August 5, 2009 | Posted in:Motivasi

Ibnu ‘Arabi yang di kalangan para akademisi sering digelari as-Syaikh al-Akbar semasa perjalanannya di Tunisia pernah bertemu dengan seorang nelayan pengabdi Tuhan yang memilih untuk menjalani cara hidup yang sangat sederhana. Nelayan itu tinggal di sebuah gubuk yang terbuat dari lumpur kering. Setiap hari ia melaut dengan perahunya untuk menangkap ikan dan seluruh hasil tangkapannya hari itu akan ia sedekahkan kepada orang-orang miskin. Ia sendiri hanya mengambil sepotong kepala ikan untuk direbus, sebagai makan malamnya yang sangat sederhana.
Nelayan itu kemudian belajar kepada Ibnu ‘Arabi, dan selang berlalunya waktu ia sendiri pun ternyata menjadi seorang syaikh. Kemudian, pada suatu ketika, salah seorang murid dari nelayan itu harus mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu lalu meminta muridnya menemui Ibnu ‘Arabi untuk memintakan nasihat bagi dirinya. Sang nelayan, yang merasa bahwa telah bertahun-tahun ini perkembangan jiwanya tidak lagi mengalami kemajuan, membutuhkan nasihat dari Ibnu ‘Arabi.
Ketika si murid sampai di kota tempat tinggal Ibnu ‘Arabi, segera ia menanyakan tempat di mana ia bisa menemui beliau. Orang-orang di kota menunjuk ke puncak bukit, ke sebuah puri yang tampak seperti istana, dan mengatakan bahwa di sanalah tempat tinggal Ibnu ‘Arabi. Dia sangat terkejut melihat betapa tampak sangat duniawinya kehidupan Ibnu ‘Arabi, apalagi jika dibandingkan dengan guru tercintanya sendiri, yang hanya seorang nelayan sederhana.
Dengan enggan ia melangkahkan kakinya ke arah puri itu. Sepanjang perjalanan ia melalui ladang-ladang yang terawat baik, jalan-jalan yang indah, dan kumpulan-kumpulan domba, kambing, dan sapi. Setiap kali ia bertanya, ia selalu memperoleh jawaban bahwa pemilik semua ladang, lahan, dan ternak itu adalah Ibnu ‘Arabi. Ia bertanya-tanya sendiri, bagaimana mungkin seorang yang sangat materialis seperti itu bisa menjadi seorang sufi terkemuka.
Sesampainya di puri, apa yang paling ditakutinya terbukti. Di sana terlihat kekayaan dan kemewahan yang belum pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpi-mimpinya. Dindingnya terbuat dari marmer dengan ornamen yang diukir dan disusun. Lantainya ditutupi karpet-karpet yang tak ternilai. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra, yang bahkan lebih indah dari pakaian orang-orang yang paling kaya di kampungnya. Ketika menanyakan Ibnu ‘Arabi, dikatakan kepadanya bahwa majikan mereka sedang mengunjungi khalifah[8] dan akan segera kembali. Setelah menunggu sebentar, tak lama kemudian terlihatlah olehnya sebuah arak-arakan yang mendatangi puri tersebut. Awalnya tampak pasukan kehormatan dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, duduk di punggung kuda-kuda Arab yang indah. Kemudian terlihatlah Ibnu ‘Arabi, dalam jubah sutra yang luar biasa, mengenakan sorban yang layak untuk menjadi sorban seorang sultan.
Ketika si darwis muda telah diantar menghadap kepada Ibnu ‘Arabi, para pelayan lelaki yang tampan dan gadis-gadis pelayan yang cantik segera membawakan mereka kopi dan kue-kue. Si darwis muda pun menyampaikan pesan gurunya. Ia begitu terkejut dan geram ketika Ibnu ‘Arabi mengatakan kepadanya, “Sampaikan kepada gurumu, masalah dirinya adalah bahwa ia masih terlalu terikat kepada keduniawian.”
Sekembalinya ia ke kampungnya, gurunya ingin sekali mendengar hasil perjalanannya, apakah ia telah bertemu dengan al-Syaikh al-Akbar. Dengan enggan ia menjawab bahwa ia memang telah berhasil menemuinya. “Nah, bagaimana, apakah beliau menitipkan nasihat untukku?”
Sang darwis mencoba untuk menghindar dari keharusan mengulangi teguran Ibnu ‘Arabi kepada gurunya. Nasihat itu dirasakannya sungguh tidak pantas, mengingat betapa berlimpahnya kemewahan Ibnu ‘Arabi dan begitu asketiknya kehidupan gurunya. Di samping itu, ia khawatir akan membuat gurunya tersinggung dengan mengucapkan kembali nasihat yang semacam itu.
Sang nelayan terus memaksanya bercerita, hingga akhirnya si darwis muda menyampaikan juga apa yang dikatakan Ibnu ‘Arabi kepadanya. Meledaklah tangis sang nelayan mendengar teguran Ibnu ‘Arabi kepadanya. Muridnya, darwis muda itu, terheran-heran dan bertanya, bagaimana mungkin Ibnu ‘Arabi, yang hidup dalam kemewahan seperti itu, berani menasihati gurunya bahwa ia masih terlalu terikat kepada keduniawian. “Ia benar!” kata si nelayan, di sela-sela tangisnya. “Ia sungguh tidak peduli sama sekali dengan semua yang ada padanya. Sementara aku, ketika setiap malam menyantap kepala ikan, aku masih saja berharap seandainya saja kepala ikan itu adalah seekor ikan yang utuh.” []

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>