Salmafina Pindah Agama. Terus kenapa…????

Teman bertanya “Kang, soal hadits soal halal darah orang murtad, sahih apa ngga sih?
“hmm ini bukan soal sahih atau tidak melainkan soal konteks. Iya, seingatku haditsnya sahih tetapi ada konteks perang di situ.” Balas Kang Jep sambil menyesap kopinya”
“Ada beberapa orang murtad di zaman Nabi tetapi dibiarkan karena memang tidak dianggap berbahaya. Dan sebelum bicara tentang hadits, harus paham juga menurut AlQuran. Di Al Quran, Nabi justru tidak boleh khawatir pada orang-orang yang murtad. Artinya tidak ada hukuman untuk orang murtad. Dan benar-benar tidak ada paksaan dalam hal agama. Lagipula, ada istilah lain yang digunakan di Al Quran untuk orang yang berpindah agama, yakni Shabi’in.”
“Murtad sendiri sebenarnya artinya bukan orang yang keluar dari Islam tetapi orang yang berbalik. Artinya dari agama lain masuk Islam, lalu keluar lagi.”

“oo gitu Kang. Eh saya gugling soal surah Al Isra 33, banyak ditafsir alasan kuat membunuh, salah satunya kalo murtad.” Teman tersebut masih penasaran.
“Nggak ada kata “murtad” di ayat tersebut.” Sahut Kang Jep cepat.
“Al-Baqarah ayat 256, Laa ikraha fid-diin (tidak ada paksaan dalam agama), suruh belajar lagi deh kata murtad alias ridda.
“Ngeri ya.. kalo didiemin bisa jadi genosida berkedok agama” Teman tercenung

Coba cek ini : https://bincangsyariah.com/khazanah/dua-penulis-wahyu-yang-murtad/
sama ini https://islami.co/reaksi-nabi-ketika-sebagian-sahabat-murtad/ , Kang Jep menunjukkan link URL website.  

“Maksudnya di tafsirannya Kang, kalo ayatnya sih emang ngga ada”

“Yang kagak bisa langsung begitu aja. Alasan yang dibenarkan itu tafsirannya luas banget. Ujung-ujungnya dia langsung loncat ke hadits tanpa konteks, kan ?” Kang Jep menjawab santai, sambil sesekali melihat ponselnya.
“ Hadits itu bukan cuma soal shahih atau tidak tetapi juga lihat konteks juga. Lalu dilihat juga keterangan yang bertentangan dengannya.”
“ Nih : https://tafsirweb.com/about  ..” lanjut Kang Jep. Lihat keterangan, siapa yang bikin tafsirnya.
“kecuali dengan alasan syar’i seperti membunuh orang murtad… darimana ya tafsirannya bisa nyampe situ.”
“karena memang seluruh ulama zaman dahulu menganggap murtad itu halal. Maksudnya halal untuk dibunuh. Tapi masalahnya bukan soal Wahabi. Mereka berasal dari wilayah yang memang Islam sangat mayoritas. Tidak ada masalah dengan keberagaman penduduk seperti Indonesia.”
“Hal-hal kayak begini gak bisa diselesaikan dengan perdebatan. Ini masalah pendidikan. Makanya aku gak setuju pendidikan agama dihapus. Pendidikan agama justru harus ada tetapi isinya yang harus dibuat efektif, sesuai dengan kondisi di Indonesia. “ Kali ini Kang Jep lebih serius, nada kalimatnya ada penekanan.

“Kau gak bisa berdebat dalil naqli dengan mereka. Karena kalau berdebat dalil naqli, niscaya kau akan kalah. Yang harus dirombak adalah cara memahami dalil-dalil tersebut, memahami konteks ketika Nabi memutuskan itu.” Kang Jep menarik nafas sejenak.
“Cara paling gampang saja deh, kalau ingin belajar agama Islam, pelajarilah masa Umar Ibn Khattab. Itu masa ketika sahabat berani berijtihad, berani membuat bid’ah, berani membuat keputusan yang jauh berbeda daripada masa Rasulullah.” Lanjutnya.


