April 22, 2010 | Posted in:Motivasi

Ada seorang anak kecil yang berdagang koran, walaupun hari sudah melewati senja ia tetapri satu mobil ke mobil yang lain. Mungkin karena beban hidup yang seharusnya belum ditanggung olehnya memaksa ia melakukan semua itu. Ketika lampu lampu lalu lintas berwarna merah, iapun menghampiri sebuah mobil yang cukup mewah. Dan yang mengendarai mobil itu sepertinya iba melihat anak itu, dan kemudian berbicara kepada anak itu :

Driver : “Dik, sudah malam begini kok tidak pulang kerumah.”
Penjaja : “Belum habis korannya Om, Om mau beli.”
Driver : “Gimana kalau saya kasih uang Rp.100.000 dan kamu pulang. Kamu
bukannya harus sekolah besok.”
Penjaja : “Saya jualan koran Om, bukannya pengemis. Kalo Om mau kasih saya uang, beli saja koran saya ini seharga koran ini. ”
Driver : “Saya tidak butuh koran hari ini dik, terima saja uang ini.”
Penjaja : “Saya tidak diajarkan orang tua saya untuk menerima uang bukan dari jerih payah saya sendiri…”

Penjaja koran itupun berlalu tanpa menerima uang seperserpun…

Akankah kita sanggup untuk melakukan hal seperti yang dilakukan penjaja koran itu…? Menolak apa yang seharusnya kita tolak, menerima apa yang telah kita upayakan walaupun sedikit. Sulit jika kita tidak berusaha dari sekarang….enyerap Pemikiran, Semangat, dan Harapan Kartini

Ibu kita Kartini putri sejati
Putri Indonesia harum namanya
Ibu kita Kartini pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai Ibu kita Kartini putri yang mulia
Sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia
– Kartini, (W.R. Soepratman)

Kartini, Raden Ajeng/Ayu (bukan nama depan) adalah perempuan yang
selayaknya menjadi kebanggaan bangsa. Tetapi cukupkah sekedar
membanggakannya, memberinya gelar pahlawan, atau memperingati hari
lahirnya? Bagaimana dengan gagasan-gagasannya, siapa yang berani
mengimplementasikannya? Siapa yang setia dan konsisten berjuang bagi
orang lain, bahkan hingga berkorban? Pengorbanan yang bahkan
prinsipil.

Kartini berkorban dengan darah dan air mata. Tak banyak yang tahu
atau peduli manakala hatinya kesakitan, menangis tersedu, saat ia
tak boleh sekolah, semata-mata karena seorang perempuan. Ia
dipingint, seperti banyak perempuan lain saat itu. Itulah
pengorbanan. Padahal mimpi dan cita-citanya bersekolah adalah untuk
kemajuan bangsa dan kemajuan perempan, “Dan tidak hanya untuk
perempuan saja, tetapi untuk masyarakat Bumiputra seluruhnya
pengajaran kepada anak-anak merupakan berkah?” (surat 31-1-1901)

Adalah benar adanya pernyataan Kartini itu. Kartiini hadir dengan
gagasan dan praktek pembebasan bukan hanya untuk perempuan tetapi
juga untuk masyarakat terjajah, kemiskinan dan adat istiadat yang
merugikan. Kartini mengaktualisasikannya dengan antara lain membantu
pengrajin perak dan kayu. Kartini menjadi mediator yang menerima
pesanan dari Belanda kepada pengrajin. Kartini pun berupaya agar
pengrajin lebih dapat meningkatkan mutu desainnya dengan mengadakan
semacam training dan meminta tolong kepada yang lebih ahli.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa diserap dari gagasan dan
tindakan Kartini, bila kita mau. Kartini menjalani hidup dengan
kekuatan menggapai apa yang dipercayainya, menjadi manusia mandiri.
Katini melauluinya dengan pengorbanan, pengharapan, serta
kegembiraan. Pengorbanannya saat ia memilih menerima pernikahan dan
menjalani poligami untuk bisa mendirikan sekolah “Jika tujuan saja
yang dikejar dengan jalan ini lebih cepat dan lebih pasti dapat saya
capai, apa salahnya untuk menempuh jalan itu”, pengharapanya saat
memulai sekolah akan lebih banyak orang yang berakal dan berwatak,
dan kegembiraannya saat mendengar Abdulah Rivai mendapatkan beasiswa
belajar di Batavia.

Tulisan bisa panjang jika saya berupaya menuliskan gagasan dan
pemikiran Kartini, meskipun saya sebenarnya senang sekali jika ada
kesempatan itu. Saya akan bisa bercerita banyak tentang gagsan
Kartini. Mungkin tak akan habis, dan tentunya selalu relevan, kaya,
multidimensi, dan penuh makna. Seperti gagasannya tentang tubuh
perempuan, “diajarkan satu mata pelajaran lagi, yaitu pengetahuan
tentang tubuh kita, bentuk dalam dan bentuk luarnya serta tugas yang
harus dilakukan tiap bagian jasad manusia untuk mempertahankan hidup
dan kesehatan” (surat 10-6-1902) dan paling relevan tentang Barat
dan Timur.”

Adalah hal yang patut disayangkan bila pemikiran dan gagasan Kartini
tersendat tak sampai ke pikiran dan hati jutaan perempuan di mana
pun berada. Bahkan hampir tak pernah masuk dalam buku teks sekolah,
apalagi dipelajari. Sehingga tak banyak perempuan memahami pemikiran
dan gagasannya, terlebih konteks jaan di mana Kartini hidup. Bahkan
tudingan negatif mengenai pemikiran dan perjuangan Kartini pun
lahir, turut mengaburkan maknanya.

Kartini memang mengakui bahwa ia belajar dari Eropa dan menyerap
nilai positif dari sana, “Bukan hanya suara-suara dari luar; dari
Eropa yang sampai kepada saya yang menyebabkan saya ingin mengubah
keadaan sekarang ini. Sejak saya masih kanak-kanak…pada waktu kata
emansipasi belum mempunyai arti apa-apa bagi saya dan tulisan itu
masih di luar jangkauan saya, dalam hati saya sudah timbul keinginan
untuk mereka, bebas, dan berdiri sendiri.”

Betapapun hujaman dan pengabaian Kartini, kita tak akan pernah
menganggap pilihan yang ditetapkan Kartini, Roekmini, dan Kardinah
adalah pilihan mudah, kenyataannya tak ada perempuan lain dengan
kesempatan dan privelege sama (ningrat) berani mengambil langkah
mereka: memaknai hidup, betapapun kerasnya, untuk selalu berjuang.

Kartini tak pernah berharap apa-apa, bahkan mungkin tak menyadari
bahwa yang ditulisnya kemudian menjadi sangat berarti, tetapi
benarkah begitu, seerapa jauh kita mampu menyerap semangat dan
pemikiran Kartini seperti katanya, “…kami hendak memberikan diri
kami seluruhnya, kami tidak minta apa pun bagi diri kami, kami hanya
ingin agar dikerjakan sesuatu terhadap yang menyedihkan dan kejam,
agar dibuat permulaan dari akhirnya”. (surat 21-12-1901)

Sumber: Menyerap Pemikiran, Semangat, dan Harapan Kartini oleh Umi
Lasmina

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>