benar”.

“Baiklah kalau begitu”, kata orang tua bijak sana kepada kedua orang yang
bersengketa : “Persoalan ini telah selesai”.

Terkejutlah situkang sate bagaimana akhirnya bisa begini. Orang tua itu
menjelaskan : “Yang satu dituntut membayar karena telah mencium aroma sate
dan yang lain tentu juga harus puas telah dibayar setelah melihat dan
mendengar gemericingnya uang seribu rupiah, karena yang satu hanya dapat ”
makan sate” dalam bayangannya maka cukuplah adil yang lainya juga dibayar
dengan “melihat dan mendengar” uangnya saja……………….”

Pesan moralnya bahwa ada banyak pesan agama yang sangat berguna yang telah
didengar, dilihat bahkan dirasakan, tetapi ternyata hanya sampai di pikiran
atau menjadi pengetahuan saja, namun tidak benar-benar dialami atau
dilakukan.

Banyak ajaran melalui para Da’i juga para pendeta kristen
maupun Hindu, Budha yang telah didengar, dipahami, bahkan dapat dirasakan
kebenarannya, tetapi apakah ini hanya semacam “bau sate” saja, tetapi tidak
pernah dialami atau dilakukan ? Meskipun ketika mendengar sangatlah
tersentuh dengan kepala manggut-manggut bahkan sampai menagis………….

Semoga memberi inspirasi

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>