“Jadi kudu tahu kapan atau pas kejadian apa hadits atau ayat Qur’an turun ya Kang” Tanya teman tadi.
“Iya dan tidak terbatas itu. Juga harus bisa mengira-ngira apakah masih relevan dengan masa sekarang kondisinya.”
“Biasanya orang yang doyan tafsir harfiah bakal bilang, “pendapat Umar itu didengarkan oleh Allah, kritikan Umar dibenarkan oleh Allah jadi ijtihad Umar nyaris setara dengan Rasulullah”,
“tapi aku bakal membantah, bahkan ijtihad Umar pun tidak semuanya disetujui sahabat-sahabat lain. Ada ijtihad-ijtihad yang dibantah hingga Umar tidak jadi menerapkan.”
“Ijtihad yang dilaksanakan, biasanya setelah melalui proses musyawarah dan disepakati. Jadi, sama seperti sekarang, sebuah aturan tidak bisa langsung diterapkan kecuali melalui proses musyawarah. Dalam hal ini, semua kelompok yang mendirikan negara Indonesia harus sepakat. Minimal wakil dari semua kelompok yang mendirikan negara Indonesia.”

“Nah, ini bedanya antara Indonesia dengan masa lalu.” Kang Jep menegaskan.
“Di masa lalu, Nabi membuat perjanjian dengan para ahli Kitab di mana masing-masing menjalankan hukum-hukumnya sendiri. Jadi tiap komunitas berbeda-beda. Hanya untuk urusan pertahanan, mereka akan sepakat, dan beberapa urusan yang memang ada pengaduan.
“Jaman Umar (dan penerusnya) juga sama. Setiap umat agama punya hukum sendiri. Kecuali kalau ada pengaduan, misalnya seorang wanita Yahudi memprotes hukum waris Yahudi. Itu pun, Umar berdebat dahulu dengan para pemuka Yahudi tentang kedudukan Mishnah. Setelah itu barulah pemuka Yahudi menyetujui keputusan Umar. Tanpa itu, hukumnya berjalan sendiri-sendiri.”

Kang Jep menyeruput kopinya lagi. “Urusan pajak misalnya. Hukumnya berbeda antara Islam dan non-Muslim. Islam pakai zakat, non-muslim pakai Jizyah dan/atau kharaj. Itu pun setiap suku harus didiskusikan istilah dan besaran pajak yang ditarik. Ada yang tidak mau pakai nama ‘jizyah’ tetapi pakai istilah ‘zakat ganda. Namun, pemisahan itu biasanya karena komunitas-komunitas non-Muslim tidak ikut berperang. Jadi jizyah dan kharaj itu karena tidak perang. Umumnya, ulama zaman dahulu berpendapat, kalau non-Muslim ikut perang maka tidak ditarik Jizyah.”

“Nah, kembali ke urusan Indonesia. Apa kesepakatan yang secara legal membuat negara bernama Indonesia?” Babeh melemparkan pertanyaan.
“Rapat BPUPKI dan PPKI yang hasilnya adalah Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. “Siapa yang berperang atas nama Indonesia? Orang-orang Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, kepercayaan.
Artinya, hukum yang berlaku di Indonesia adalah hukum yang sudah disepakati oleh wakil-wakil dari seluruh golongan itu. Gak bisa hanya karena Islam jadi mayoritas lalu asal kutip ayat Alquran dan Hadits lalu jadi ketentuan. Wakil dari non-Muslim juga harus setuju.”
“Gini..” Lanjut Kang Jep, “Di masa lalu saja, setiap urusan yang terkait non-Muslim, Umar dan khalifah-khalifah setelahnya harus ngobrol dengan perwakilan dari komunitas itu. Nah, konteks murtad itu adalah ketika murtadnya membahayakan negara. Misalnya, di masa perang Salib, murtad yang dihukum mati adalah ketika ia murtad menjadi pemeluk agama yang dipeluk oleh musuh.”
“Atau di masa Umar, murtad yang diancam hukuman mati adalah ketika yang murtad itu kepala suku perbatasan Romawi.”
“Dan ulama-ulama zaman dahulu itu, walau mereka bilang hukuman mati untuk orang murtad sekalipun, mereka gak bisa menjatuhkan hukuman kecuali khalifah atau amir sudah setuju. Dan tentu saja khalifah baru akan setuju kalau memang membahayakan stabilitas.”
“ Analoginya kalau untuk Indonesia, murtad itu akan berbahaya kalau dia memeluk sekte yang diduga mengancam stabilitas negara, misalnya… menjadi pendukung khilafah macam HTI, masuk aliran pendukung NIIS (ISIS), atau menjadi penganut komunis.”
“Kalau cuma urusan Salmafina masuk agama lain, bahaya apa yang membahayakan Indonesia? Nggak ada.” Pungkas kang Jep.
“Toh, gerejanya diakui oleh Negara. Nah, hal-hal kayak begini gak bisa diperdebatkan di media sosial. Ini harus ditanamkan oleh negara lewat pendidikan. Termasuk lewat pendidikan agama. Gak bisa dilepas.” Tambahnya.

