26 January 2010 ~ 1 Comment

Sahabat sejati bukan memberi pada saat orang meminta

Ia memberi tanpa kata-kata, tanpa menepuk dada.”

Sabtu pagi. “Amru … dipanggil kepala sekolah!” lagi-lagi namaku dipanggil. Aku sudah tahu apa yang akan disampaikan Kepala Sekolah. Bulan lalu Bu Isti wali kelasku memanggil menyampaikan salam untuk orang tuaku untuk segera membayar biaya SPP-ku yang sudah nunggak hampir 6 bulan. Sebulan sebelumnya bahkan bagian Tata Usaha sudah berkali-kali memanggilku hingga semua teman-teman tahu setiap kali aku dipanggil pasti urusannya dengan soal bayaran sekolah.

Sejak orangtuaku bercerai dan aku memutuskan untuk ikut ibu setahun yang lalu, kondisi ekonomi keluargaku memang semakin terdesak. Terlebih sejak ayah menyetop kiriman uang yang seharusnya menjadi kewajibannya 6 bulan lalu. Ibu yang hanya lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama) menggunakan kemampuannya mengetuk satu persatu pintu orang-orang berada dan menawarkan jasanya untuk mengajar ngaji anak-anak mereka. Akibat kebutuhan yang mendesak itulah, ibu selalu kehabisan uang untuk biaya sekolahku, juga adik-adikku.

Ada Wicaksono, kami memanggilnya Sony, di kelas ia selalu menjadi biang keributan, sering membuat onar dan tidak jarang berbuat usil terutama kepada perempuan. Hampir semua anak dikelas tak menyukainya, selain ia juga sombong.

Ia sangat suka pamer jika mempunyai barang-barang bagus yang baru dibelikan orangtuanya, seperti sepatu dan tas. Dilihat dari merk-nya sih, jelas tidak murah, bagus pula modelnya. Aku tak pernah iri kepadanya, hanya saja yang membuat aku membencinya lebih karena ocehannya setiap petugas tata usaha memanggilku. “Pinter-pinter nunggak…” atau sindiran lainnya.

Sore menjelang Ashar, dengan langkah gontai aku memasuki teras rumah. Kulihat ibu sedang menyapu lantai. Sejak dalam perjalanan pulang sudah kuputuskan untuk tidak menyampaikan surat panggilan kepala sekolah agar tidak menjadi beban pikiran Ibu. Lagi pula mulai besok sampai minggu depan sekolah libur.

Satu minggu sesudah jadwal masuk aku masih belum mau ke sekolah. Aku ‘membohongi’ ibu dengan mengatakan bahwa libur sekolah diperpanjang. Hingga akhirnya Fauzan, seorang temanku datang dan mengajakku ke sekolah. Ada yang lain di sekolah, petugas TU yang biasanya tak pernah senyum kepadaku, hari ini begitu ramah. Di kelas, tak ada yang berubah kecuali Sony, teman- teman bilang ia telah berubah setelah mengikuti pesantren kilat selama liburan yang lalu. Tak ada lagi kesombongan dan sifat usilnya.

Itu dua belas tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku SMA kelas 2. Kini aku tak pernah bertemu lagi dengan mereka, orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Yang kutahu cuma satu, Fauzan, teman sekolahku dulu kini menjadi salah satu staf dalam perusahaan yang aku dipercaya menjadi General Managernya. Satu bulan lalu saat acara syukuran dikantor atas dipercayanya aku menjadi GM, Fauzan membisikkan sesuatu yang membuatku menitikkan airmata. “Masih ingat Sony? Dia menjual tas dan sepatu barunya untuk melunasi tunggakan biaya sekolah kamu dulu”

Sahabat sejati bukan memberi pada saat orang meminta, ia mempunyai mata pandang yang mampu menembus relung kebisuan sahabatnya. Ia memberi tanpa kata-kata, tanpa menepuk dada.

Saudaraku, mungkin sepanjang perjalanan hidup kita pernah ada orang- orang yang menjadikan dirinya batu pijakan sehingga kita bisa melangkah maju dan lebih jauh. Meski cuma batu kecil, namun keberadaannya mungkin telah menyelamatkan kita dari jurang kejatuhan yang melumpuhkan. Sayangnya, seringkali kita tak pernah menengok batu-batu pijakan itu dan melupakannya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Incoming search terms for the article:

kata kata sindiran (144)kata-kata sindiran (119)kata sindiran untuk sahabat (81)cerita sahabat sejati (64)kata kata sindiran untuk teman (58)kalimat sindiran (58)kata kata sindiran pedas (33)kata kata sindiran untuk orang sombong (33)kata kata sindiran halus (25)kata kata SAHAbat sejati (25)kata-kata sindiran halus (24)kata-kata sahabat sejati (24)kata-kata sindiran untuk orang sombong (21)sindiran untuk orang sombong (21)artikel persahabatan sejati (21)kata2 sindiran (21)kata kata untuk sahabat sejati (20)kisah persahabatan sejati (19)kata kata sindiran untuk sahabat (19)cerita pendek persahabatan sejati (15)kata sindiran buat orang sombong (15)kata-kata untuk sahabat sejati (14)kata sindiran halus (13)kisah sahabat sejati (13)kata sindiran (13)kata mutiara sahabat penghianat (13)sindiran untuk sahabat (13)cerpen sahabat penghianat (12)kata-kata sindiran untuk sahabat (11)kata sindiran buat sahabat (11)kalimat sindiran halus (11)kata2 sindiran untuk teman (10)pepatah sindiran (10)kata-kata sindiran untuk teman (10)cerita tentang persahabatan sejati (10)kata-kata sindiran buat teman (10)cerita persahabatan di sekolah (1)sindiran kata untuk sahabat (1)sindiran halus buat teman yang selingkuh (1)puisi untuk orang munafik (1)Sms mutiara untuk shbt yg telah berubah (1)pantun kwn sejati (1)Motivasi buat sang penghianat cinta (1)kumpulan motto tentanp persahabatan (1)kata bijak sahabat penghianat (1)kata bijak untuk pembohong dan penghianat (1)kata nasehat untuk orang sombong (1)kata kata untuk menyindir sahabat (1)kata-kata bagus untuk menyindir orang (1)kata-kata status sahabat sejati (1)kata kata sindiran buwat cewek matre (1)kata2 bijak sindiran (1)kata2 bijak sindiran buat teman (1)Kata kata sindiran buat cewek sombong (1)kata-kata menyindir seseorang mantan] (1)www kata2 buat orang pelit (1)

Random Posts :

One Response to “Sahabat sejati bukan memberi pada saat orang meminta”

  1. ing posangi 10 November 2011 at 16:48 Permalink

    kata sindiran


Leave a Reply

*