June 8, 2010 | Posted in:Motivasi

Jason adalah siswa kelas dua SMU Coral Springs, Florida, yang sangat
cerdas. Dia selalu memperoleh nilai A untuk semua mata pelajaran di
sekolahnya.

Tidak aneh bila kemudian Jason bercita-cita masuk fakultas
kedokteran. Harvard University pun jadi impiannya. Namun, David
Pologruto, guru fisika-nya, hanya memberi nilai B pada Jason. Karena
sadar bahwa nilai itu bisa menghambat untuk meraih cita-citanya,
Jason menusuk gurunya dengan sebilah pisau dapur.

Kisah tragis yang diilustrasikan Sukidi dalam buku Kecerdasan
Spiritual tersebut seolah meruntuhkan mitos bahwa intellectual
quotient (IQ) adalah segala-galanya. Seseorang yang memiliki IQ
tinggi selama ini memang dianggap selalu akan sukses mengarungi
hidup. Namun, kisah Jason, dan berbagai studi lain yang menghubungkan
tingginya IQ dan kesuksesan seseorang, telah meruntuhkan keyakinan
yang muncul sejak perang dunia pertama tersebut.

Maka, pada 1995, Daniel Goleman memperkenalkan emotional quotient
(EQ) yang memperoleh sambutan dari beragam penjuru dunia. Dengan
tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, setidaknya seseorang bisa
terhindar dari kasus serupa Jason. Seseorang tidak hanya berpikir
secara rasional, tetapi juga mempertimbangkan aspek emosional sebelum
melakukan sesuatu.

Lantas, pada 2000 Danah Zohar dan Ian Marshall mempopulerkan
kecerdasan terbaru, yakni spiritual quotient (SQ) atau kecerdasan
spiritual lewat buku SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate
Intelligence. Para psikolog memandang kecerdasan spiritual ini
sebagai sebuah puncak kecerdasan dan bahkan lebih sempurna dari IQ
maupun EQ. SQ ini pernah ditafsirkan Marsha Sinetar, seorang
pendidik, pengusaha dan penulis buku laris, sebagai pemikiran yang
terilhami. Ia melibatkan kemampuan menghidupkan kebenaran yang paling
dalam pada diri seseorang.

Sebagaimana terjadi berbagai negara, di Indonesia belakangan ini
muncul berbagai lembaga pelatihan SQ. Dalam lembaga ini, para peserta
tidak hanya memperoleh teori, namun mempraktekkan beragam langkah
guna mempertinggi kecerdasan spiritual.

Yayasan Percikan Iman, Bandung, misalnya, menerapkan metode
keseimbangan ketika membimbing 70 peserta dalam satu kelompok. Kajian
yang dilakukan di Jalan Karanglayung nomor 7 itu meliputi masalah
spiritual, namun tidak melupakan aspek-aspek intelektual. Seluruh
kajian merujuk pada keharmonisan tiga unsur fundamenatal manusia
dalam perspektif Al Quran, yakni jasad, akal, dan spiritual.

Menurut Ketua Yayasan Percikan Iman Bandung, Aam Amiruddin, orientasi
semua materi adalah keseimbangan. Misalnya, materi tentang menuju
cinta Illahi, tasawuf sesuai tingkatannya, atau penyikapi kehidupan
akhirat. Semua itu hanya bisa diterima oleh pendekatan
spiritual. “Kehidupan akhirat itu aspek intelektualnya ada, tapi
lebih dominan spiritualnya,” Aam.

Hasil akhir dari pelatihan yang dirintis pada 1999 ini, kata
Aam, “Paling tidak muncul kesadaran bahwa tidak semua persoalan hidup
hanya bisa diselesaikan dengan pendekatan intelektual atau
rasionalitas.” Ada bagian-bagian yang memang harus diselesaikan
dengan pendekatan spiritual.

Aam mengaku sulit untuk memantau keberhasilan yang sifatnya pada
perilaku konkret. Sebab, rata-rata peserta lepas begitu usai
pelatihan. “Paling tidak, karena memiliki banyak tema, kami bisa
melihat orang tersebut punya keinginan lagi untuk mengambil tema
berikutnya atau tidak,” kata Aam. Untuk mengikuti pelatihan ini, kata
Aam, peserta individu hanya dikenai biaya Rp 75 ribu tiap paket
selama empat kali pertemuan.

Sementara itu Noertjahjo Adi Koesoemo menerapkan lima pola dalam
memberikan pelatihan SQ di lembaganya yang bernama Mahadibya Nurcahyo
Cakra. Lembaga ini memberikan pelatihan emosional metabolisme dan
manajemen kecerdasan spiritual.