Resep Asem-Asem Anti Gagal, mampu meningkatkan stamina dan vitalitas

“Cara Mudah Masak Asem-Asem Ikan Tanpa Ribet”

Resep Asem-Asem Bandeng
(Tidak mutlak bandeng, bisa pakai ikan lain)
Bandeng ukuran 1 kg, potong jadi 5. Sisihkan.

Bumbu :
Bawang putih 4 siung
Bawang merah 5 siung
Kunir 1 atau 2 ruas
Kemiri 1 biji
Ketumbar secukupnya
Cabe sesuai selera, saya pakai 3 biji.
Laos, potong tipis-tipis
Bumbu diatas diuleg halus
Daun jeruk 5 lembar, uleg kasar
Tomat 1 buah, potong-potong
Masak air dengan api sedang. Air kurang lebih 5 gelas. Masukkan semua bumbu diatas ke dalam air. Ketika air mendidih, masukkan potongan bandeng. Kecilkan api. Tunggu hingga bandeng matang dan air sedikit berkurang. Tambahkan garam dan gula secukupnya.
Jika ada bisa ditambahkan potongan daun bawang

Kopi murah 10 ribuan di banjarmasin. Disini tempatnya

Roma Van Banua. Banjarmasin rasa Italia.

Ya, akhir-akhir ini beberapa kedai kopi baru bermunculan di Banjarmasin. Dalam radius yang tidak terlalu luas saja ada 2 atau 3 kedai kopi baru. Di satu sisi ini memanjakan para penikmat kopi dengan makin banyaknya pilihan. Di sisi lain, makin banyaknya kedai kopi berarti persaingan bisnis yang makin ketat.

Kali ini saya berkesempatan mencicipi salah satu kedai kopi yang baru buka awal 2019 lalu. Kedai bertajuk Metafora Kopistik ini terletak di Jl. Pulau Laut, RT.03/RW.01, Antasan Besar, Kota Banjarmasin. Agak susah mencarinya karena kedainya yang kecil dan tidak mencolok. Dari pertigaan SPBU Jalan S. Parman, masuk Jalan Pulau Laut. Setelah 300 meteran berhenti,  tengok ke kanan ada kantor notaris (Pejabat Pembuat Akta tanah) Methodius Mario Salim S.H. Nah sekarang tengoklah ke kiri. Metafora Kopistik tepat di seberang kantor notaris itu.

Tampak depan

Saya tidak akan membahas namanya yang unik ini. Entah apa pula maksud pemilik kedai dengan nama tersebut. Dari nama saja sudah rumit dan berfilosofi. Saya malas berpikir dalam-dalam.

Oke, jadi dari pandangan sekilas, untuk tempatnya bisa dikatakan seadanya. Benar-benar sederhana dan minim interior. Tempat duduk dan meja terbuat dari kayu. Kayu tanpa amplas dan pelitur. Yang dikerjakan layaknya membangun perancah kayu pada konstruksi bangunan. Kasar. Pun begitu dengan meja kasir dan dapurnya. Dibangun dengan bahan yang sama. Sempit, dan sedikit kusam. So, bagi adek-adek yang ingin ngopi sambil foto cantik instagrammable, lupakan tempat ini.

Hei tapi ada yang manis di salah satu dinding kedai ini. Tampak dipajang beberapa album CD dari band lokal. Tampilan cover dan kemasan CD cukup menarik. Tapi saya kesini untuk minum kopi, bukan mendengar musik.

Meja, kursi, dan CD band

Saya menuju kasir, memesan minuman. Penjaga kedai menunjukkan daftar menu di dinding belakang meja. Daftar menu ditulis pada sebuah papan triplek, dengan tulisan berantakan.  Sepertinya kedai ini konsisten dengan kesederhanaan dan seadanya. Saya memesan es kopi susu.

