March 27, 2010 | Posted in:Motivasi

Pertama kali mendengar buku dengan judul Chicken Soup for the Soul, tidak
ada satupun kesan khusus yang membuat saya tertarik dengan buku ini. Namun,
begitu menemukan ada banyak sekali penulis, pembicara dan konsultan kejiwaan
yang mengutip buku ini, saya coba untuk membaca buku ini secara cepat di
toko buku. Eh, malah tertarik dan keterusan sehingga membeli seluruh seri
buku ini.

Ada banyak cerita dan pengalaman menarik, ditulis oleh banyak sekali manusia
yang mau berbagi pengalaman kehidupan. Sungguh, disamping gaya bertuturnya
yang tidak menggurui, buku ini banyak memberi vitamin terhadap jiwa saya.

Ada sebuah cerita yang mengendap terus di benak saya sampai sekarang.
Seorang anak yang merasa memberi terlalu sedikit untuk sang Ibu selama
hidup, suatu hari datang ke panti jompo tempat sang Ibu dititipkan untuk
pertama kalinya. Menyadari bahwa salah satu kesenangan Ibu ini adalah
memakan es krim, maka dibawa sertalah beberapa es krim. Karena umur yang
demikian tua, Ibu terakhir sudah tidak mengenali siapa-siapa. Kendati diajak

bicara dengan suara keras sekalipun, ia tidak akan dengar.
Sesampai di panti jompo, sang anak memperkenalkan dirinya bahwa ia adalah
puteri bungsunya. Sebagaimana jawaban ke setiap orang yang datang, Ibu ini
hanya bisa menjawab tersenyum. Ketika es krim diletakkan ke tangan sang Ibu,
langsung saja ia memakannya penuh kenikmatan. “Senang sekali rasanya melihat
Ibu enak memakan es krim pemberianku”, demikian anak ini menulis. Beberapa
menit setelah es krim ini habis, sang Ibu menoleh ke anaknya sambil berucap
lirih: “Betapa nikmatnya hidup ini jika saya memiliki seorang puteri sebaik
Anda”. Dengan air mata yang tidak bisa ditahan, pemberi es krim tadi pergi
ke toilet sambil menangis. Dan yang membuat cerita ini mengharukan, sesaat
setelah kembali dari toilet sang Ibu sudah menghembuskan nafasnya yang
terakhir.

Cerita riil ini, sangat menggugah jiwa saya. Dengan penuh rasa syukur pada
Tuhan, saya sangat beruntung membaca kisah ini tatkala Ibu kandung dan Ibu
mertua masih hidup dan bisa mengenali anaknya. Sebagai manusia biasa, kedua
Ibu yang amat berharga bagi saya ini, memang mempunyai banyak kekurangan.
Salah satunya malah buta huruf seumur hidup. Namun, setelah membaca cerita
di atas, saya berjanji dengan diri sendiri untuk memberikan sebanyak mungkin
yang saya punya, kepada dua orang Ibu ini.

Saya tidak tahu, apakah jiwa Anda tergugah atau tidak dengan cerita di atas.
Akan tetapi, sebagaimana tubuh fisik kita, yang membutuhkan sejumlah vitamin
agar bisa hidup sehat, jiwa kita juga saya kira membutuhkan vitamin dalam
wujud yang lain.

Buku harian saya sebagai konsultan manajemen SDM, mencatat beberapa hal yang
mungkin bisa berguna bagi Anda.

Pertama, ada beberapa tempat dan kejadian dalam kehidupan yang bisa memberi
vitamin pada jiwa. Tempat pertama adalah rumah sakit. Di rumah yang
sebenarnya tidak sehat ini, sering saya bertemu dengan orang-orang dengan
beban kehidupan yang amat berat. Setiap kali mau makan makanan enak, meminum
minuman lezat, atau mengumbar banyak nafsu, memori saya tentang rumah sakit
bisa menjadi rem yang amat pakem. Tempat kedua yang sama pentingnya adalah
kuburan. Setiap kali lewat di tempat peristirahatan terakhir ini, saya
diingatkan bahwa setiap orang akan terbaring tanpa daya di situ. Ini juga
rem kejiwaan yang amat pakem. Terutama karena diingatkan akan “tabungan
akhirat” saya yang masih perlu ditambah.

Disamping tempat, ada dua kejadian yang bisa memberi vitamin lumayan pada
jiwa yakni kematian dan kesulitan hidup. Kematian siapapun, sebagaimana kita
rasakan, memberi refleksi ke yang masih hidup, bahwa manusia semuanya akan
tamat riwayatnya. Stephen Covey pernah memberikan pertanyaan yang amat
menggugah di sini: “Anda mau dikenang sebagai manusia macam apa?”

Sama mujarabnya dengan kematian, kesulitan-kesulitan hidup sebenarnya juga
sejenis vitamin jiwa. Saya pernah mengalami jiwa yang amat tersiksa ketika
tinggal numpang di rumah saudara. Perlakuan anaknya yang demikian kasar,
membuat saya bertekad agar kejadian yang sama tidak terulang di rumah saya
oleh siapapun kelak.

Kedua, ada sejumlah organ dalam tubuh kita yang sebaiknya dibuka agar
vitamin jiwa bisa masuk. Ken Blanchard dalam jurnal Personal Excellence
edisi Juli 1998 menulis: “A Person’s mind is like a parachute: unless it is
open, it doesn’t function.” (Benak manusia seperti parasut: hanya berfungsi
jika terbuka). Kepala, telinga, perhatian dan mata sebagian dari unsur-
unsur mind adalah kumpulan organ yang sebaiknya dibuka buat orang dan ide
lain. Manusia-manusia yang mind-nya tertutup, tidak saja egois, miskin teman
dan mudah stres, namun mumngkin sekali memiliki jiwa yang kering.

Ketiga, seorang wanita yang amat berpengaruh dalam kehidupan saya,
mengajarkan untuk banyak memaafkan dan memberi tanpa meminta imbalan. Harus
saya akui, belum sempurna memang. Akan tetapi, ada banyak sekali species
stres yang lenyap dari kehidupan saya begitu sesaat sebelum tidur memaafkan
siapa saja yang pernah salah, dan belajar mengingat yang baik-baik saja dari
setiap orang.

Saya memang masih jauh dari sempurna. Wika puteri saya bahkan sering
mengritik saya. Tetapi, sebagaimana tubuh yang membutuhkan vitamin setiap
hari, bukankah jiwa kita juga memerlukannya?

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

1 Comment

  1. CredAgepe
    January 26, 2011

    Ya, mungkin karena itu

Leave a Reply

*


ERROR: si-captcha.php plugin says GD image support not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why GD image support is not enabled for PHP.

ERROR: si-captcha.php plugin says imagepng function not detected in PHP!

Contact your web host and ask them why imagepng function is not enabled for PHP.


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>