Pola pertama yang diterapkan, kata Noertjahjo, berkaitan dengan
keseimbangan ibadah. Kedua, pola pikir. Ketiga, pola aktivitas
istirahat. Keempat, pola makan. Dan kelima, pola aktivitas
olahraga. “Bagaimana dia menyadari tubuh sebagai sarana ibadah?
Bagaimana olahraga untuk menjaga tubuhnya?” katanya.

Pelatihan yang dipandu sepuluh tutor, kata Noertjahjo, berlangsung
dua hari di Jakarta dan tiga hari di Lembang. Biaya pelatihan di
Jakarta sebesar Rp 800 ribu. Sedangkan untuk Lembang, biayanya Rp 2,5
juta. Peserta akan menginap selama tiga hari dua malam di kawasan
atas kota Bandung ini.

Hasil akhir yang diperoleh dari latihan ini, katanya, lebih banyak
pada penguasaan emosi dan kerendahan hati. Setelah berlatih, orang
juga akan menjadi lebih pandai melakukan komunikasi, yakni menjadi
pendengar yang baik dan membuat bahasa yang sederhana.

Hasil latihan lainnya, kata Noertjahjo, seseorang akan mampu berbagi
amal dan perbuatan. Orang pandai dalam ilmu pengetahuan dan rendah
hati, tetapi tidak berbagi dengan orang lain dan tidak membantu orang
lain, menurut Nur Cahyo, “maka itu tidak akan kembali kepada
kecerdasan spiritual.” rurit/hilman

Berapa Nilai Kecerdasan Spiritual Anda?

Untuk menilai tingkat kecerdasan spiritual, ada 25 pertanyaan yang
dikemukakan Khalil A Khavari berikut ini. Anda bisa menjawab selalu,
sering, kadang-kadang, atau tidak pernah.

1 Apakah Anda berdoa setiap hari?
2 Apakah Anda berada dalam perjalanan menjadi baik?
3 Apakah Anda memiliki keberanian untuk berpendirian pada kebenaran?
4 Apakah Anda membimbing kehidupan Anda sebagai makhluk spiritual?
5 Apakah Anda merasa memiliki ikatan kekeluargaan dengan sesama
manusia?
6 Apakah Anda menganut standar etika dan moral?
7 Apakah Anda merasa cinta kepada Tuhan dalam hati Anda?
8 Apakah Anda menahan diri untuk tidak melakukan pelanggaran hukum
meskipun Anda dapat melakukannya tanpa risiko kena sanksi?
9 Apakah Anda mempunyai kontribusi terhadap kesejahteraan orang lain?
10 Apakah Anda mencintai dan secara aktif ikut melindungi planet
bumi?
11 Apakah Anda mengurus kesejahteraan binatang-binatang?
12 Apakah perbuatan Anda sesuai dengan kata-kata Anda?
13 Apakah Anda bersyukur atas keberuntungan Anda?
14 Apakah Anda jujur?
15 Apakah Anda amanah (memegang janji)?
16 Apakah Anda toleran terhadap perbedaan?
17 Apakah Anda antikekerasan?
18 Apakah Anda bahagia?
19 Apakah Anda tawadlu (rendah hati)?
20 Apakah Anda hemat, sehingga tidak konsumtif dan boros?
21 Apakah Anda dermawan? Apakah Anda berbagai keberuntungan dengan
orang lain?
22 Apakah Anda sopan?
23 Apakah Anda dapat dipercaya?
24 Apakah Anda seorang yang terbuka saat Anda berinteraksi dengan
orang lain?
25 Apakah Anda sabar dalam keadaan yang berat?

Masing-masing memiliki standar nilai: 4 (selalu), 2 (sering), 1
(kadang-kadang), dan 0 (tidak pernah). Jika total nilai Anda mencapai
seratus, kata Khalil Khavari, “Anda memiliki kecerdasan spiritual
yang luar biasa!” (Sumber: Kecerdasan Spiritual oleh Sukidi)

4 Comments

  1. berita terbaru
    September 19, 2010

    apa yang ada di postingan ini benar adanya, saya setuju dengan anda.

  2. berita indonesia
    September 29, 2010

    trims buat postingani ini, mampir juga ke blog saya ya.

  3. resep nasi uduk jakarta
    May 26, 2011

    Keren mas, saya baru tau tentang ini

  4. Cak Supri
    January 17, 2012

    Sangat menarik! Sekedar utk melengkapi perlu pula baca buku “Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan”

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>