Baiklah, pesanan datang. Gelas plastik berisi cairan berwarna coklat muda dan es batu. Beserta sebatang sedotan.  Mencoba melupakan semuanya saat cicipi es kopi susu ini. Apakah rasanya sesederhana kedainya. Sesapan pertama, hmm rasanya cenderung pahit. Saya kocok, supaya gulanya tercampur. Sesapan kedua, terasa lebih manis dari yang pertama. Rasa pahit espresso terbayang samar. Enaaak. Cocok dengan selera saya.

Ini benar sesuai judul. Es kopi susu. Dengan base espresso, ditambah susu full cream, gula dan es batu. Rasa pahit kopinya kuat, susunya gurih, dan gulanya pas. Karena saya dulu di tempat lain pernah pesan kopi susu , eh begitu diseruput yang terasa malah susu kopi. Dengan gula yang terlalu dominan.

Saya ngobrol-ngobrol dengan penjaga kedainya. Memang awalnya ini dari ide bersama-teman-teman se-geng. Mereka sering nongkrong di kedai kopi, punya orang lain. Lalu muncul ide, kenapa gak bikin tempat nongkrong sendiri. Seadanya dulu, yang penting segera berdiri dan jalan. Dan jadilah Metafora Kopistik ini.

Dari segi harga cukup murah. Harga menunya 10-15 ribuan. Menyediakan juga menu non kopi sepeti milk shake, matcha, dan teh. Dengan citarasa yang enak dan harga murah, kedai ini layak dicoba. Bonusnya bisa ngobrol hangat dengan penjaga kedai. Terus terang, dari segi tempat sedikit kurang nyaman. Tapi  termaafkan dengan kopi enak, harga ramah kantong, dan obrolan hangat penjaga kedai.
 
Es Kopi Susu : Rp. 10.000
Lokasi : https://goo.gl/maps/9PLLiQFLgC9LovHe9
Plus :
harga bersahabat, rasa nikmat, penjaga ramah
Minus :
parkiran sempit, sedikit gerah saat siang hari.
Jam buka :
14.00-24.00 (weekday), 17.00-02.00 (weekend)
Instagram :
metaforakopistik.coffe

Ada 7 Kedai Kopi Baru di Banjarmasin. Yuk Intip

Roma Van Banua
Banjarmasin Rasa Italia

Bisnis kopi di Banjarmasin sedang naik daun. Banyak kedai kopi baru yg buka. Persaingan makin keras. Sejak akhir 2018 hingga Juni 2019, dalam catatan saya ada beberapa kedai kopi baru yang memulai bisnis. Yuk intip satu-satu.

1. Tawerna
Berlokasi di Jalan Bali No.50, Banjarmasin Tengah. Rasa kopi lumayan. Tempat juga nyaman, ber-AC dengan pencahayaan terang. Disediakan juga ruangan outdoor dengan beberapa bangku. Cukuplah jika ingin berfoto ria untuk posting Instagram. Harga standar, 15-25 ribuan. Oiya, ada jajanan telur gulung disini. Dicicip juga ya. Nilai lebih kedai ini adalah coretan-coretan di dindingnya. Ada yg tulisan anonim, ada pula yg mengutip tulisan penyair terkenal. Puas-puasin deh baca coretan dindingnya. Dari yang guyon receh jayus hingga yang punya makna dalam.

Instagram : @tawerna.coffee

2. Metafora Kopistik 
Kedai satu ini terletak di Jalan Pulau Laut. Mereka punya kopi manual brew yang enak, kopi susunya juga enak. Tapi tempatnya mirip Pos Kamling. Rada sempit dan gerah. Harga murah, mulai 10 ribu-15 ribu. Boleh saya katakan ini kopi yang bikin mikir. Dari namanya saja sudah Metafora.. entah metafor dari hal apa yang merepresentasikan tampilan kedai kopi ini. Buat tempat nongkrong se-komunitas mereka. Anak band indie tampaknya. Cukup ramai pengunjung hingga larut malam. Banyak yang ngobrol-ngobrol, tapi saya kesini buat ngopi, dan kopi mereka enak. Itu sudah cukup.

