May 18, 2011 | Posted in:Motivasi

Seorang raja yang sudah memasuki usia senja sedang mempersiapkan
putranya agar suatu ketika kelak dapat menggantikan dirinya. Ia
mengirim putranya pada seorang bijak untuk belajar mengenai
kepemimpinan.

Setelah menempuh perjalanan panjang, bertemulah putra mahkota ini
dengan si orang bijak. ”Aku ingin belajar padamu cara memimpin
bangsaku,” katanya. Orang bijak menjawab, ”Masuklah engkau ke
dalam hutan dan tinggallah disana selama setahun. Engkau akan
belajar mengenai kepemimpinan.”

Setahun berlalu. Kembalilah putra mahkota ini menemui si orang
bijak. ”Apa yang sudah kau pelajari?” tanya orang bijak. ”Saya
sudah belajar bahwa inti kepemimpinan adalah mendengarkan,”
jawabnya. ”Lantas, apa saja yang sudah engkau dengarkan?” ”Saya
sudah mendengarkan bagaimana burung-burung berkicau, air mengalir,
angin berhembus dan serigala melonglong di malam hari,”
jawabnya. ”Kalau hanya itu yang engkau dengarkan berarti engkau
belum memahami arti kepemimpinan. Kembalilah ke hutan dan tinggallah
disana satu tahun lagi,” kata si orang bijak.

Walaupun penuh keheranan, putra mahkota ini kembali mengikuti saran
tersebut. Setahun berlalu dan kembalilah ia pada si orang
bijak. ”Apa yang sudah kau pelajari,” tanya orang bijak. ”Saya
sudah mendengarkan suara matahari memanasi bumi, suara bunga-bunga
yang mekar merekah serta suara rumput yang menyerap air. ”Kalau
begitu engkau sekarang sudah siap menggantikan ayahmu. Engkau sudah
memahami hakekat kepemimpinan,” kata si orang bijak seraya memeluk
sang putra mahkota.

Syarat utama kepemimpinan adalah kemampuan mendengarkan. Manusia
diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut. Ini adalah isyarat
bahwa kita perlu mendengar dua kali sebelum berbicara satu kali.
Mulut juga didisain tertutup sementara telinga kita dibuat terbuka.
Ini juga pertanda bahwa kita perlu lebih sering menutup mulut dan
membuka telinga.

Prinsip dasar inilah yang sebetulnya perlu dipahami oleh seorang
pemimpin dimana pun ia berada, apakah ia memimpin negara,
perusahaan, organisasi, rumah tangga maupun diri sendiri. Semua
masalah yang terjadi di dunia ini senantiasa bermula dari satu hal:
Kita terlalu banyak bicara tapi kurang mau mendengarkan orang lain.
Kita memiliki terlalu banyak statement (pernyataan), tetapi terlalu
sedikit statesman (negarawan) yang ditandai dengan kemauan untuk
mendengarkan pihak lain.

Tetapi, mendengarkan dengan telinga sebenarnya baru merupakan
tingkat pertama mendengarkan. Seperti yang ditunjukkan dalam cerita
di atas, seorang pemimpin bahkan dituntut untuk dapat mendengarkan
hal-hal yang tak bisa didengarkan, menangkap hal-hal yang tak dapat
ditangkap, serta merasakan hal-hal yang tak dapat dirasakan oleh
orang kebanyakan.

Seorang pemimpin perlu mendengarkan dengan mata. Inilah tingkat
kedua mendengarkan. Dalam proses komunikasi ada banyak hal yang
tidak dikatakan tapi sering ditunjukkan dengan tingkah laku dan
bahasa tubuh. Orang mungkin mengatakan tidak keberatan memenuhi
permintaan Anda, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal yang
sebaliknya.

Seorang karyawan yang merasa gajinya terlalu rendah mungkin tidak
menyampaikan keluhannya dalam bentuk kata-kata tetapi dalam bentuk
perbuatan. Seorang yang merasa bosan dengan lawan bicaranya juga
sering menunjukkan kebosanan itu lewat gerakan tubuhnya. Nah, kalau
Anda tidak dapat menangkap tanda-tanda ini, Anda belum memiliki
kepekaan yang diperlukan sebagai pemimpin.

Tingkat ketiga adalah mendengarkan dengan hati. Inilah tingkat
mendengarkan yang tertinggi. Penyair Kahlil Gibran menggambarkan hal
ini dengan mengatakan: ”Adalah baik untuk memberi jika diminta,
tetapi jauh lebih baik bila kita memberi tanpa diminta.” Kita
memberikan sesuatu kepada orang lain karena penghayatan, rasa empati
dan kepekaan kita akan kebutuhan orang lain. Disini orang tak perlu
mengatakan atau menunjukkan apapun. Kitalah yang langsung dapat
menangkap apa yang menjadi kebutuhannya. Komunikasi berlangsung dari
hati ke hati dengan menggunakan ”kecepatan cahaya”.

Sayang, amat jarang pemimpin di Indonesia yang memiliki kepekaan
ini. Jangankan di level ketiga, untuk sampai ke level pertama yaitu
mendengarkan dengan telinga saja masih banyak yang belum mampu.
Lihatlah apa yang terjadi pada masyarakat kita. Berbagai bencana
yang dialami masyarakat, mulai dari banjir, gempa bumi, flu burung,
hingga demam berdarah tidak ditanggapi pemerintah dengan serius.

Bahkan himbauan dari berbagai kelompok masyarakat kepada para
politisi tertentu agar tidak mencalonkan diri karena tergolong
politisi busuk dan pelaku KKN dianggap sebagai angin lalu. Orang- orang ini – bahkan yang sudah terbukti tidak mampu sekalipun – masih
ngotot mencalonkan dirinya sebagai presiden. Karena itu, marilah
kita berdoa agar negara ini tidak lagi dipimpin oleh orang
yang ”tuli”, ”bisu” dan ”buta”. Apalagi oleh orang
yang ”buta” hati nuraninya dan hanya memikirkan kepentingan
dirinya sendiri.

Sumber: Pelajaran Pertama Kepemimpinan oleh Arvan Pradiansyah, pengamat kepemimpinan dan penulis buku You Are A Leader!

TAGS:

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>