October 5, 2009 | Posted in:Motivasi

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi
mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan
dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan
seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik.

Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus
ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :

‘Ya, ampuunnnn………. darimana saja kamu, kawan? Baru
tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet
dan….. bau!

Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan …. Ada apa denganmu?’

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan
nelangsa.

Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata :

‘Ya, beginilah nasibku, kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga
hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus

Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal.
Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam.

Plastiknya basah, penuh dengan darah dan taik ayam. Besoknya lagi, aku
dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci
tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi
uduk, dari sana
saya hijrah ke kemben Inang-inang.

Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal,
lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung,
diremas-remas…….

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin.:

‘Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan
pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di
dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang
wanita cantik. Hmmm… dompetnya harum sekali. Setelah dari sana , aku lalu
berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke
restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan
di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh
aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan…… aku jarang lho ketemu
sama teman-temanmu.’

Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya :

‘Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman.
Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada
kamu!’

‘Apa itu?’ uang seratus ribu penasaran.

‘Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau di
tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat
itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana…..’

Inilah sebenarnya kehidupan kita, Orang yang kaya ibarat uang 100 Ribu, orang jarang mau mendekatinya apalagi berteman dengan mereka, tentu ada perasaan sungkan. Sementara uang Seribu ibarat orang yang miskin. mempunyai banyak teman, dan di mana-mana sering bertemu temannya. Bahkan dia banyak memberikan manfaat kepada orang lain.

Kita yang mungkin menjadi uang 100 Ribu, seharusnya bisa bersikap layaknya uang seribu, yang tidak pernah memilih – milih teman. Jika perlu selalu bersikap layaknya uang seribu. Bukankah kita semua ini dasarnya miskin, lemah, dan bodoh. Kalau ada kelebihan sedikit atau banyak bukankah itu hanya dari Allah

Be the first to comment.

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>