Oleh : Hafiiz Yusuf

Kota yang tak pernah benar-benar tidur

Orang silau karena memandang cahaya yg terang benderang. Matanya berkedip-kedip menyipit menghindari cahaya yg berlebih. Orang silau tidak bisa melihat suatu objek dengan jelas.

Saya dulu juga sempat silau. Bukan karena cahaya, tapi karena gemebyar yang bernama Jakarta. Jadi saat itu saya bekerja di sebuah kabupaten muda bernama Mukomuko. Wilayah paling utara dari Propinsi Bengkulu. Untuk mencapainya diperlukan 7 jam perjalanan darat dari Bandara Fatmawati Bengkulu. Tentu tak perlu diceritakan berbagai keterbatasan di kabupaten muda pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara ini. Terbatas segalanya. Tidak ada es krim Walls saat pertama saya kesini. Tiada penglipur lara

lalu Saya beberapa kali mengikuti diklat di kantor pusat. Di Jakarta. Saya selalu senang dapet diklat di Jakarta. Bertemu dengan teman-teman seangkatan yg berada di Jakarta, refreshing dan jalan-jalan. Bisa sekalian mudik juga ke Jawa Timur.

Pada siang hari saya mengikuti materi diklat. Dan pada malam harinya, teman-teman mengajak saya jalan-jalan, makan dan nonton film. Kami bersenang-senang sepenuh hati. Saya menikmati Jakarta di malam hari. Jakarta yg kerlip-kerlip berpendar cantik. Tanpa kemacetan, tanpa melihat sampah, tanpa melihat kolong jembatan. Jakarta yg adem dan menyala terang. Saya mengibaratkan kota itu layaknya magnet, yg menarik banyak orang untuk datang kesana. Atau seperti lilin menyala, yg mengundang laron-laron mendekat. Tanpa si laron menyadari kalo panasnya api lilin bisa membakarnya.

Dan saya melihat teman-teman yg di Jakarta diliputi kemakmuran. Hidup dalam limpahan kebahagiaan. Wajah ceria, prejengan stylis, klimis dan wangi. Uang banyak, mau makan tinggal tunjuk. Mau hiburan tinggal sebut. Mau mudik tinggal pilih angkutan.

Disitulah saya beranggapan betapa enaknya Jakarta dibandingkan Mukomuko. Dua lokasi yg terpisah 800 km.

Andaikan saja… Ndah neyo..

Dan saat itulah saya silau. Silau dengan gemerlapnya lampu kota. Sehingga tidak bisa melihat dengan jelas.

Orang bijak pernah berkata ” wong kui sawang sinawang” .
Rumput tetangga lebih hijau.
Saya melihat orang lain hidup enak, padahal bisa jadi orang lain justru melihat hidup saya yg lebih enak

Kemudian saya alhamdulillah pindah ke Surabaya. Saat itulah pandangan saya terbuka. Dibalik  terangnya Jakarta terdapat gelap di kiri dan kanannya. Cerita tentang macet yg sudah jamak menjadi berita. Masalah sampah, masalah banjir. Lalu juga kriminalitas. Berbagai problem sosial. Belum lagi beban kerja yg lebih tinggi. Ketika saya masih menikmati indomie goreng di warkop sebelah kost pagi-pagi, teman di Jakarta sudah bermacet ria berangkat ke kantor. Ketika saya  sudah asyik menikmati semangkok indomie rebus di warkop pinggir jalanan Surabaya sore selepas jam kerja, teman-teman di Jakarta masih berkutat dengan pekerjaan yg menumpuk atau masih memelototi monitor. ( hmmm ini kok pagi sore makan mie instan terus?? ).

Akhirnya hal terpenting yang bisa saya lakukan adalah bersyukur. Dimanapun saya bekerja, Saya akan berusaha sebaik mungkin.

NB : salah satu impian saya adalah nonton bioskop velvet class di CGV Blitz. Hal yg belum kesampean sampe sekarang. Padahal udah berkali-kali ke Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ERROR: si-captcha.php plugin: GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them to enable GD image support for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin: imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them to enable imagepng for PHP.

Archives
Categories