Instagram : @metaforakopistik.coffee

3. Stay With Me 
Yang ini tidak jauh juga dari dua tempat diatas. Terletak di sebelah Barat masjid Sabilal Muhtadin. Di deretan ATM Mandiri Drive Thru.
Baik, langsung saja. Kopinya enak, americano dan kopi susu signature SWM enak banget. Setiap pesen americano saya selalu minta double shot. rugilah kalo cuman satu, mumpung enak nih. Tempat nyaman, cozy. Bersih dan pencahayaan terang. Ada yang indoor, ada juga outdoor dengan meja dan kursi kayu. Harga rada mahal. 20  ribuan keatas.  Yeah, sepadan.
Kalo laper dan butuh makanan berat tidak perlu khawatir, ada penjual ricebowl di halaman depannya.

Gak tahu kenapa, tiap kesini saya merasa level kegantengan saya jadi naik 2 tingkat. Atmosfernya beda disini.

Tapi itu bukan bagian paling asyik. Moment terbaik disini itu ketika saya pesen americano, lalu adzan berkumandang. Saya memandang ke kubah Sabilal Muhtadin, trus bilang ke barista, ” mas saya tinggal dulu ya.”
Kemudian ikut sholat jamaah. Sujud. Kembali ke Stay With Me dengan perasaan lega, dan menemukan segelas americano sudah tersaji di meja.

foto : Instagram @staywithme.bjm

4. Relation coffe 
Kalo yang ini rada jauh dikit, di Jalan Kinabalu no 07. Tempatnya cukup nyaman dan terang. Bagian dalam lumayan lapang. Cukup leluasa untuk menampung banyak geng-mu jika rame-rame kesini. Rasa kopinya enak.. (ah kayaknya semua kopi enak deh hehehe). Nilai plusnya barista dan beberapa crew santai diajak ngobrol. Saya ngobrol lama dengan mereka. Menyenangkan sekali bertukar pikiran tentang bermacam hal. Kopi, Banjarmasin jaman dulu, sungai hingga masalah sampah. Selain kopi ada snack dan mie instan juga.

foto : instagram @relation.coffee

5. Biji Kopi
Ini di  Jalan Saka Permai. (Biji Kopi 2) Ini menurut saya pribadi ya. Pencahayaan kurang, kesannya jadi remang-remang. Gak suka dengan lampunya. Kopinya biasa aja. Tempat juga biasa. Harga murah. 10 ribuan. yang tubruk 5 ribuan. Gak ada yang berkesan bagi saya di sini. Mungkin yang patut dicoba adalah biji bean lokal Kalimantan, Aranio dan Pengaron.

foto : Instagram @biji_kopi_2

6. Whisper Coffe
Whisper berada di Jalan S. Parman. Sebelah fotokopy Kodim. Menu utama kopi dan burger. Kopi enak, gausah ditanya. Saya cobain burgernya, hmm enak kok, potongan patty-nya tebel. Disajikan panas mengepul dengan aroma smokey dari daging yang dipanggang. Tenang, harga standar kok. Tempat biasa sih. Agak sempit di bagian dalam. Terdia kursi juga di halaman.

foto : instagram @whisper.coffeeandburger

7. Moela
Tetanggaan sama Relation Coffe. Kurang lebih 500 meteran. Di perempatan Mulawarman. Sedia kopi dan snack. Kopinya belum coba. Kemaren saya mampir cobain Matcha, enak kok. Tempat biasa, mirip Whisper. Tapi lebih luas dan lapang. di dalam dipajang beberapa poster/lukisan. Harga standar. Kapan-kapan akan kesini lagi nyobain kopinya.

foto : Instagram @moela.coffee

Semuanya ini brand lokal Banjarmasin, bukan waralaba. Bayangin, dalam waktu sebentar saja, muncul 7 kedai baru. Dan itu  jaraknya gak terlalu jauh. Sebagai konsumen tentu saya merasa senang, makin banyak pilihaan . Semoga konsumen kopi di Banjarmasin juga makin berkembang


Maafkan Aku Tak Disana

Pagi itu, saat sedang asyiknya bekerja, Adi merasakan HP di kantong celananya bergetar panjang tanda ada telpon masuk. Tertulis kata rumah yang menerangkan telpon masuk berasal dari rumahnya di Bandung. “Halo, Assalamu alaikum” sapanya. “Wa alaikum salam. Ayah ini Arif” terdengar suara anaknya Arif yang sedang kebingungan.
Continue reading